Jumat, 31 Oktober 2025

KISAH TENTANG KEHIDUPAN, SI MULUT PEDAS

Sahabat Poker -  Selamat malam sobat Sahabatpoker perkenalkan saya Bejo, seorang mahasiswa yang luar biasa malah tergolong terlalu luar biasa karena sempat DO dan sekarang pindah di kampus yg sangat tidak terkenal. Saya dari dulu entah kenapa sangat malas jika sekolah, yah mungkin bawaan orok kali yah. Saya tinggal di kost yg tidak terlalu dekat dengan kampus.

Kedua orang tua saya sudah meninggal. Saya anak bungsu dari 5bersaudara. Semua biaya kuliah saya ditanggung oleh abang saya. Abang saya seorang pengusaha, beliau memiliki 2 orang anak. Putra putri yg keduanya sudah SMA dan tinggal di asrama. Nah.. Oomnya masih kuliah gak lulus-lulus, keponakannya udah SMA.

Cerita absurd ini mengenai hubungan saya dengan kakak ipar saya, istri abang saya yang membiayai hidup saya selama ini.

Kakak ipar saya, sebut saja Yanti yang kesehariannya seorang ibu rumah tangga sekaligus membantu abang saya dalam menjalankan usahanya. Kakak saya ini sangat spesial, iya spesial.. mulutnya itu udah kayak petasan cabai, cerewet dan pedas. Saya sendiri sedari masih tinggal bersama orang tua saya, sering jadi sasaran jika ada masalah.

Kejadian yang tidak disangka ini terjadi saat akhir tahun lalu, dimana kampus saya libur Natal 2minggu. Sebelum libur saya disuruh pulang, abang tau saya selalu malas ke rumah mereka karena kakak ipar saya itu. Haha.

Saat saya pulang di depan rumah mereka, saya dengar beberapa ocehan si mulut pedas. “Alamak, belum juga masuk udah denger yang begituan, masalah apa lagi sih” pikirku. Saat saya menguping, ternyata anak pertama mereka membuat masalah di asrama, sampai orang tua di panggil. Saat suasana agak tenang, saya berniat masuk.

“Assalamu’alaikum, bang aku pulang”

Mereka pun menjawab salam dan menyuruhku masuk, tapi baru juga duduk kakak ipar saya sudah ngoceh tentang anaknya dan menghubung-hubungkan kelakuan anaknya denganku.

“Tuh Jo, keponakanmu ikutan kelakuan kamu, cari masalah di asrama. Ini pasti kamu yang ngajarin ya”

“What the fuck” pikirku, ketemu aja setahun sekali, kontak ga pernah kok aku yang kena.

Setelah banyak makan ocehan, dan ditinggal masuk kamar. Otomatis saya cari nasi, tadi makan ocehan gak pake nasi.. jadi ga kenyang.

Setelah makan, saya pun istirahat sejenak sebelum bersih-bersih rumah 2 lantai yang mereka tempati. Btw, mereka punya 5 rumah yg berdekatan. Dan 3 rumah sudah di kontrakkan. Saat saya bebersih, saya dipanggil ke ruang tengah oleh kakak ipar saya.

“Jo.. kesini bentar, abangmu mau pergi nih”

Saya pun mendekat ke asal suara, dan kulihat abang saya sedang memakai sepatu bersiap pergi. Dia berkata “Jo, aku pergi dulu.. mau ngurus anak-anak di asrama. Paling 4hari lah, tapi kalo masalahnya berat ya sekalian cari sekolah baru. Nanti kalo abang belom pulang, kamu jangan balik dulu yah”. Aku pun hanya manggut-manggut.

Lalu abangku pun berangkat, aku bawa kopernya. Ku lihat suami istri itu, mereka mesra sekali padahal abis berantem. Kakak iparku mencium tangan abangku lalu mencium pipinya, abangku lalu masuk mobilnya dan berkata “jaga rumah ya”. Aku jawab “iya bang”.

Setelah abangku berangkat, aku pun masuk dan melanjutkan aktifitas sebagai orang numpang, yah apa lagi kalau bukan beres-beres. Tak lama aku pun dengar suara pintu kamar utama, kakak iparku sepertinya mau pergi. “Jo, aku pergi dulu. Kalo ada yang cari kakak, telpon atau bbm”. Aku iyakan saja, dalam hati bersorak hore gak liat kakak iparku itu untuk beberapa saat.

Setelah selesai bersih-bersih, aku pun ke rumah sebelah. Aku memang gak serumah kalau ditempat abangku ini. Aku nempati rumah yang tidak dikontrakkan, yang difungsikan untuk kumpul2 arisan atau pun sekedar pertemuan ibu2 komplek. Selesai tugas, aku pun bersantai sambil ngopi dan buka2 site yg hot.

Malam pun datang tapi kakak iparku belum pulang, sudah hampir jam 9 padahal. Ah tapi sudahlah, bukan urusanku juga.

Jam 9 lebih baru tidak seberapa lama aku mikir demikian, kakak iparku pulang dengan sehat wal afiat. “Njir aku kira dia lupa jalan pulang atau kenapa2 dari sore baru pulang”. Dia masuk sambil bawa 2 kardus kecil, lalu keluar lagi dengan wajah sengaknya dia teriak “Jo, kamu udah tidur kah? Kau ini gak makan apa, nanti kalo kamu mati kelaparan aku yang kena juga”.

Aku pun kembali asik dg hapeku yg memutar bokep bisu (silent mode). Kurang lebih jam 11 aku bangkit karena agak lapar “iyalah tadi cuma makan mie” pikirku, aku pun berniat ke rumah sebelah untuk makan. Ku ambil kunci cadangan yang selalu kubawa jika di rumah abangku, saat di depan pintu “kok tumben lampu belom pada mati” batinku.

Aku pun masuk, aku matikan lampu ruang tamu. Saat sampai di ruang tengah aku kaget liat kakak iparku tergeletak dan di dekatnya ada 2 minuman beralkohol yg mahal. “Weh pesta nih dia, atau mungkin lagi sebel karena anaknya bikin masalah?” Gumamku pelan.

Aku lihat sejenak kakak iparku ini, dengan umur 40an tapi bodynya lumayan juga kalo diliat2 lagi, emang sih gak pernah dandan seksi ala tante girang.

Dia berpakaian selalu sopan, meski di dalam rumah. Misal seperti sekarang yang memakai kaos panjang dan rok panjang yang longgar. Saat itu pikiran “nakal” belom mengambil alih. Aku berlalu ke dapur, makan dikit dan minum susu. Saat aku mau keluar, aku ngetem lagi ngliatin kakak ku yg “ngglosor” di depan tv.

Aku yang sudah cukup bernafsu melirik ke bawah, “hadiuh rok panjangnya kayak minta di lepas”. Mula aku takut untuk beraksi. Tapi setelah mengingat sikapnya selama ini, jadi kayak mau balas dendam dengan cara memperkosanya selagi mabok. “Ah bodo amat, itung2 balas dendam” pikirku sambil mengangkat badannya untuk melapas koas yg dikenakannya.

Sesaat setelah berhasil ku lepas kaos itu, aku terkagum melihat bukit kembarnya. “Besar kayak yang tadi kutonton nih” pikirku senang. Lalu ku buka bhnya dan “wow” seakan berhamburan kedua bukit itu. Tak mau berlama2 aku tarik rok dan CDnya juga. “Wow mulus” tak terduga, ternyata dari sikapnya yg sadis dia punya pusaka rahasia yg mulus.

Gak mau buang waktu, aku jilat dan tusuk vaginanya dengan jari tengahku. Sambil lidahku mencari kacang yg biasanya jadi pusat sensitif wanita. Ketemu. Aku sikat pakai lidahku, menarilah lidahku di sana.

Kadang aku hisap kuat. Ku dengar “ehhh hemmm” aku kaget dan kulihat wajah sange kakakku yg mulut bawahnya sedang aku mainkan dengan lidah dan jariku, dia masih terpejam, bahkan mulutnya pun masih rapat.

Aku yang memiliki body tinggi dan otot yg menonjol akibat latihan 5x seminggu di pusat fitness, akan mencoba hasil kerja keras ku membangunnya. Aku arahkan, pusakaku yg sudah tegang level max ke arah vagina yg terpampang di depannya. Saat penisku menyentuh bibir vaginanya, aku masukan pelan hingga mentok.

Ku ayun dengan irama yang tak menentu, sampai bosan. Lalu aku miringkan badan kakak iparku ini, aku naikan satu kakinya lalu ku hujamkan lagi pusakaku yang masih belom puas bermain di dalam goa hangat, seret dan becek milik kakak iparku ini.

“Oh kak yanti, andai mulutmu seenak memekmu aku bakal betah didekatmu” kataku sambil menghujam-hujamkan penisku ke lubang kakak ku.

Lama aku bolak balik badan kakakku dan aku hisap gigit buah dadanya yg ikut bergoyang sampai akhirnya aku K. O. di dalam memek basahnya yang legit.

Aku pun segera pakai bajuku dan kembali ke rumah sebelah setelah memakaikan kembali kaos dan roknya. Aku sengaja tak memakaikan dalamannya karena ribet dan kubawa dalamannya untuk ku buang di tempat sampah depan.

Saat aku kembali, kulihat waktu sudah jam 3. Aku buru-buru tidur agar besok tidak kesiangan. Tapi sayangnya aku tidak kunjung terlelap karena masih dihantui kejadian yg aku anggap nekad itu. Sampai adzan subuh terdengar, aku belum tertidur.

Setelah jam 5 aku bangkit dan mematikan lampu2. Aku pun ke rumah sebelah, mematikan lampu teras dan lampu samping. Saat lewat di ruang tengah, kakakku belum bangun. “Wah masih mabok nih sarang kontol” batinku dalam hati. Aku bangunkan kakak iparku ini, dengan wajah yg agak nyengir dia bangun dan berjalan ke kamarnya.

Pagi itu aku beres2 alat makan dan alat masak, menyapu rumah lalu kembali ke sebelah dan tidur. Capek oi, semalaman ga tidur.

Siangnya aku terbangun karena ada yg merasa aneh dg anggota badanku, yah tapi bukan kontolku sedang di sepong atau apa. Tapi badanku di goyang2 pakai kaki kakakku. Yah itu cara dia bangunkan aku.

“Bangun, orang kerjaannya tidur mulu. Cari kek kegiatan apa, jangan mentang2 libur jadi bisa santai terus ya!” Semerdu itulah bisikan yg berhasil membangunkan aku. Oh indahnya dunia, aku pun bangkit dan cuci muka. Aku lihat kakak iparku seperti menungguku, aku pun menemuinya. Tak ada suara keluar dari mulutnya hanya bermain hape yg dia lakukan.

Gak mau buang waktu, aku jilat dan tusuk vaginanya dengan jari tengahku. Sambil lidahku mencari kacang yg biasanya jadi pusat sensitif wanita. Ketemu. Aku sikat pakai lidahku, menarilah lidahku di sana.

Kadang aku hisap kuat. Ku dengar “ehhh hemmm” aku kaget dan kulihat wajah sange kakakku yg mulut bawahnya sedang aku mainkan dengan lidah dan jariku, dia masih terpejam, bahkan mulutnya pun masih rapat.

Aku yang memiliki body tinggi dan otot yg menonjol akibat latihan 5x seminggu di pusat fitness, akan mencoba hasil kerja keras ku membangunnya. Aku arahkan, pusakaku yg sudah tegang level max ke arah vagina yg terpampang di depannya. Saat penisku menyentuh bibir vaginanya, aku masukan pelan hingga mentok.

Ku ayun dengan irama yang tak menentu, sampai bosan. Lalu aku miringkan badan kakak iparku ini, aku naikan satu kakinya lalu ku hujamkan lagi pusakaku yang masih belom puas bermain di dalam goa hangat, seret dan becek milik kakak iparku ini.

“Oh kak yanti, andai mulutmu seenak memekmu aku bakal betah didekatmu” kataku sambil menghujam-hujamkan penisku ke lubang kakak ku.

Lama aku bolak balik badan kakakku dan aku hisap gigit buah dadanya yg ikut bergoyang sampai akhirnya aku K. O. di dalam memek basahnya yang legit.

Aku pun segera pakai bajuku dan kembali ke rumah sebelah setelah memakaikan kembali kaos dan roknya. Aku sengaja tak memakaikan dalamannya karena ribet dan kubawa dalamannya untuk ku buang di tempat sampah depan.

Saat aku kembali, kulihat waktu sudah jam 3. Aku buru-buru tidur agar besok tidak kesiangan. Tapi sayangnya aku tidak kunjung terlelap karena masih dihantui kejadian yg aku anggap nekad itu. Sampai adzan subuh terdengar, aku belum tertidur.

Setelah jam 5 aku bangkit dan mematikan lampu2. Aku pun ke rumah sebelah, mematikan lampu teras dan lampu samping. Saat lewat di ruang tengah, kakakku belum bangun. “Wah masih mabok nih sarang kontol” batinku dalam hati. Aku bangunkan kakak iparku ini, dengan wajah yg agak nyengir dia bangun dan berjalan ke kamarnya.

Pagi itu aku beres2 alat makan dan alat masak, menyapu rumah lalu kembali ke sebelah dan tidur. Capek oi, semalaman ga tidur.

Siangnya aku terbangun karena ada yg merasa aneh dg anggota badanku, yah tapi bukan kontolku sedang di sepong atau apa. Tapi badanku di goyang2 pakai kaki kakakku. Yah itu cara dia bangunkan aku.

“Bangun, orang kerjaannya tidur mulu. Cari kek kegiatan apa, jangan mentang2 libur jadi bisa santai terus ya!” Semerdu itulah bisikan yg berhasil membangunkan aku. Oh indahnya dunia, aku pun bangkit dan cuci muka. Aku lihat kakak iparku seperti menungguku, aku pun menemuinya. Tak ada suara keluar dari mulutnya hanya bermain hape yg dia lakukan.

Aku buka kaos dan hanya kenakan celana basket. Lalu aku ambil dhumbel dan mainkan, yah hitung2 buang stres karena dibangunkan dg cara seperti itu.

Tak lama kakak ku yang tengah memainkan hapenya kembali bersuara.

“Enak?” Katanya sambil menatapku tajam.

“Enak? Maksudnya kak?” Jawabku.

Aku hentikan kemesraanku dengan dhumbel.

“Gak sok bego, semalam kamu ngentotin kakak kan? Bangun tanpa daleman, memek berasa pegel, bau pejuh. Emang siapa lagi kalo bukan ulah kamu?” Desak kakak iparku.

“Maaf kak… ak” ucapku yg terpotong.  BandarQ

“Trus sekarang kenapa? Kamu nyesel? Telat! Cari mati kamu” kata kakak iparku sambil berjalan mendekat.

Aku tidak tahu harus berbuat apa, sedikit sesal mulai muncul. Aku kaget saat kakakku mendorongku hingga aku terjengkal ke lantai. Aku tak berani bangkit. Lalu kakakku kembali berkicau.

“Semalam kamu berani, mana keberanianmu?” Kata dia sambil menatap tajam mataku.

Aku terdiam, lalu tiba2 dia buka kaos dan rok pendek selulut yg ia gunakan.

Aku ternganga, lalu dia berkata “semalam kamu udah liat, gak usah sok polos!”

Aku masih terdiam sampai kakak iparku menyuruhku bangun. Aku bangun dan tiba2 dia menarik celana basket dan CD yg aku pakai. Sambil berkata “entotin kakak waktu sadar kalo berani!

Aku yg sudah telanjang pun mulai berani. Mulai aku belai pipinya, lalu aku cium bibirnya. Hanya “hmmm emmmm” yang terdengar diantara kami.

Setelah bibir, aku alihkan ciumanku ke pipi dan ke daun telinganya. Aku jilat bagian sekitar telinga lalu menjalar ke lehernya. Aku buka pengait BHnya. Aku buka BH itu, lalu aku bimbing bibirku ke arah putingnya.

Aku mainkan ke dua puting itu bergantian. Pegal juga, karena aku harus membungkuk, aku duduk di sofa dan memangkunya lalu melanjutkan percumbuan.

Saat kami kembali berciuman, aku menarik CD yg ia kenakan. Seakan paham ia angkat pantatnya dari pangkuanku untuk memperlancar usahaku. Aku mulai memainkan clitorisnya dengan jari2ku.

“Ehhmm emmhhh” hanya itu yg keluar dari bibir kakak iparku. Aku baringkan kakakku di sofa, lalu aku buka pahanya. Tak bosan aku memuji memek kakak iparku ini, bentuknya masih seperti ABG.

Takut mengecewakan kakakku, aku lanjutkan aksi yg tertunda karena mengagumi memek indah yg ada di depanku. Aku jilati dan colokan lidahku menyusuri belahan vagina yg harusnya milik pribadi abangku. “Oh..” terdengar erangan kakak iparku, membuat aku lebih bersemangat. Jari tengahku ikut membantu saat lidahku bermain di clitorisnya.

Aku hentikan aksiku dan duduk di sebelahnya. Tak berapa lama setelah nafas kakakku mulai normal, aku kembali beraksi. Kini aku ingin memasukkan penisku ke sarangnya. Dengan buru2 aku hantam, dia berteriak sambil mencakar lengan kiriku “pelan bego! Kontolmu itu gede! Aku keluarkan lagi penisku dan terdengar bunyi “plup” di memeknya.

Aku beranikan diri dan berkata “kak boleh minta hisap?” Dia tak menjawab tapi dia langsung menyongsong penisku dengan semangat juang yang membara. Aku kelojotan dibuatnya, ternyata sepongannya super mantab!

“Kak, kakak pinter banget. Kakak paling cantik deh, ahhh… kakak..” ceracauku saat kenikmatan dari hisapan2 dan permainan lidahnya di penisku.

Kakak iparku rupanya capek menyedot dan menjilat, ia lalu memposisikan diri untuk WOT.

Ia masukkan penisku dengan hati2 sambil berkata “begini Jo kalo masukin, pelan aja. Enak kan?”

Aku hanya menjawab “kakak memang jago, bejo seneng punya kakak ipar kayak kakak” sambil merayu.

Dia naik turunkan dengan tempo sedang dan sesekali menggoyang seperti penyanyi dangdut. Hanya desahan yg keluar dari mulut kami, terlebih saat aku hisap putingnya sambil dia bergoyang.

Tapi hanya 10menitan kami dengan gaya itu, diakhiri dengan erangan panjang kakak iparku sambil memeluk kepalaku yang sedang memainkan putingnya.

“Akkkhhh Joo.. kakak udahhh” kata kakakku yg tengah memeluk erat kepalaku. Saat dia sudah relax, dia kembali berbicara “Jo, kamu belum ya?”

“Belom kak” jawabku singkat.

“Yaudah, nikmati aja tubuh kakak sepuas kamu” balasnya dengab mimik muka lelah dan pasrah.

Aku mulai menggenjot kakakku yang masih duduk di penisku. Kali ini aku hujam sekuat2nya dengan tempo selaju2nya. “Ahhh jooo, anjing kamu jo… memek kakak bisa hancur jooo… aghh” desahan dan ceracau kakak iparku malah membuatku makin bersemangat.

Bosan dengan gaya itu, lalu aku baringkan tubuh lemah kakakku. Aku sodok memek itu dari belakang dengan semangat kejar setoran. Kakak iparku kembali protes “bajingan kamu joo, memek kakak jebol jooo.. ahhh jooo enakkkk”.

Aku istirahat sambil mengajak kakakku kembali saling melumat bibir. Setelah cukup, aku telungkupkan badan kakakku dan aku tunggingkan pantatnya. Kembali aku masukkan pusakaku ke liang peranakan kakak iparku yang pasrah aku hajar sampai akhirnya aku menuntaskan dengan 1 hentakan keras “kak makasih buat memeknya” croot croot..

“Jo, kamu liar ya ternyata” kata kakak iparku sambil terengah-engah sesaat setelah aku luncurkan peluru dari piston yang melumat memeknya.

“Ahh aku masih sama kok kak” balasku masa bodoh.

“Nanti malam tidur rumah aja jo, temani kakak” pinta kakakku sambil membenamkan wajahnya ke dadaku.

Hampir 2minggu kami melakukannya sampai abangku pulang, rasa bersalah menyelimutiku. Tak ada kecurigaan, abangku tak mencium ada gelagat aneh. Aku yg masih sering kena ocehan kakak iparku pun masih berlaku meski kami sering berurusan ranjang. Hal itu tak mengubah sikapnya.

Sabtu sore aku berencana kembali ke kost, aku bilang ke abangku. “Bang, nanti aku balik ke kost ya”. “Udah mau masuk kuliah lagi kah?” Tanyanya. “Iya bang besok senin”. “Ya udah kamu beli tiket bis dulu, semoga kebagian”. Lalu saat aku mau keluar, kakak iparku ambil bicara “Jo, bareng kakak aja sekalian kakak mau ke tempat temen nganter pesenan”.

Aku pun kembali ke rumah sebelah untuk mengemas barang bawaanku. Saat mengemas tiba2 ada sesuatu dilempar ke arahku. “Nih buat kamu, kalo pengen apa2 bilang kakak” kata kakak iparku saat aku menoleh ke arahnya. “Makasih kak” jawabku. Aku tak tahu apa isi amplop coklat yg dia lempar. Amplop itu langsung aku masukkan tas ranselku.

Selesai mengemas barang aku ke rumah sebelah, dan kulihat kakak iparku sudah dandan cantik. Dress pendek selutut sudah membungkus body yg selalu aku kagumi saat kami bersetubuh. Ngocoks.com

Singkatnya kami sudah dalam perjalanan menggunakan mobil, kakak iparku yg membawa. (aku ga bisa bawa mobil)

“Jo, abangmu kira2 tau gak ya?” Tanyanya membelah suasana tenang.

“Kayaknya enggak kak” jawabku

“Semalam aku main Jo sama abangmu, tapi gak tau kenapa kok rasanya hambar. Mungkin memek ku lebih suka kontolmu kali ya jo?” Kata kakakku yg sambil mengelus batangku dari luar celana.

“Mungkin kak” jawabku singkat. “Halah bilang aja minta lagi kak” batinku yg sebenernya.

“Jo, kita beli tiketmu dulu trus ke rumah temen kakak” kata kakak iparku yg seperti memikirkan sesuatu.

Tak lama kita pun tiba agen tiket bus, kakak yang membelikan aku tiket. Aku menunggu di dalam mobil. Tak berapa lama kakak sudah kembali membawa tiket dan menyerahkannya kepadaku.

“Kok tiketnya buat besok kak? Aku kan berangkat nanti sore” tanyaku penasaran.

“Kamu nanti malam nginap hotel” jawabnya yang tumben singkat.

“Nah kan, bilang aja butuh kontol kak!” batinku.

Tak lama berselang, mobil memasuki rumah yg cukup besar. “Mungkin ini rumah teman kakak” pikirku.

“Jo, bawa kardus itu. Kakak masuk dulu.” perintah kakak ku.

Kakak ku turun lalu meninggalkan ku yg sedang mengambil kotak kardus di bagasi.

Setelah aku ambil kotak dan hendak masuk, tiba2 ada seorang pemuda yg keluar dari rumah itu dengan buru2.

Aku pun masuk sambil permisi, tapi tak ada yg menjawab.

Aku pun melangkah masuk dan meletakkan kardus bawaanku. Lalu kakak iparku keluar dengan seorang wanita cantik yang hanya mengenakan kimono tidur. “Wow, apa jangan2 cowok tadi buru2 karena lagi main sama ini perempuan ya?” pikirku.

Mereka menghampiri aku yg terbengong melihat wanita cantik yang bersama kakak iparku ini.

“Bengong aja!” pecah lamunanku dengar suara kakak ku.

“Ini kardusnya simpan mana kak?” tanyaku sambil melirik wanita sebelahnya.

“Udah situ aja, ini kenalin temen kakak” kata kakakku yang menyadari aku melirik temannya itu.

Kami pun berkenalan, teman kakak ini sebut saja Tuti. Dia cantik, putih, dada kliatan besar meski tertutup kimono, kakinya sangat mulus, tangannya halus. “Aku pengen ngentot sama dia!” teriakku dalam hati.

“Jo, cantik gak temen kakak?” tanya kakak iparku yang sepertinya sangat gak rela aku ngelirik temannya terus.

“Cantik.. cantik banget malah” jawabku yg sangat terlihat antusias.

“Kamu mau gak main sama Tuti jo? Tadi cowoknya pergi tuh karna ada kakak” kata kakak iparku yg tidak bisa aku percaya. “Gimana jo?” sambungnya.

“Mau aja kalo aku kak” khayalan yg melambung tinggi terkabul pikirku.

Lalu kak Tuti menarik ku ke kamar, “pinjam dulu ya Yan” katanya pada kakak ku sambil tersenyum manis.


Bersambung…

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Kamis, 30 Oktober 2025

KISAH NYATA, DIREKTORAT KEUANGAN

Sahabat Poker -  Kusandarkan punggungku ke sandaran kursi kerjaku. Kulepaskan kacamataku, kemudian kuusap lensanya dengan kain pembersih lensa. Penat sudah mataku melihat susunan angka-angka yang masih terpampang di layar komputer di atas meja kerjaku.

Jam dua belas kurang sepuluh menit, itu yang ditunjukan oleh jam tanganku. Pantas saja ruangan tempat aku kerja sudah terasa sepi.

Ruangan ukuran sekitar seratus meter persegi yang dihuni sebelas pekerja ini tinggal menyisakan tiga orang saja termasuk aku. Lainnya pasti sudah berhamburan untuk makan siang di luar kantor atau menuju tempat ibadah.

“Ran, elo makan siang dimana? ”, suara Mbak Dewi yang duduk jeda dua meja sebelah kiriku. Mbak Dewi ini usianya lebih tua tiga tahun dariku. Kami seangkatan masuk kerja, dan sama-sama ditempatkan di unit anggaran kantor pusat sebuah BUMN bidang jasa transportasi. “Kayanya makan di rumah nyokap deh Mbak.

Kupakai kembali kacamataku. Kemudian kusiapkan barang-barang seperlunya yang akan aku bawa. Dompet, handphone, dan kunci mobil. Ya, cukup ini aja yang perlu aku bawa. Akupun sengaja tidak mematikan komputer kerjaku karena aku tidak bermaksud belama-lama keluar kantor.

Aku bangkit dari tempat dudukku. “Gue jalan dulu ya Mbak,” pamitku ke Mbak Dewi. “Ok,” jawab Mbak Dewi singkat.

Kulangkahkan kakiku ke luar ruangan menuju lift. Ruangan tempatku kerja ada di lantai empat dari keseluruhan enam lantai gedung ini. Kulihat ada tiga orang menunggu di depan lift. Mereka semua teman-temanku tapi dari unit yang berbeda, walaupun masih dalam satu direktorat yaitu keuangan.

Tampak pintu lift pun terbuka, kupercepat langkah kakiku, karena jarak ke pintu lift masih sekitar lima meter. Setelah berbasa basi ringan dengan teman-temanku di lift, kami pun tiba di lantai dasar dan pintu lift pun terbuka.

Cuaca sepertinya sedang sangat panas, ini terasa begitu pintu lobby gedung terbuka. Dengan langkah cepat aku langsung menuju parkiran sambil mengingat di mana mobilku tadi pagi aku parkir.

Kututupi atas kepalaku dengan tangan kiri, lumayan mengurangi teriknya matahari langsung menghujam kepalaku. Akupun buru-buru masuk ke mobilku. Segera kunyalakan mobil dan memposisikan tombol AC ke yang paling tinggi. 

Sambil menunggu mobilku siap dijalankan, aku sempatkan menelepon suamiku, Doni, hanya sekedar menanyakan kabarnya dan memberitahukannya kalau aku akan ke rumah orangtuaku. Tidak lupa juga kutelepon rumahku untuk menanyakan kepada baby sitter keadaan anakku.

Rumah orangtuaku tidak jauh lokasinya dari kantor tempatku kerja. Hanya sekitar delapan ratus meter. Orangtuaku menempati rumah dinas milik kantor dan sudah kami tempati sejak sebelum aku lahir.

Papahku seorang pensiunan dari perusahaan yang sama denganku. Rumah yang ditempati orangtuaku ini sudah berganti atas namaku, sehingga mereka masih dengan leluasa tinggal di rumah itu, padahal orangtuaku ini juga mempunyai rumah yang cukup besar di perumahan mewah di kotaku.

Tapi mereka beranggapan rumah dinas ini mempunyai nilai historis mereka selama lebih dari dua puluh lima tahun tinggal di sana. Sedangkan aku sendiri telah tiga bulan ini pindah ke rumah sendiri yang lokasinya sekitar lima kilometer dari tempat kerjaku. 

Awalnya kedua orangtuaku keberatan rencana aku pindah, karena aku sebagai anak bungsu dan kedua kakakku yang sudah tinggal di rumahnya masing-masing, maka saat ini praktis hanya tinggal kedua orangtuaku dan asisten rumah tangga bernama Mpok Ela.

Namaku Rani, usiaku saat ini dua puluh empat tahun. Aku bungsu dari tiga bersaudara yang seluruhnya perempuan. Kedua kakakku sudah menikah dan masing-masing-masing mempunyai dua anak. Sedangkan aku sendiri baru diberi anak satu dari satu setengah tahun usia pernikahanku dengan Doni. Anakku bernama Ari, masih berusia tujuh bulan.

Diantara kakak-kakakku, aku yang paling tinggi. Tinggiku seratus enam puluh delapan centimeter, beratku saat ini lima puluh tujuh kilogram, delapan kilogram lebih berat dari sebelum aku hamil anakku.

Kulitku kuning langsat agak kecoklatan. Kami bertiga mempunyai wajah yang mirip satu sama lain. Kakakku yang kedua, Mbak Risa, yang paling cantik dengan kulitnya yang putih bersih.

Setibanya di rumah orangtuaku, kuparkirkan mobilku di depan pagar. Sengaja aku parkir di luar pagar, karena memang aku tidak berniat lama-lama di sini.

Aku lihat dari balik pagar ada mobil keluarganya Mbak Risa terparkir di garasi, tapi yang ini biasanya dipakai Mas Rio, suaminya Mbak Risa, karena Mbak Risa ke kantor menggunakan mobil lainnya yang lebih kecil. “Eh Mbak Rani,” tiba-tiba ada suara dari dalam pagar. Tidak lama kemudian pintu pagar terbuka, muncul sang pemilik suara yaitu Mpok Ela. BandarQ

“Ada siapa aja di dalem Mpok?”, tanyaku.

“Ada Mamah lagi di kamar, Mbak. Kayanya sih lagi tidur. Kalo Papah lagi pergi main golf”, jawab Mpok Ela.

“Ngga ada Mbak Risa? Itu ada mobilnya?”, tanyaku lagi.

“Itu bukan Mbak Risa, Mbak. Tapi Mas Rio, itu ada di kamar atas”, jawab Mpok Ela lagi.

“Ooo kirain Mbak Risa”, sahutku.

“Mobilnya ngga dimasukin garasi aja Mba?”, tanya Mpok Ela.

“Ngga usahlah, cuma sebentar kok”, jawabku sambil tersenyum.

“Laundry-an aku udah ada belum Mpok? Kalau udah ada, tolong siapin ya Mpok. Mau aku bawa”, ucapku lagi.

“Udah ada Mbak, nanti Mpok siapin. Ngomong-ngomong Mbak Rani mau sekalian makan di sini ngga? Kalau mau, Mpok siapin makanan sekarang”, ucap Mpok Ela.

“Iya Mpok. Aku ke kamar Mamah bentar”, jawabku.

Akupun segera masuk ke rumah dan menuju kamar Mamahku yang ada di lantai bawah. Rumah ini ada enam kamar. Tiga kamar di atas merupakan kamar aku dan kakak-kakakku sebelum kami semua berkeluarga. Saat ini tetap tidak ditempati siapapun, karena memang sengaja sebagai tempat jika aku dan kedua kakakku main ke sini.

Kubuka pintu kamar secara perlahan, takut membangunkan Mamahku. Tampak di tempat tidur Mamahku tertidur lelap. Aku urungkan niat untuk masuk kamar Mamahku.

Akupun menuju ruang makan, terlihat Mpok Ela sibuk menyiapkan makanan untukku. “Silahkan Mbak Rani makan. Mpok tinggal dulu ya. Mau nyetrika. Kalau butuh apa-apa panggil aja ya Mbak,” ucapnya lalu Mpok Ela berjalan menuju bagian belakang rumah. “Ok Mpok, terima kasih,” jawabku.

Akupun mulai menyantap makan siangku sambil memainkan handphone melihat perkembangan-perkembangan di media sosial.

Selesai makan, aku masih berdiam sejenak di meja makan. Tiba-tiba aku teringat kalau ada Mas Rio di kamar atas. Akupun berniat untuk menemuinya sekedar bertanya kabarnya.

Kubereskan piring bekas aku makan dan menempatkannya ke tempat cuci piring. Setelah mencuci tanganku, aku pun langsung menuju tangga dan menaikinya menuju kamar Mbak Risa dulu.

Kamar Mba Risa ini tepat sebelahan dengan kamarku. Dulunya kamar kami ini kamar yang besar, akan tetapi seiring pertumbuhan kami, maka orangtuaku membagi dua kamar ini dengan disekat menggunakan material gypsum.

Kuketuk pintu kamar Mbak Risa dulu, sambil memanggil Mas Rio pelan. Tidak ada jawaban. Aku buka pintu perlahan. Kulihat Mas Rio tidur terlentang sedikit di sisi kanan tempat tidur dengan posisi tangan dan kaki agak direntangkan ke samping.

“Mas Rio”, kupanggil namanya sekali lagi.

“Mmmm”, jawab Mas Rio pelan dengan mata masih tertutup.

“Lagi ngapain Mas?”, tanyaku.

“Ngewe”, jawabnya asal.

“Yeee orang ditanyain bener juga?!”, sahutku.

“Lagian elo pake nanya lagi, udah tau lagi tidur gini”, balasnya.

“Kalau tidur kok masih ngomong? Ngigo ya? Hehehe”, candaku sambil menghempaskan pantatku ke tempat tidur dengan posisi sembilan puluh derajat dari posisi sebelah kiri Mas Rio. Kuambil bantal dan kujadikan tempat sandaran di tembok kamar dengan kaki aku luruskan di tempat tidur.

“Seriusan Mas, ngapain di sini? Kok ngga kerja?”, tanyaku sambil kembali memainkan handphoneku.

“Kaga, lagi izin gue. Badan gue pegel-pegel. Udah seminggu lebih lembur terus. Mau istirahat di rumah ngga bisa. Ini juga Risa yang nyuruh gue ke sini”, jawabnya kulihat tetap dengan mata tertutup.

“Nah elo sendiri ngapain ke sini? Nyari makan gratisan ya?”, tanyanya ngeselin.

“Siaul, mau ambil laundry-an. Tapi yaa sekalian juga makan gratisan sih. Hehehe”, jawabku.

“Udah kebaca”, tanggapnya enteng.

Mas Rio pun merubah posisi kaki kirinya dengan menekuknya ke atas. Sehingga membuat ujung celana pendek berbahan parasut hitam yang dipakainya dengan mudahnya turun sampai pangkal pahanya.

Dan ini membuat terlihat “makhluk” yang tinggal di selangkangan Mas Rio. Memang kakak iparku sering aku perhatikan tidak pernah pakai celana dalam kalau memang niat perginya hanya ke rumah orangtuaku ini, karena rumah dia dengan rumah orang tuaku tidak lebih dari satu kilometer.

Terlihat jelas makhluk itu masih dalam keadaan tidur, dengan kepalanya sedikit serong ke kiri bersandar di kantong telurnya. Degh, jantungku langsung berdegub kencang, darahku pun berdesir, karena secara otomatis memori kenikmatan itu berputar di kepalaku teringat kejadian satu setengah tahun lalu.

Pikiranku melayang mengingat kembali bagaimana kenikmatan yang pernah diberikan makhluk itu kepadaku pada saat dia mengamuk dan marah mengoyak-ngoyak sarang kenikmatanku.

Masih teringat jelas di otakku bentuk penis Mas Rio. Secara ukuran memang tidak berbeda dengan milik Doni, suamiku. Tetapi bentuknya yang unik membuat indera kenikmatanku tidak akan melupakannya.

Pada saat ereksi kepala penisnya yang besar dan mengembang seperti kapala jamur, mengecil dan seperti ada sekat di leher penis, membesar di batang penis, dan mengecil kembali di pangkal penis.

Ukh, mengingatnya aja udah membuat vaginaku basah saat ini. Keinginanku untuk menikmati penis Mas Rio timbul kembali. Tapi bagaimana caranya? Aku malu kalau harus memulai lebih dahulu. Sedangkan menurutku saat ini situasi yang mendukung untuk melampiaskan kerinduanku pada penis Mas Rio.

“Gimana kabar Ari? Udah bisa ngapain aja?”, tanya Mas Rio membuyarkan lamunanku.

“Baik-baik aja Mas. Yaa standar bayi umur tujuh bulan lah, udah bisa duduk sama ngoceh-ngoceh gitu”, jawabku.

“Trus elo sendiri gimana? Udah ngga pernah kumat lagi?”, tanya Mas Rio kembali.

“Kadang-kadang aja sih Mas tapi masih bisa aku kontrol kok. Mungkin karena sibuk ngurusin Ari, jadi ngga ada waktu buat mikir yang aneh-aneh lagi hehehe”, jawabku.

“Sibuk ngurusin anak, bisa jadi lupa ngurusin laki lo deh hehehe,” candanya.

“Nggalah Mas, tetep kalo itu mah, kan kebutuhan. Hehehe”, sahutku sambil tersenyum penuh arti.

“Masih sering emang? Paling banter juga sebulan sekali. Apalagi punya bayi”, lanjut Mas Rio.

“Curhat ya Mas?”, godaku.

“Hahaha”, tawanya menanggapi komentarku. “Kaya elo ngga aja. Kalo gue sih minimal seminggu sekali,” lanjut Mas Rio.

“Iya sih hehehe”, jawabku sambil nyengir.

“Emang udah berapa lama ngga?”, selidik Mas Rio.

“Kalo itu mah hampir tiap minggu Mas. Tapi ya ituu..”, jawabku menggantung.

“Itu apa?”, tanyanya penasaran.

“Udah ngga pernah ngerasain sampe orgasme lagi sejak ngelahirin, Mas hehehe”, jawabku malu.

“Udah dol kali meki lo, dokternya lupa jahit”, sahutnya ngeselin. Aku balas melempar bantal di dekatku ke arah mukanya. Diapun tertawa lepas sambil menepis bantal yang aku lempar.

“Pantesan aja daritadi elo ngeliatin selangkangan gue terus hehehe”, sahutnya sambil cengar cengir.

“Yee enak aja, ngga dilihatin juga udah nongol sendiri. Tuh udah bangun, jadi ketauan kan Mas kepengen”, balasku.

“Walaah, iya ya hehehe”, sahutnya santai.

Penis Mas Rio sudah berdiri tegak, menyeruak dari ujung celana pendeknya, tegak sejajar dengan paha kiri Mas Rio yang masih ditekuk ke atas.

“Trus kalo udah gini enaknya diapain ya?”, godanya.

“Disuruh duduk aja Mas, kasian berdiri terus”, jawabku pura-pura tak acuh.

“Yuk lah”, sahut Mas Rio.

Kulirik jam di tangan kiriku. Jam satu kurang lima menit. Masih ada cukup waktu. “Quickie aja ya Mas,” jawabku.

Segera kugeser posisi duduk ke samping kiri Mas Rio. Langsung kubelai penis Mas Rio memakai sisi luar jari telunjuk kiri mulai dari kepala penis sampai pangkalnya. sumber Ngocoks.com

Penis Mas Rio berkedut-kedut bereaksi terhadap belaianku. Kulihat nafas Mas Rio mulai memburu menikmati aktifitasku memainkan penisnya. Sekitar penis dan buah zakar Mas Rio ditumbuhi rambut.

Tidak terlalu lebat, tampaknya Mas Rio rajin merawat rambut kemaluannya. Sedangkan panjangnya sekitar empat belas sentimeter, dengan diameter sekitar tiga sentimeter di bagian kepala, membengkak menjadi tiga setengah sentimeter di tengah batang penisnya, dan mengecil di pangkal penisnya sekitar dua setengah sentimeter.

Kemudian aku memposisikan diriku di antara kedua kaki Mas Rio yang sudah dalam posisi membuka lebih lebar siap menerima pelayanan dariku. Aku berbaring telungkup dengan menopang tangan kiriku untuk menjaga kepalaku tetap berada di atas dekat penisnya. Tangan kananku mulai mengocok perlahan penis Mas Rio.

Kudekatkan kepalaku ke penis Mas Rio. Kujulurkan lidahku ke lubang kencingnya. Kumainkan lidahku di sana sambil tangan kananku tetap mengocok penisnya.

Keluar dari lubang penisnya cairan kental bening pertanda penis Mas Rio siap untuk membuahi, lalu kusapu cairan itu dengan lidahku. Perlahan mulai kujilati kepala penis Mas Rio, kusapu seluruh kepala penisnya yang sudah mulai merah merekah.


Bersambung…

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Rabu, 29 Oktober 2025

KISAH NYATA, PAMER PRIVACY

Sahabat Poker - “Eitsss… waduh oh… dasar nih kakak kurang ajar…! Mami…! Mami…! Nih kakak tidak sopan, pegang-pegang pepek Mai!”, teriak Marcy, adik perempuanku yang masih berusia 12 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD itu.

(Klotak…!)

Pintu kamar mama pun dibuka dengan tergesa-gesa. Mama muncul dengan bertolak pinggang. “Apaan lagi sih…! Bertengkar melulu…!,” ujar mama dengan kesal.

Segera Marcy menjelaskan apa yang telah terjadi. Mama menoleh kearah aku dan bertanya kepadaku, “Ayo… sekarang apa penjelasanmu? Rodri Cuma rekaan?!” Bila mama memanggil dengan nama lengkapku seperti ini berarti dia sedang kesal hatinya. Aku segera menjelaskan duduk perkaranya.

“Begini… mam…”, aku memulai penjelasanku. Mama mendengarkan dengan kepalanya dimiringkan kearahku seperti minta penjelasan lebih jauh dariku.

“Aku baru pulang dari main basket, masuk kedalam rumah dan melihat Marcy berdiri sambil membungkukkan badannya ke lantai dan… terlihat celana dalamnya dengan jelas. Aku memang tidak bicara memberitahukannya khawatir dia terkejut jadi aku pegang saja celana dalamnya agar supaya dia sadar kalau dia telah memamerkan privacynya”, kataku.

Mama diam seperti sedang mengolah penjelasanku itu, kemudian kepalanya ditolehkan kearah Marcy dan memandangnya seperti minta penjelasan dari Marcy.

“Bohong…!”, kata Marcy dengan nada kesal.

“Apanya yang bohong, adikku sayang yang manis…”, aku menyela perkataan Marcy.

Mama mendehem dan melotot padaku. “Teruskan…,” katanya kepada Marcy.

“Begini mi… bagaimana tidak sopan, tangan kakak mengusap-usap nih… seperti ini…”, kata Marcy sembari mengangkat tinggi-tinggi T-shirtnya dan memperagakan perbuatanku tadi. Tangannya mengusap-usap memeknya yang masih terbalut celana dalamnya.

Bedanya ia mengusap-usap dari depan sedang aku tadi mengusap-usapnya dari belakang, he-he-he…

Tangan mama menutupi mulutnya seperti menahan tawa melihat ulah adikku Marcy itu.

Marcy terhenti dan memandangi mama dengan heran tapi masih diliputi perasaan kesal. “Mami…,” keluhnya.

“Sudahlah…”. Tangan mama sudah tidak menutupi mulutnya tapi sepertinya masih menahan senyumnya dengan sulit. “Ayo Rodri minta maaf pada adikmu yang tadi kamu katakan manis ini”.

Dengan senang hati karena kelihatannya mama sudah reda amarahnya, kudekati Marcy, “Marcy sayang… maafkan kakak ya…,” sembari mengusap dan mencium ubun-ubunnya.

Marcy luluh hatinya, membalikkan badannya dan mendekap aku.

“Lain kali jangan lupa pakai rok atau celana pendek dong say”, kataku sembari mengusap-usap punggungnya.

“Tapi aku tidak sedang diluar rumah, kakak…”, rengut adikku mendengar kata-kataku.

“Sudah… sudah… jangan memulai lagi”, mama menimpali kata-kata kami. “Kalian berdua makan dahulu dan kamu Rodri cepat ganti dulu pakaianmu yang lembab itu”.

Memang benar, pakaian seragam sekolahku yang mulai mengering tapi masih lembab. Kan habis bermain bola basket seusai sekolah tadi.

Mama berbalik badan dan berjalan menuju pintu kamarnya.

Tiba-tiba Marcy menarik tanganku kebawah sehingga mukaku sejajar tingginya dengan mukanya. Dia menempelkan mulutnya ke telingaku dan berbisik, “Lihat tuh… buruan. Punggung mami terbuka bebas, ayo pegang punggungnya seperti apa yang kakak lakukan padaku tadi. Kalau bertindak yang adil dong…! ,” katanya dengan licik.

Aku tergugah, bukan karena perkataan Marcy tetapi lebih disebab-kan oleh kemulusan punggung mama dan eh… tunggu dulu! Beliau tidak memakai BH! Buktinya tidak terlihat tali BH dipunggungnya.

“Pasti…!”, kataku dengan nada gagah-berani menjawab kata-kata Marcy adikku itu. Aku buru-buru mendekati mama dari belakang. BandarQ


Marcy tersenyum puas. (‘Biar tahu rasa, dimarahi dan pasti Rodri… telingamu bakal dijewer mami’, Marcy dengan senang membayangkan akan menyaksikan hal yang bakal terjadi dan dia tersenyum simpul gembira).

Seandainya Marcy tahu strategi yang akan aku pakai menghadapi mama, bila kusentuh punggung mama dan ia marah, aku akan katakan saja padanya bahwa aku ingin membantu mama dengan menarik retsluitingnya untuk menutupi punggungnya yang mulus itu, he-he-he… dasar bulus!

Mama sudah memegang handle pintu kamarnya tapi ketika hendak masuk kamar tidurnya, langkah kakinya terhenti karena mendengar derap langkah kakiku yang tergesa-gesa.

“Kamu mau ap…”, kata-kata mama terhenti ketika merasakan usapan tanganku dipunggungnya yang putih mulus bak pualam itu.

Segera mama bergegas masuk kedalam kamar tidurnya dan langsung melompat menelungkup diatas tempat tidur sembari menggerutu, “Geli tahu… kamu jangan kurang ajar ya Rod…!” Tubuh mama berguncang-guncang diatas kasur yang empuk itu, disebabkan karena lompatan mama tadi.

Aku mendekati mama dan berkata, “Maaf mam… lupa menutup retsluitingnya ya mam…”.

Dan mama menjawab, “Ya… sudah, ayo tarik retsluitingnya”.

Tapi aku tidak melakukannya karena melihat disamping tubuh mama masih tergeletak sebuah vibrator yang agaknya seperti tergesa-gesa dimatikan dan aku melihat disekitar tubuh mama berserakan BH, CD dan sebuah cermin kecil untuk ber-make-up.

‘Wah rupanya mama sedang bermasturbasi saat aku dan Marcy berada diluar kamar tadi. Pantas saja mama kelihatan kesal tadi karena acara masturbasinya terganggu oleh kami, aku dan adikku Marcy’.

Dikeheningan sesaat itu tiba-tiba pecah oleh kata-kata mama. “Ayo… kok bengong…!”

Dengan malu aku menimpalinya, “Maaf mam… habis mama cantik dan tubuh mama mulus sekali sih…”.

Mama mendongakkan kepala dan menoleh kearahku, tapi kemudian sadar akan keadaan kamar tidurnya dengan adanya benda-benda pribadinya berserakan itu.

“Eehmm… jangan cerita pada adikmu ya. Kamu kan sudah dewasa… dan… sudah tahu segalanya itu…”, ujar mama seakan memintaku memaklumi keadaan kamar tidurnya itu.

Darah mudaku yang penuh gairah langsung bergejolak disebabkan oleh suasana kamar dan kata-kata mama.

Tapi mam… aku kan masih kelas 2 SMA dan belum tahu segalanya seperti yang mama maksudkan…”, timpalku. “Apa mama mau mengajariku semua itu…?,” tanyaku nekat.

“Ya sana… keluar, nanti adikmu curiga”, tukas mama lagi.

Aku bersikeras tetap berdiri ditempat, kataku, “Katanya mau mengajari Rodri tentang itu tuh…”.

Jawab mama, “Nanti malam setelah adikmu tidur, datang lagi kesini. Kan ayahmu masih 2 minggu lagi diluar kota mengurusi bisnisnya. Ayo buruan nanti keburu datang adikmu karena curiga”.

Sembari bicara, mama menyingkirkan benda-benda pribadinya yang tadi berserakan diatas kasur dan sekarang kasurnya sudah bersih dan rapi kembali.

Aku lalu bertanya pada mama, “Mama tidak berbohong kan…?”

Seketika itu mama menjadi kesal dengan pertanyaanku, “Tidak percayaan amat sih sama mamamu sendiri?!” Tiba-tiba mama menelentangkan tubuhnya keatas kasur dan segera mengangkat bagian bawah rok terusannya ke dadanya dan berkata, “Nih… lihat! Ayo kamu mau omong apa sekarang…?!”

Mataku lolong melotot… Mengapa tidak? Kulihat tubuh mama bagian bawah terbuka polos alias bugil… Betisnya yang indah, pahanya yang menggairahkan dan… vagina mama, maksudku bibir vagina mama terlihat dengan jelas karena vagina mama yang polos tanpa rambut pubis sehelaipun! Rupanya mama merawat bagian tubuhnya yang paling tersembunyi itu dengan cara mencukur habis semua bulu-bulu pubis sekitar vaginanya.

Nafsu birahiku langsung melonjak, ‘Seperti memek anak kecil saja yang tanpa bulu! ’, pikirku. ‘Pasti serupa dengan memeknya Marcy, adikku itu. Masih gundul… ’, aku membayangkannya. Jadi aku ingin sekali mengetahui vaginanya Marcy yang tadi sempat aku usap-usap walau masih terbalut dengan celana dalamnya.

Perlahan-lahan aku mendekati mama dan langsung menindih tubuh mama dengan seragam sekolahku yang masih lengkap dan lembab.

Rodri kamu mau apa, ooh…!”, perkataannya terputus karena bibirnya keburu tertutup oleh bibirku.

Aku mencium mama dan berusaha meniru gaya French-kiss layaknya seperti yang pernah kulihat dalam film-film BF yang sering kutonton bersama-sama kawanku dirumah salah seorang dari mereka.

“Mmmh… hhm…”, mama berontak pelan dan menolak badanku.

Tapi karena aku sering olahraga basket, tenagaku jauh lebih besar ketimbang mama yang juga senangnya ber-olahraga senam demi kesehatan, menjaga keindahan tubuhnya agar tetap awet muda dan enak dipandang mata.

Usia mama yang sekarang 38 tahun tapi dengan tubuh dan perawakan badan yang 28 tahun dengan wajah cantik dan manis keibuan dengan payudara 36B bagaikan milik penari striptease yang indah dan menggairahkan.

Lidahku menyusup masuk kedalam mulut mama dan membelit lidahnya, didalam mulut mama, lidah-lidah itu saling berangkulan membelit berganti-ganti arah eh… rupanya telah sirna penolakan dari mamaku yang sexy ini.

Ketika aku ingin minta penegasan dan mulai ingin menanyakan lagi, tentunya aku harus melepaskan bibirku dari bibir mama terlebih dahulu tapi dengan cepat tangan mama membekap mulutku sehingga aku tidak bisa berbicara.

“Sudah jangan bicara lagi, pokoknya nanti malam setelah adikmu tidur. Cepat bangun…!”

Aku bangun dan berdiri disamping tempat tidur, mama buru-buru duduk ditepi tempat tidur sambil merapikan pakaiannya kembali… tepat Marcy masuk kedalam kamar tidur mama yang pintunya masih terbuka lebar dengan tersenyum-senyum yang mencurigakanku.

Begitu melihat Marcy masuk, segera mama berpura-pura memarahiku dengan menjewer telingaku (dengan pelan) sembari membentakku, “Rodri! Kamu mulai nakal ya…! Ayo keluar sana…!”

Marcy yang menyaksikan ini semua, kaget sekejap lalu tertawa terkikik-kikik dengan cepat membalikkan badannya lari keluar sambil berteriak.

Sempat aku dengar teriakannya. “BENAR KAN PIKIRKU… rasakan itu semua kakakku yang ganteng hi-hi-hi…!”

Mama tersenyum lega dan aku buru-buru keluar dari kamar tidur mama. Sebelum melewati pintu, sempat mama mengingatkan, “Jangan lupa nanti… DASAR NAKAL…!”

Tentu saja kata-kata mama yang terakhir ini masih terdengar oleh Marcy yang menimpali dengan… “Asyik… asyik… oh… bahagianya aku, hi-hi-hi…”.

Kataku dalam hati, ‘Dasar anak kecil sok pintar tapi lugunya minta ampun! Dibohongi saja mau!’.

Selagi aku menuju kamarku aku berpikir tentang Marcy, adikku yang cantik, manis dan imut-imut itu. Tubuh Marcy mulai bertumbuh besar, baby-fat sudah banyak yang berkurang.

Ya… adikku itu berubah dan sudah bertumbuh menjadi gadis cilik yang menggemaskan, dadanya mulai menonjol dan yang mencolok ketika ia mengenakan T-shirt nya yang kebanyakan tipis-tipis jelas terlihat tonjolan putingnya indah.

Sesampainya aku dalam kamarku, aku mengambil pakaian rumahku yang bersih dan masuk kekamar mandi. Rumah yang kami tempati sungguh besar bagi kami berempat. Ngocoks.com

David Cumarekaan, ayah kami yang berusia 43 tahun, Susan C, ibu kami tercinta yang berusia 38 tahun, aku, Rodri C berusia 17 tahun dan Marcy C, si bungsu yang berusia 12 tahun. Jumlah kamar dirumah ini, semuanya ada 12 kamar jika kamar yang di lantai atas ikut dihitung berikut kamar-kamar mandi yang ada pada masing-masing kamar tidur semuanya.

Ruang aula untuk keperluan keluarga besar berkumpul ada di lantai atas, sementara 2 kamar tidur yang berada disana tidak terpakai tapi telah rapi ditata dengan bersih dan siap sewaktu-waktu bila ingin ditempati dengan segera. Ini berkat keterampilan dari 2 orang pembantu rumah tangga kami, Ida dan Tati walau masih belia, segar tapi semuanya beres dikerjakan.

Aku sudah berpakaian rumah yang bersih, badanku wangi maklum saja sesuai kebiasaanku seusai kegiatan olahraga sesampai dirumah, biasanya aku langsung mandi.

Jam dinding masih menunjukkan waktu 2:15 siang, pikirku jika ada yang diharapkan kenapa waktu berjalan lambat? Aku merebahkan diriku keatas tempat tidur, kembali aku mengingat keluguan Marcy, adikku itu. Jika aku ingat-ingat lagi, aku baru sadar sekarang kalau adikku telah tumbuh menjadi gadis manis yang imut-imut tapi hormon-hormon dalam tubuhnya mulai membentuk tubuhnya menuju ke bentuk tubuh yang sexy.

“Kak…! Kak Rodri! Ayo keluar… makan sama-sama Mai”.

Seketika lamunanku pun buyar-yar… oleh teriakan Marcy, adikku yang mengagetkanku membuatku sadar dari lamunan jorokku, langsung saja aku merasa sangat lapar… kan aku belum makan siang?

Sekeluar dari kamar, aku disambut oleh Marcy. “Ngambek ya… kak? Maafkan Mai ya…”.

Aku tersenyum saja mendengar kata-kata Marcy. ‘Marcy… Marcy lugu amat sih kamu’, pikirku mungkin dia harus dicium dan di French-kiss agar bisa berpikir dan berusaha berpikir lebih dewasa, tidak seperti anak kecil lainnya yang sedikit-sedikit panggil-panggil maminya.

Marcy membahasahan dirinya dengan panggilan Mai karena sejak kecil sewaktu dia mulai bisa berbicara, kurang bisa melafalkan huruf R. Sehingga namanya Marcy berubah menjadi Mai dan ini sudah menjadi kebiasaannya sampai sekarang. Tapi kami semua tidak menanggapinya, selalu kami memanggilnya dengan nama sebenarnya, yaitu Marcy.

Juga panggilannya terhadap mama, dia memanggilnya dengan kata mami. Demikian juga panggilannya terhadap papa dengan kata papi.

Orangtua kami happy saja tanpa meralat panggilan terhadap diri mereka. Aku Rodri dan adikku Marcy adalah anak-anak kandung mereka yang sangat mereka kasihi.

Siang ini Marcy sudah mengganti bajunya, untuk balutan tubuhnya bagian atas, dia mengenakan sejenis T-shirt, tapi bagian bawahnya lebih pendek dari T-shirt umumnya, kaos yang dikenakan sekarang itu tidak bisa menutupi pusar serta perut datarnya ini membuat hatiku mulai bergetar. Atau inikah yang disebut busana model tanktop, tak tahulah…

Selanjutnya pandangan mataku menelusuri tubuh Marcy bagian bawah, kali ini Marcy mengenakan sejenis celana pendek mini atau apa namanya minipant mungkin? Oh iya… mungkin ini namanya hotpant yang membuat gairahku bergejolak ‘to be hot’ tetapi mengenai istilah dan nama-nama model pakaian wanita, aku tidak mengerti sama sekali, ‘memangnya gue pikirin…

Heit… tungggu dulu, celana pendeknya yang jelas terlihat terbuat dari bahan kain yang tipis, kok… tidak ada garis-garis batas yang menandakan ia mengenakan celana dalam ya? Jangan-jangan… dia tidak memakai celana dalam?! Wah pikiran ‘ngeres’-ku sekarang terbelah dua. Yang satu masih memikirkan tubuh mamaku yang sexy habis dan satunya lagi sedang berpikiran jorok menebak-nebak tubuh adikku yang berada dihadapanku ini.

Kupandangi wajah Marcy, yang ternyata sedari tadi senyum-senyum saja sembari mengikuti gerak-gerik pandangan mataku. Tahu begini aku jadi salah tingkah dan malu jadinya, bagaikan maling tertangkap lagi mandi… basah tahu!

“Selama masih hanya dipandang saja dan tidak pakai pegang-pegang… aman-aman saja… tuh!”, ujar Marcy sembari duduk di kursi makan.

Aku pun sudah duduk di kursi makan seperti halnya Marcy dengan perasaan kesal, aku tahu dikerjai oleh adikku, Marcy ini. Aku bergumam kecil dengan kesal, “Kenapa tidak telanjang bulat saja sekalian… tanggung kan”.

Rupa-rupanya gumaman kecilku masih terdengar oleh Marcy, ia berkata lagi, “Mau bulat kek… mau lonjong kek… selama masih hanya dipandang saja dan tidak pakai pegang-pegang… aman-aman saja tuh…!”

Oh lagi…! Dia mengulangi kata-kata manteranya itu lagi. Aku pandangi Marcy dan melotot padanya.

Cepat Marcy berkata lagi. “Maaf… kak, Mai kan cuma bercanda. Please, sekali lagi Mai minta maaf, jadi seorang kakak jangan terlalu sensitif dong. Don’t Worry Be Happy…!,” katanya sembari menjiplak salah satu slogan iklan dari TV.

Aku diam saja. ‘Makin nakal saja adikku ini tapi… juga makin manis dan menggairahkan saja, nanti kalau sudah di French kiss olehku baru tahu rasa dia, pasti… merem-melek’. Aku jadi tersenyum-senyum dengan sendirinya.

Melihatku begini, Marcy pun tersenyum lebar, “Terima kasih kak… kak Rodri memang baik deh mau memaafkan Mai”. Ngocoks.com

Mendengar itu aku jadi gelagapan dan menjawab singkat sekenanya, “Ya… Yang aku lanjutkan dalam hati. ‘Kamu salah duga sayang, maksudku kau merem-melek di French kiss olehku dan… akan minta lagi… minta lagi… minta lagi…! Huh… kenapa ya penisku selalu bereaksi cepat seperti reflex saja yang sekarang menjadi tegang dan mengacung kedepan dengan gagahnya.

Makan siang kami yang sudah tertata rapi pasti ini hasil kerja pembantu-pembantu rumah kami yang gesit dan cekatan itu. Kami pun makan dengan lahap dan tanpa suara, maklumlah kami sudah dibiasakan disiplin dari kecil termasuk makan di meja makan tidak boleh pakai berisik.


Bersambung…

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Selasa, 28 Oktober 2025

KISAH KEHIDUPAN, TUKANG PLAFON

Sahabat Poker - Nama gw reyhan biasa dipanggil rey,, umur gw 24 tahun, tapi diantara teman sepantaranku di kampung hanya aku yg belum nikah, sedangkan teman2ku sudah ada yg punya 2 anak. padahal gw gk jelek2 amat buktinya gw sudah ada kali 4 kali putus sama mantan pacar gw, mungkin belum waktunya kali, tapi kuping juga harus terbiasa sama celetukan2 tetangga yg sering tanya kapan nikah.

Gw akui klo ukuran kontol gw gk terlalu besar cenderung ke kecil, krn ada mantan gw yg bilang klo kontol gw mungil atau ia sudah sering di tusuk sama kontol yg lebih besar dari punya gw. sehari hari aku bekerja bangunan sbg tukang cat atau pasang plafon.

Suatu hari juraganku menyuruhku ngecat rumah temannya tapi diluar pulau,aku menolaknya tapi dia bilang klo aku disuruh borong dan harganya dua kali lipat dan dapat tiket pulang pergi.

Juraganku merasa gak enak sama temannya karena katanya ia dulu dimodali sama temannya ini,akhirnya aku berangkat saja toh harganya sangat bagus dan dapat tiket pulang pergi.

Sesampainya dibandara aku dijemput oleh temannya juraganku,sebelum sampai dirumahnya aku diajak makan disebuah depot. setelah itu kami menuju lokasi rumahnya terletak disebuah perumahan yg cukup elite, dan rumahnya cukup besar.

Sepertinya baru jadi tinggal catnya saja yg belum.aku juga sudah ditransfer setengah dari harga kesepakatan sisanya nanti jika sudah selesai dilunasi.dirumah itu sudah disediain beras, mie instan dan telur untuk makanku. lumayan jadi gak keluar uang makan. ia pamit kerena mau ada urusan katanya.

Sudah dua minggu aku bekerja sendiri,karena ini hari minggu aku gak kerja karena capek juga, aku lalu keluar jalan2,tentunya pakai sepeda motor milik tuan rumah yg disediakan buatku jika ingin keluar cari apa2. karena aku tak tahu jalan dan daerah sini aku gak terlalu jauh perginya.

Setelah bosan aku lalu putuskan kembali saja.sesampainya didepan pos jaga aku lalu duduk2 dgn pak satpam,kubelikan sebungkus rokok untuk dia.kami ngobrol supaya akrab meski aku agak susah mengerti dgn logatnya.hingga ia tanya apa masih lama kerjaanku disini,,aku bilang mungkin masih satu bulanan bisa lebih.

Ia tanya apa aku gk butuh teman untuk membantuku,soalnya keponakannya lagi nganggur dan biasanya ia juga kerja diproyek sbg tukang cat juga.setelah aku tanya berapa gaji pekerja proyek disini dan ternyata lebih rendah dari didaerahku,maka aku ia kan permintaannya,kusuruh besok bisa langsung kerja.

Esoknya pak satpam datang kerumah dgn keponakannya,ternyata masih muda mungkin seumuran denganku.namanya Kayat,nama yang asing ditelingaku,tapi anaknya baik,cekatan dan kerjaannya juga rapi.

Aku suruh saja ia nginep disini karena katanya rumahnya cukup jauh,,klo lapar makan saja yat,,tu telur sama mie instannya ada di lemari dapur,,jangan sungkan2 sama gw,,ia bang terima kasih,,biasa saja kali justru aku senang punya teman disini.

Sudah hampir dua minggu kayat bekerja denganku,kami juga sudah akrab jika ngobrol,termasuk cerita2 tentang cewek dan ternyata aku baru tahu klo ia sudah nikah dan punya anak satu yg masih kecil.

Suatu saat waktu aku kencing aku lupa tutup pintu kamar mandi,dan kayat tiba2 masuk,,ia melihat ukuran kontolku sambil menahan tawa,,maaf bang aku gak tahu klo ada abang,,ia lalu keluar.anjir lagi2 aku dibuat minder dgn ukuran kontolku.

Setelah selesai bekerja sore hari saat sedang santai kami nyantai di taman belakang rumah sambil minum kopi dan menghisap rokok

A : yat tadi kau kamar mandi,kau menertawakan ukuran kontolku ya?

K : eee,,enggak bang,,sumpah

A : gak usah pakai sumpah2 deh,,nanti kamu mandul gak bisa bikinin adek buat anakmu loh

K : ya kejam amat bang

A : berarti bener??

K : abang gk pingin punya abang tambah besar dan panjang

A : lah punyamu segede apa?

Ia lalu memperlihatkan kontolnya,,anjingg gede banget punya nih anak “batinku.

A : apaan sih lu,,kau kira gw homo apa

K : ( memasukkan kembali senjatanya ) tadi abang mau tahu,,klo abang mau aku bisa anterin abang buat gede in tu burung,,emang puas cewek dgn ukuran segitu??

Anjing nih anak omongannya “batinku,,tapi bener juga sih,mantan2ku dulu sepertinya biasa2 saja ekspresinya klo ngentot

A : gak ah,,nanti malah gak aman buat kesehatan

K : gak aman gimana bang,,kan caranya tradisional,,gak pakai obat2an kimia

A : (kayanya boleh dicoba nih) memang bisa permanen dan bikin kuat gak yat??

K : pasti permanen bang,,abang klo ngesek berapa lama biasanya??

A : ya normal nya lah yat ,10 menitan

K : wkwkwkwk,,cuma segitu

A : lah kamu emang berapa lama??

K : nanti abang buktikan sendiri saja,,gimana bang??

A : boleh lah yat minggu besok saja gimana??

K : oke terserah abang,,tapi berangkatnya sabtu saja,,nanti mampir kerumah biar abang tahu rumah aku,kan abang sudah aku anggap saudara sendiri,,masa gk mampir kerumah

A : terserah kamu lah

Sabtu sore pukul 3 aku suruh kayat beres2,setelah mandi dan menutup semua pintu aku lalu menitipkan kunci ke pos satpam.kebetulan paman kayat yg jaga.ia memboncengku karena ia yg hafal jalan,hampir sejam kami berkendara tapi belum sampai,malab sekarang jalan yg kami lalui adalah hutan dan jalannya gk beraspal lagi untuk gk musim hujan jadi gak becek.

A : yat masih jauh??

K : mungkin sejam lagi bang

A : hah,,kamu gak kesasar kan?

K : ya gak lah bang,,aku kan orang sini

A : jangan2 kau ingin celakain aku yat??

K : ngomong apa sih bang,,kan abang sudah aku anggap saudara sendiri

A : terserah lu lah yat,,eh tapi klo ada warung berhenti dulu yat,,kita makan

K : wkwkwk,,,ini tengah hutan bang,,bukan tengah kota

Setelah menahan lapar dan pantat terasa panas,akhirnya aku sampai dirumah kayat.

K : deket kan bang??

A : dekat pala lu,,pantat kaya kobong nih

Rumahnya terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung.aku dipersilahkan masuk olehnya.ia lalu menggendong anaknya yg kira2 berusia 2 tahunan.dalam hati aku merasa iri dngannya karena bisa berbahagia dgn keluarganya.aku juga diperkenalkan dgn istri dan orang tuanya mereka sangat baik kepadaku.

Esoknya setelah mandi aku duduk2 didepan rumah.istri dan ibu kayat keluar sambil ngegendong anaknya ia mau pergi kepasar sekaligus kerumah saudaranya

A : yat istri kau bisa naik motor??

K : bisa bang,,kenapa??

A : tu suruh bawa motor saja kasihan klo jalan kaki apalagi gendong anak lu

K : gak usah bang

A : sudah nih kuncinya

Aku juga beri 2 lembar uang seratus ribu buat beli bensin dan tambah2 buat belanja

K : bang sekarang??

A : apanya??

K : ya elah,,tu kontol masa dari kecil cuma segitu saja

A : anjirrrr,,kau ya,,emang dimana rumahnya tu orang bisa gedein kontol??

Tiba2 ia panggil bapaknya,,hal itu sontak membuatku kaget dan malu

A : hey kenapa kau panggil bapak kau,malu tahu

Selang beberapa lama bapaknya kayat yg benama pak abuy keluar

P : ada apa yat??

K : ini pak,,bang ray burungnya minta dibesarin,,,wwkwkk

A : apaan sih kau yat

P : bener nak rey

A : ii,,,iya pak,kataku sambil malu2

P : gak usah malu2 nak,,sebentar bapak ambil peralatannya dulu

A : yat jadi bapak kau sendiri??

K : iya bang,,tenang saja bapak sudah ahlinya disuku kami dan hanya kepala suku yg mampu melakukan itu

A : hah,,, kepala suku??

K : iya bang,,bapakku adalah kepala suku disini

Dari dalam pak aboy keluar sambil membawa sebuah tas yg terbuat dari rotan

P : ayo nak?

A : kemana pak,,disini??

P : ya gk lah kita ke goa yg tak jauh dari sini,,yat kau jaga rumah ya??

A : iya pak

Kami berjalan mengusuri jalan setapak,tak jauh memang goa itu dari rumah kayat mungkin 10 menitan sudah sampai

P : sekarang buka semua pakaian nak rey??

A : hah

P : nak rey jangan takut,,meski kami orang2 pedalaman,,tapi kami punya budi pekerti

A : baik pak

Pak abuy mengeluarkan alat2 dari dalam tas,dan aku melepas semua pakaianku hingga telanjang

P : hihihi,,kecil kali burung kau nak,,tp tenang sebentar lagi punyamu akan berubah,,sekarang kau pilih,,kau ingin seberapa besar ukuran burungmu

Pak kayat menyuruhku memilih salah satu dari 4 buah batang kayu yg bentuknya mirip kontol tapi bolong dibagian tengahnya,,ukurannya dari yg terkecil kira2 15 cm sampai yang paling panjang sekitar 21 cm tapi besar semua benda itu hampir sama kira2 berdiameter 7-8 cm.karena aku selama ini minder dgn ukuran kontolku maka aku pilih yg paling besar

A : yang ini saja pak yg paling besar

P : hehehe,,yakin nak??

A : gak apa2 nak,,ya sudah sekarang nak rei tidur diatas batu itu

Kemudian pak abuy memijat disekitar paha dan selakanganku menggunakan minyak yg baunya menyengat tajam di hidung,,belum lagi pijatannya yg cukup sakit sehingga aku berteriak,,untung saja tempatnya jauh dari keramaian.setelah memijit pak abuy mengikat tangan dan kakiku ke empat penjuru sehingga aku terlentang dan kedua kakiku mengangkang lebar

A : pak kok pakai diiket segala pak??

P : klo tak di ikat nanti nak rey akan melepas alat yg bapak pasang,,dan itu akan gagal

Kemudian pak abuy membungkus kontolku dengan daun yg tak kutahu jenisnya,,ada ia juga melumuri bagian dalam kayu yg berbentuk kontol itu kemudian ia memasukkan kontolku kelubang alat itu dan mengikatnya agar tak terlepas

P : nak nanti rasanya akan terasa sakit dan panas,,nak rey boleh berteriak,,tenang gak ada yg mendengar nya

A : berapa lama pak??

P : mungkin sekir 45 menitan,,sekarang bapak akan keluar cari ramuan buat nak rey minum,,tenang tempat ini aman

A : baik pak

Pak abuy keluar dari goa lalu menutup pintu goa yg terbuat dari bambu anyaman,sepuluh menit kemudian kontolku mulai terasa hangat,,rasanya semakin panas dan sakit,,puncaknya sekitar menit 30 keatas rasanya sangat panas,

Kontolku rasanya seperti terbakar,,dan juga sakit seperti digigit hewan buas,,aku berteriak sangat keras,,,bahkan aku sampai pingsan.saat tersadar pak abuy sudah kembali,meski ikatanku sudah terlepas tapi tenagaku lemah sekali

P : sudah sadar nak??

A : aarrghh,,sakit dan panas pak

P : tenang nak,,semua sudah selesai dan berhasil,,lihatlah burungmu sekarang

Aku kaget melihat ukuran kontolku yng berubah sangat drastis,,kontolku sangat besar dan panjang

P : minumlah ini nak biar energimu kembali lagi

Selesai minum,perlahan tenagaku mulai pulih

P : gimana kamu puas nak??

A : ia pak,,aku sangat senang,,berapa aku harus bayar semua ini pak??

P : sambil tersenyum ia berkata ” gak usah bayar,,kamu sudah baik dgn anak bapak dgn memberi pekerjaan,,itu sudah sangat lebih dari cukup

Lalu kami kembali kerumah,dan dirumah kayat tetap saja membulyku

K : sudah selesai bang??cepat cari wanita,,buat apa besar klo dianggurin BandarQ

A : anjing kau

K : wkwkwkk

Esoknya kami kembali ke tempat kerja,,dan waktu terus berputar dgn cepat,rumah yg aku kerjakan hampir selesai,dan sore itu ada orang yg ingin rumahnya dicat ulang,,krn mungkin 3 hari lagi aku kembali ke daerahku maka kerjaan itu ku kasihkan kayat,apalagi itu rumahnya beda daerah.

A : yat kau kerjakan ya rumah tu bapak,rmh ini mungkin esok sudah selesai,,dan aku akan kembali ke daerahku,,tenang harganya sama dgn rumah ini,,tadi aku sudah deal sama orangnya

K : tapi,,bagian abang gimana??

A : gak usah kamu yg kerja,,kamu ambil semua,,anggap saja sbg rasa persaudaraan kita

K : baik klo gitu,,terima kasih bang,,abang sudah baik sama aku

A : sama2 yat aku juga sangat senag bisa bertemu dgn kamu,,kamu kerja yg sungguh2 biar lancar

K : ia bang,,klo gitu besok kamu bisa kerjain tu rumah,,nih alamat dan no tlpn tuan rumahnya

Esoknya kayat pindah ketempat kerja yg baru

K : bang terima kasih ya atas kebaikan abang sama saya

A :ah biasa saja yat aku juga senang bisa bersahabat dgn kamu

K : klo suatu saat nanti abang dapat kerjaan disini abang cari pak satpam didepan saja,dia paman saya nanti biar dia yg antar abang

A : baik yat,hati2 dijalan

sebelum ia pergi ia berkata

K : oh ya bang,abang harus bijak dgn kontol abang

A : emangnya kenapa yat??kamu jangan bikin aku takut

K : gak bang soalnya kata bapak kontol abang ditulisi rajah,dan tidak akan keluar dalam waktu yg abang inginkan

A : maksudnya gimana?

K : klo abang ingin klimaks abang harus baca

Ia membisikan bacaan yg cukup singkat kepadaku

K : abang baca dalam hati saja jangan pakai speker,,wkwwkk

A : anjing kau yat,,kenapa baru sekarang ngomongnya

K : ya sudah bang aku pergi,,sampai jumpa lagi

A : baik,,hati2

Mungkin setengah hari lagi kerjaan rumah sudah selesai,,dan kutelpon teman juraganku klo kerjaanku sudah selesai.tapi saat ku telepon temen juragan ku bilang klo ia sedang di pulau B ada kerjaan,,tapi ia bilang nanti istrinya yang datang dan lunasi sisa pembayarannya.

Aku kerjakan pengecatan yg tinggal sedikit,setelah selesai aku membersihkan rumah itu agar nanti tuan rumahnya senang dan setelah beres aku kemudian membersihkan diri.tak terasa hari sudah sore,sambil nyantai nunggu tuan rumah aku bikin kopi sambil menghisap rokok. Ngocoks.com

Aku mendengar sepertinya ada mobil yg berhenti didepan rumah,aku lihat siapa yg datang dari jendela ruang tamu.sesosok wanita setengah baya kira2 umurnya 40 tahunan turun dari pintu kemudi,,

Wanita berhijab memakai gamis yg tidak terlalu besar sehingga payudaranya yg besar menggoda nafsu,ia sangat cantik tubuhnya masih terlihat kencang,maklum secara ekonomi ia tidak kekurangan.aku lalu keluar rumah, mungkin ini istrinya pak harso teman juraganku yg baru aku ingat namanya

S : sudah selesai semua nya mas??

A : sudah bu,,silahkan dicek semua,,klo ibu ngerasa ada yg kurang berkenan,,nanti saya akan perbaiki

Ia berjalan menyusuri setiap ruangan rumah sambil melihat pekerjaanku,aku yang mengikuti dari belakang dibuat konak oleh pantatnya yang sangat menantang.aku coba tepis nafsuku,gak enak klo ia tiba2 hadap kebelakang dan melihat kontolku lagi ngaceng.

S : gak ada yang mengecewakan mas,,kerjaan kamu rapi banget saya suka

A : terima kasih bu

S : oh ya nama saya santi,,nama kamu siapa

A : pangggil saja rey,,bu

S : oh ya kamu punya rekening kan biar aku transfer saja

A : ada bu,,ini nomornya

Ia mengeluarkan hpnya dan mentransfer sisa pembayaran

S : sudah masuk mas,,coba kamu cek

A : ini kelebihan bu

S : gak apa2,,itu bonus buat kamu,,saya senang dgn pekerjaan kamu

A : klo gitu terima kasih bu

S : oh ya kapan kamu balik,,nanti saya pesenin tiket nya

A : mungkin dua hari lagi bu,,gak apa2 kan klo sementara saya numpang disini

S : ya gak apa2 lah rey lagian rumah ini akan ditempati nanti setelah suami pulang dari bali,kira seminggu lagi

A : terima kasih bu


Bersambung…

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Minggu, 26 Oktober 2025

KISAH NYATA, TOXIC RELATIONSHIP


Sahabat Poker - Cerita ini hanya fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahakan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.

Diharapkan bagi anak kecil bijak dalam memilih cerita cerita yang ada di situs ini agar meninggalkan halaman ini jika umur dibawah 21 tahun kebawah, resiko ditanggung sendiri.

Toxic Relationship – Olin adalah seorang remaja yang baru saja lulus dari pendidikannya. Usia Olin yang terbilang cukup muda kini sudah mulai memasuki dunia kerja. Olin berkerja sebagai waiters di salah satu cafe Bandung. Hidup nya selalu berjalan monoton sampai ia bertemu dengan lelaki tampan yang membangunkan hasrat cintanya.

Olin menghela nafas untuk kesekian kali sambil memegang lap kering di tangan kiri. Matanya tertutup lalu terbuka lagi beberapa kali menahan rasa kantuk yang menerjang di siang hari. Dirinya sudah diam begitu lama menunggu seorang pelanggan yang tak kunjung datang membuatnya bosan karena harus seperti ini setiap hari.

Jam dinding terus berdetak hingga menunjukan pukul 4 sore, sudah waktunya para remaja pulang sekolah. Olin menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk lalu meregangkan otot-otot nya yang hampir membeku karena duduk terlalu lama.

Kakinya berjalan kearah salah-satu meja sambil membawa lap untuk membersihkan meja tersebut, ia tahu bahwa cafe akan mulai ramai jika sore hari tiba. Tangannya sibuk mengelap beberapa meja sambil melantunkan melodi dari bibir kecilnya.

Gerakan terhenti ketika pintu cafe terbuka menandakan seorang pelanggan datang. Olin membeku melihat paras tampan seorang pelanggan pertamanya itu, dengan lengan baju terlipat sampai siku, rambut yang sudah sedikit berantakan menimbulkan kesan tampan darinya.

“cakep gini bininya seberuntung apa ya?” gumam Olin sambil terus memperhatikan lelaki yang berjalan melewati. Olin menggelengkan kepalanya lagi untuk kembali fokus pada pekerjaan. Kakinya berjalan kearah kasir untuk melayani pria tampan itu.

“Silahkan ka, boleh saya bantu. Mau pesan apa? ” ucap Olin sambil tersenyum ramah. pria itu tampak berpikir saat melihat menu. Olin yang memperhatikan pun sangat takjub melihat manusia sempurna di hadapannya.

“Ice americano saja satu, lalu saya ingin sweet cake juga. ” pria itu membaca salah satu menu sambil mengucapkan keinginan nya.

“Baik kak, untuk sweet cake nya mau yang mana ya? ”

“yang mana saja, anda yang memilih” ucap pria itu dengan sorot mata dingin.

‘eh’ Olin terdiam sejenak tidak mengerti Lalu dengan cepat menganggukan kepalanya menanggapi pria tersebut.

“Satu ice americano dengan sweet cake. Untuk total hanya tuju puluh ribu saja kak. Mau bayar tunai atau qris?” Olin menyebutkan kembali pesana pria tersebut sambil menyodorkan papan qris yang biasa dipakai orang-orang berbelanja pada jaman ini.

Pria tersebut mengeluarkan hp nya lalu menge-scan qris dan menunjukan bahwa ia telah selesai melakukan pembayaran virtual.

“Baik, pesanan saya Terima. Nanti saya antarkan pada meja kaka, Terimakasih telah datang! ” Olin tersenyum ramah yang dibalas anggukan oleh pria itu.

Pandangan Olin tidak bisa berhenti memperhatikan punggung lebar berjalan menjauhi kasir. Pria itu memilih salah satu meja dekat jendela menghadap jalan raya.

Tak memperdulikan sekitarnya, pria itu membuka laptop dan mulai menyibukan diri pada dunianya. Olin memukul kepalanya sendiri karena sangat tidak fokus, kakinya berjalan ke dapur memberitahukan pesanan kepada salah satu teman kitchen.

10 menit berlalu.

Olin tersenyum kecil sambil terus memperhatikan pria yang sedang berkutat dengan laptop sebelum seseorang menepuk pundaknya.

“Kesambet lu liatin suami orang begitu. ” Ucap rekan kerja nya sambil memberikan nampan berisikan pesanan pria tersebut.

Olin terkekeh kecil “Siapa tau masih lajang ka! ” Ucapnya membuat takjub dengan kelakuan waiters barunya ini.

Olin berjalan kearah pria tersebut dan menyimpan pesanannya dengan lembut.

“Di nikmati ya kak. Selamat berkerja. ” dengan bibir yang tak bisa tersenyum Olin kembali ke meja kasir untuk melayani pengunjung lain yang mulai berdatangan.

4 jam telah berlalu, kini sudah menunjukan pukul 8 malam. Para pelanggan satu-persatu pergi meninggalkan cafe, hanya saja tersisa beberapa anak muda dan pria tadi yang masih sibuk dengan laptopnya enggan untuk pergi. Olin melihat kearah jam yang ada di pergelangan tangannya sambil mendesah pelan.

Seharusnya cafe ditutup pukul 8 malam tapi karena masih ada yang sibuk dengan urusan nya, Olin putuskan untuk menunggu satu jam lebih lama.

1 jam telah berlalu namun pria itu masih diam tak berkutik fokus pada laptopnya. Karena malas menunggu lebih lama, Olin berjalan kearah pria tersebut dan tersenyum ramah.

“Hallo kak, ini waktunya cafe kami tutup.”

pria tersebut menoleh menatap wajah Manis Olin dan beralih menatap jam yang berada dipergelangan tangan nya.

“Duh, maaf mbak saya lupa waktu karena terlalu fokus pada pekerjaan saya. ” Pria tersebut merasa sungkan sambil sibuk membereskan barang-barang.

Olin menggeleng ramah “tidak apa-apa kak, silahkan datang kembali besok” Ucap Olin yang dibalas anggukan dari pria tersebut. Olin pergi mengambil tas nya dan segera bergegas untuk pulang.

***

Kruukkk

“akhh, lapar.. ” Olin memegang perut nya sambil mengaduh kecil, jam sudah menunjukan pukul 10 malam, dimana ia belum makan sama sekali sejak tadi sore. Sambil terus berjalan, Olin melihat sebuah Minimarket yang terletak tak jauh dari tempat ia berjalan. Dengan sigap Olin berjalan mendekati minimarket tersebut berencana membeli sesuatu untuk makan malam nya.

“silahkan kak. ”

Olin tersenyum ramah saat memasuki minimarket tersebut, kaki nya terus berjalan sambil terus berpikir apa yang harus ia makan malam ini. Setelah lama berputar, Olin memutuskan untuk membeli mie instan dan beberapa cemilan kecil untuk malam ini.

“total nya jadi enam puluh lima ribu kak. ” Ucap kasir tersebut saat sudah selesai menghitung belanjaan. Olin membuka hp nya dan siap untuk men-scan qris yang tersedia. Namun aktifitasnya terhentikan saat ia melihat saldo yang tersisa hanya lima puluh ribu saja.

“duh!” Ia memukul kening sendiri menyadari bahwa kemarin sudah membeli beberapa makanan dan belum sempat mengisi ulang saldonya. Olin memeriksa kedua saku celananya berharap ada uang cash yang lupa ia simpan. Tetapi nihil, Ia jarang sekali membawa uang cash karena alasan tertentu.

Mba saya ga bawa uang cash, saldo saya pun sisa lima puluh ribu saja, ini boleh di simpan beberapa kan ya makan-”

“Masukan ke tagihan saya saja. ” Seorang pria tiba-tiba memotong perkataan Olin sambil menyodorkan satu buah air putih. Olin membalikan tubuh melihat siapa yang berada di belakang dia. Matanya melotot menatap wajah tampan yang ia lihat beberapa menit terakhir di tempat kerja. Dengan malu ia menundukan kepala nya.

Sang kasir mengangguk dan mulai menghitung. “jadi dua puluh ribu kak. ” Pria tersebut memberika satu lembar uang cash bernominal dua puluh ribu. Saat pria tersebut berjalan keluar, Olin menarik ujung lengan baju nya yang terlipat.

“Terimakasih kak. Besok kalau kakak datang lagi ke cafe, saya ganti yang hari ini. ” Olin menunduk malu.

Tak ada respon sama sekali. Olin memberanikan diri mengangkat kepalanya. Pria tersebut menautkan kedua alis terlihat bingung.

“Saya pegawai cafe tadi sore kak. ” Jelas Olin menyadari pria tersebut lupa dengan wajahnya.

“Sama-sama. Tidak usah di ganti, lagipula besok saya tidak ke sana karena ada urusan penting.”

“oh, kalau begitu boleh minta nomor nya? biar saya transfer saja? ”

Tidak ada respon lagi, pria tersebut mengambil handphonenya yang berdering dan pergi meninggalkan Olin yang kebingungan.

“apasi anjir, mboh ah mau makan. Laperrr gue. ”

***

Hari ini hari Sabtu. Olin sudah sedari tadi menunggu kehadiran pria tampan yang membantu nya kemarin membeli makanan, tetapi nihil. Benar saja kata pria itu bahwa ia tidak akan datang.

“ini gue emang mau bayar ya anjir, bukan modus. ” gumam Olin sembari menguap.

Setelah lama menunggu, malam pun telah tiba kembali. Olin melepas rompi dan bersiap untuk pulang. Jalan yang ramai oleh hilir anak muda dan tua yang sedang pergi jalan-jalan pada malam minggu sangat memenuhi beberapa toko disana.

Olin menghela napas dan membuka hpnya berniat untuk memesan makanan melalui apk online karena ia malas mengantri. Saat asik memilih pesanan, tak sengaja ia menabrak sesuatu yang besar.

“awhh!! ” desisnya.

“kamu? ” suara berat seorang pria yang ia kenal kemarin kembali terdengar. Olin tersenyum lega.

“Kaka! akhirnya ketemu!! Ini saya mau ngasih uang yang kemarin, terimakasih ya! ” ucap Olin antusias sambil menggerogoh saku milik nya.

“pftt, sudah saya katakan tidak perlu. Tapi terimakasih kembali karena sudah membayarnya. Saya ambil ini” pria itu terkekeh mengambil uang yang Olin berikan. Olin yang pertama kali melihat manusia setampan itu tertawa tepat di hadapannya, langsung membuat hatinya berdebar dengan pipi yang merah malu. BandarQ

Pria yang menyadari pipi Olin memerah pun menahan tawa lagi dan berdeham kecil.

“ekhem, ada apa? Sudah selesai kan? ” tanya nya sambil terus menatap ke arah Olin.

“eh.. iya udah! makasih ya kak sekali lagi, jangan lupa besok mampir!! ” Olin menyadarkan diri nya dan pergi melalui pria tersebut yang masih menahan tawa atas tingkah aneh Olin.

Saya mengambil uang yang di berikan wanita muda di hadapan saya sambil menahan tawa karena wajah nya yang lucu.

“ekhem, ada apa? sudah selesai kan? ” tanya saya memastikan sambil terus memperhatikan wajah nya yang terus memerah.

“eh.. iya udah! makasih ya kak sekali lagi, jangan lupa besok mampir!! ” Alis ku terangkat satu memperhatikan wanita tersebut jalan dengan cepat dan tertawa lepas saat sudah tidak terlihat lagi barang hidung nya.

“lucu juga anak kecil” gumam saya sambil membuka handphone dan melanjutkan aktifitas yang tertunda tadi.

“anjrit anjrit cakep banget cok, kok bisa cakep gitu. Gila istrinya pasti beruntung banget!! kalau gua istrinya, pasti abis tiap hari gua terkam tu om-om. ” Olin mengoceh sendiri sambil terus memegangi pipinya yang memerah tadi.

“sumpah beneran gila gua, apa jadi selingkuhan nya aja kali ya? ” lanjut Olin.

“Olinnn!!! ” teriak seorang wanita yang berlari ke arah Olin sambil melambaikan tangannya.

Olin membalas sapaan tersebut dan tersenyum ramah “haiiiii nida! tumben ga sama helin?” tanya Olin kepada sahabat nya itu.

“gue kan mau nge-date” nida membalas pertanyaan Olin dengan genit. Olin tertawa kencang.

“HAHAHHA? ih parah banget ga bilang bilanggg mau nge-date!!! sama siapa dah? ”

“nanti deh gue ceritain, lu mau kemana? baru balik kerja? ” Nida melihat Olin dari atas sampai bawah sambil bedecak kesal.

“cih, iri banget gue liat nya. Kok ada manusia secantik lu sih?” lanjut nya.

“cantik sih, ga laku tapi. ”

Nida tertawa keras mendengar sahabat nya itu “pepet suami orang aja. ”

“emang mau!”

plak!!

“gila, dah ah gue mau berangkat dulu! keburu telat. Daaa cinta muahh”

“sukses deh lu, jangan kebanyakan ilfeel nanti jomblo kaya gua! daaa” Ucap Olin yang dibalas dengan juluran dari nida. sumber

Jam berdering berkali-kali tak membuat Olin berkutik. Matanya masih tertutup rapat asik bergelut dengan selimut, ditemani suara kicauan burung pagi hari semakin membuatnya tak berniat untuk bangun. Hari ini bukan jadwal ia untuk masuk karena adanya pembagian shift perminggunya.

Saya pegawai cafe tadi sore kak. ” Jelas Olin menyadari pria tersebut lupa dengan wajah nya.

“Sama-sama. Tidak usah di ganti, lagipula besok saya tidak ke sana karena ada urusan penting.”

“oh, kalau begitu boleh minta nomor nya? biar saya transfer saja? ”

“FAK, kok mimpiin tu om-om si akhhh. ” matanya terbuka lebar saat suatu adegan dua hari lalu terputar oleh otaknya. Sungguh memalukan “dia nyangka gue manusia murahan ga ya minta minta no cowo? tapi kan buat tf, kayanya ngga deh? tapi-ARGHHH” Olin teriak prustasi.

“Yaudah lahh! Mending gue mandi, waktunya me time gurllsss~”

Lembar demi lembar telah ia baca sesekali tangan nya bergerak untuk menyesap susu coklat hangat. Olin mengambil handphone lalu menghentikan lagu yang terputar pada playlist favorite, netranya menatap sekeliling cafe yang ia datangi.Ia berjalan kearah kasir berencana membeli beberapa kue untuk menemaninya.

Brughh

“Shitt, panas!” Olin dikejutkan oleh seorang anak kecil yang sedang membawa sebuah minuman menabrak dirinya yang sedang berjalan. Tumpahan kecil tak sengaja mengenai sepatunya, Olin tersenyum sabar mengingat hanya seorang anak kecil yang menabrak nya.

“teteh, maaf. Aku nda sengaja” cicitnya.

Olin mengacak rambut anak tersebut gemas, “it’s okay sayang, lain kali jangan berlarian di tempat seperti ini ya cantik? apalagi kamu membawa sesuatu di tangan” Ucap Olin dengan senyum yang masih tercetak pada wajah cantiknya. Anak kecil tersebut mengangguk dan berjalan dengan hati-hati.

Olin mendesah pelan mengingat ini sepatu baru yang Ia beli di pasar kamis kemarin, dan sekarang telah kotor terkena noda minuman. Sebelum noda tersebut menempel, ia bergegas pergi ke toilet untuk membersihkan nya.

“semoga toilet nya ga penuh deh, nanti keburu kering lagi. ” Pintu toilet dibuka, matanya melotot saat melihat seorang pria tengah berdiri di depan salah satu pintu.

“WOY! NGAPAIN DI TOILET WANITA? ” Olin berlari kecil memukul punggung pria tersebut dengan keras.

“Aduh, shhh” pria tersebut membalikan tubuhnya menatap wanita yang tak asing.

Olin membelalakan matanya untuk kedua kali “KAKA? ”


Bersambung…

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Sabtu, 25 Oktober 2025

KISAH NYATA, SUDAH NIKAH MASIH JAJAN

Sahabat Poker - Tia memberikan HP-nya kepada kakak iparnya untuk memperlihatkan foto-foto yang diambilnya dari HP suaminya, Bram. Citra, kakak ipar Tia, menyandarkan punggung ke kursi salon yang didudukinya sambil membuka satu per satu foto-foto itu. Di cermin terlihat pantulan muka Tia yang cemberut.

“Oo,” gumam Citra tanpa ekspresi, “Beginian. Dasar Bram. Penyakit lama, nih”.

Tia agak kesal melihat kakak iparnya—merangkap pemilik salon tempat mereka berdua ngobrol—‘biasa saja’ melihat foto-foto perempuan lain yang membikin Tia dan Bram bertengkar dua hari lalu. Waktu itu Tia makin marah ketika Bram mengakui bahwa perempuan-perempuan itu PSK.

“Penyakit lama, Kak Citra? Apa dari dulu Mas Bram memang suka jajan?” “Emmm…” gumam Citra sambil mengambil sebatang rokok dari bungkusnya yang ada di meja, “Iya sih. Lho kamu kok malah baru tahu. Gimana. Kamu kan istrinya.”

Tia malu sendiri. Tapi dia memang tidak bisa disalahkan, karena pernikahannya dengan Bram baru berjalan setahun, dan sebelumnya mereka berdua tidak pernah pacaran.

Keduanya memang dijodohkan oleh orangtua masing-masing yang rekanan bisnis, dan sekarang mereka sama-sama disiapkan jadi penerus usaha keluarga besar mereka.Tia dan Bram sudah kenal sejak kecil, tapi mereka baru mulai saling mengakrabkan diri setelah menikah.

Satu yang Tia tahu, keluarga Bram memang longgar dalam mendidik anak-anaknya. Jadi seharusnya dia tidak heran kalau Bram ketahuan punya kebiasaan buruk seperti itu. Sama saja dengan kakak Bram, Citra.

Citra yang sekarang berumur 30-an tadinya malah disiapkan untuk dijodohkan dengan seorang saudara Tia, tapi karena terbiasa bergaul sangat bebas, Citra dihamili temannya waktu kuliah dan terpaksa dinikahkan dan selanjutnya diusir karena bikin malu keluarganya.

“Terus gimana nih?” Citra bicara sambil menjepit rokok yang baru dinyalakan dengan bibirnya yang tersaput lipstik merah jambu tebal. “Kamu udah dua hari nggak ngomong sama Bram. Apa mau terus-terusan? Ah, tapi kamu kan anak baik. Pasti kamu mikirin keluarga besar kita. Gak enak sama mereka kalau sampai… cerai.”

“Nggak!” jerit Tia. “Bram emang salah sih, tapi Kak, aku nggak niat cerai sama dia. Aku udah mulai belajar sayang dia Kak. Dan aku juga baru tahu kebiasaan dia yang ini. Makanya aku datang minta saran Kak Citra, gimana baiknya aku hadapi masalah ini. Kak Citra kan lebih kenal Bram,” suara Tia mengecil karena malu, “…lagian aku nggak mau nyusahin orangtua kita semua.”

Baik banget ini anak, pikir Citra. Cuma saat itu juga Citra merasa dapat satu lagi alasan yang bisa dia kasih kalau ada orang tanya pendapat dia tentang menikah tanpa pacaran. Tia, yang tidak pernah pacaran dengan Bram, kaget waktu kebiasaan buruk Bram ketahuan sekarang.

Kalau Tia pacaran dulu sama Bram, pastinya mereka bisa lebih saling ngerti, atau bisa putus tanpa repot kalau memang Tia nggak suka. Citra mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menyemburkan asap dari mulut.

Tia menghindar sambil mengipas-ngipas di depan muka. Kakak iparnya itu sudah merokok sejak SMA, dan kadang-kadang Tia mengira Citra selalu bermake-up tebal (seperti saat mereka ngobrol sekarang) untuk menutupi penuaan dini di mukanya yang sudah belasan tahun kena asap rokok.

Citra memang tidak pernah tampil tanpa riasan lengkap, rambut tertata, dan pakaian mencolok; tidak hanya sejak dia membuka salon, tapi sejak dia remaja. Tia melihat Citra seperti berpikir sambil merokok, lalu membetulkan tali sackdressnya yang melorot dari bahu.

Sackdress hitam agak transparan itu gagal membuat bra merah yang ada di bawahnya tidak kelihatan. Citra lalu menaruh rokoknya di asbak, tersenyum, berdiri, lalu mendekati Tia.

“Kalau menurutku sih begini saja…”

……. ….. … .. .  .   .

“KOK GITU SIH CARANYA???” Tia tidak bisa menahan volume suaranya setelah mendengar saran Citra sampai habis. Yang memberi saran dengan santainya mengambil lagi rokok yang tadi ditinggal lalu meneruskan menyedot batang rokok.

“Terserah kamu sih. Saranku ya gitu. Kalau mengingat sifatnya Bram sih kupikir cara itu mempan. Kalau kamu mau coba tanya orang lain, silakan.”

“…” Tia diam saja.

“Kalau kamu mau, aku siap bantu. Gratis,” kata Citra, sambil nyengir. “Bukan cuma sekali, tapi seterusnya juga boleh. Hitung-hitung balas budi sama kalian yang udah bantu aku selama ini.”

“…Sebentar. Aku pikir-pikir dulu,” bisik Tia, menimbang-nimbang.

Ternyata dia perlu waktu lama sekali buat menimbang-nimbang. Berkali-kali dilihatnya lagi foto-foto yang diambilnya dari HP Bram.

“Mas, aku mau bicara sama kamu nanti malam.” SMS itu Tia kirim ke HP Bram.

Bram, yang sudah uring-uringan sejak bertengkar dengan Tia setelah ‘foto-foto kenangan’nya ketahuan, menarik nafas lega di kantor.

Menjelang sore.

Sesudah memastikan jalanan di luar kosong, Tia langsung keluar dari salon Citra dan secepatnya menuju rumah besar di sebelahnya. Rumah itu rumah Bram dan Tia; Citra tinggal dan buka usaha di sebelah rumah mereka berdua.

Sewaktu mau membuka pagar rumahnya sendiri, Tia kalang-kabut ketika melihat mobil Mercedes-Benz hitam muncul di ujung jalan. Tapi dia sempat masuk ke rumah sebelum Mercy itu lewat. Mercy itu tidak berhenti di rumahnya, karena memang itu mobil orang lain; mobil mewah itu berhenti di depan salon Citra.

Dari balik pintu supirnya keluar seorang laki-laki, yang lantas mengunci Mercy itu, lalu masuklah dia ke salon Citra. Semua itu tidak sempat diperhatikan Tia. Tia sendiri sudah cukup lega karena tidak kepergok siapapun dalam perjalanan yang cuma beberapa meter saja dari tempat kakak iparnya.

“Aku pulang kira-kira sejam lagi.” SMS dari Bram masuk ke HP Tia.

Tia duduk sendirian di dalam kamar di depan cermin. Normalnya dia bakal melihat rona mukanya sendiri berubah merah karena perasaannya yang campur aduk, tapi kali ini agak susah bagi dia. Rumah itu baru terisi mereka berdua, Bram dan Tia, yang menikah tahun lalu. Belum ada anak.

Selama ini kehidupan mereka lancar-lancar saja. Tia ‘si anak baik’ menerima saja ketika orangtuanya dan orangtua Bram memutuskan perjodohan mereka. Bram juga bukan suami brengsek. Setidaknya sampai belangnya ketahuan beberapa hari lalu. Hanya saja Tia sering merasa Bram seperti bosan dengan dirinya.

Tia masih muda. Bram lebih tua sedikit. Setelah lulus kuliah keduanya dijodohkan dan tak lama sesudahnya menikah. Karier mereka berdua terjamin karena mereka berdua akan meneruskan usaha yang dirintis orangtua-orangtua mereka, dan mereka sama-sama sedang bekerja di sana, hanya di bagian yang berbeda.

Tia punya banyak waktu luang dan bisa bekerja di rumah, sedangkan Bram banyak bepergian keliling kota dan kadang-kadang ke daerah. Sebenarnya Bram tidak bisa dibilang rugi dijodohkan dengan Tia, yang berwajah lumayan menarik.

Citra, yang sudah kenal duluan dengan Tia sebelum Tia mengenal Bram, pernah bilang dia iri dengan tubuh Tia yang lebih sintal daripada tubuhnya sendiri.

Tapi kalau keduanya berjejer, orang bakal lebih banyak yang menengok ke arah Citra daripada Tia, karena Citra selalu tampil ‘meriah’ dengan dandanan cenderung menor dan pakaian seksi, sementara Tia selalu terlihat polos dan biasa berpakaian konservatif.

Tia masih tidak percaya kenapa akhirnya dia setuju mencoba saran Citra. Tapi, pikirnya, dicoba sajalah… tidak ada salahnya.

***

Bram menyetir pulang membawa oleh-oleh kue coklat untuk istrinya yang dia kira masih ngambek, tapi sudah beritikad baik mengajak berdamai. Dia sadar, dia sendiri salah. Sudah nikah kok masih doyan jajan.

Tapi, yah, kebiasaan lama susah luntur. Dan ada hal-hal yang dia kira tidak bakal dia dapat dari Tia. Bunyi SMS datang di antara bunyi radio mobil.

Pesan dari seorang perempuan yang fotonya sampai tadi pagi ada di HP Bram. Sekarang semua foto itu sudah hilang dari HP Bram (tapi pindah ke tempat-tempat lain, tentu saja). Dan Bram tidak menanggapi ajakan dalam SMS itu.

“Jangan dulu deh”, pikir Bram.

***

Tia mendengar bunyi mobil Bram dan sesudahnya bunyi pintu rumah dibuka. Dia menenangkan diri, mengulang lagi semua yang mau dia lakukan (atas saran Citra), dan bersiap-siap. Tangannya dingin.

Berjam-jam sudah dia habiskan untuk persiapan dengan dibantu Citra tadi. Dalam hati dia berusaha membenarkan pilihannya dengan mengatakan, mungkin ini memang perlu, demi kami berdua, dan demi keluarga.

Tapi dalam hatinya berkali-kali terselip rasa penasaran. Dia ingin tahu, bagaimana jadinya nanti. Bagaimana kira-kira reaksi Bram. Bagaimana kira-kira reaksi dia sendiri.

“Sudah waktunya.” pikirnya

***

Bram melongo di pintu, memelototi Tia yang berdiri di depannya. Malam itu, Tia berubah. Tia yang sederhana dan terkesan baik-baik sedang tidak hadir. Sebagai gantinya…Tia tampil beda.

Dia memakai gaun mini ketat berbahan satin berwarna hitam yang panjangnya tidak sampai menutupi setengah pahanya, sehingga memperlihatkan stocking jala hitam yang membungkus kedua kakinya sampai berujung ke sepasang stiletto hak tinggi.  BandarQ

Di atas pinggang, gaun mini itu mendesak sepasang payudara Tia sampai nyaris tumpah ke luar, sementara pundaknya terbuka. Kebetulan warna kulit Tia coklat muda. Bukan putih atau kuning atau sawo matang, tapi warna di antaranya.

Itu juga yang membuat lapisan bedak yang membuat mukanya lebih putih terkesan lebih kentara, karena kontras antara warna muka dan badan. Ketika Tia berkedip, tampak rona biru muda di kelopak matanya, di bawah alis yang dibentuk dan dipertegas.

Kedipannya juga menunjukkan bulu mata palsu yang menempel di kedua mata. Pipinya bersemu merah, tapi karena polesan.

“Kok bengong aja, Mas? Kamu suka yang kayak gini, kan?”

Kata-kata itu meluncur dengan nada menantang dari sepasang bibir Tia yang kali ini tidak telanjang. Biasanya Tia paling-paling hanya memakai lip gloss, namun malam itu mata Bram tidak bisa lepas dari bibir Tia yang tampak lebih penuh dan sensual. Merah, mengilap, menantang. Seperti itulah saran Citra untuk Tia.

“If you can’t beat ‘em, join ‘em.” Citra kenal benar dengan Bram. Adiknya itu tidak bisa dibilang ganteng, malah tampangnya terhitung pas-pasan. Maka itu sejak dulu Bram selalu kurang mujur dalam percintaan; biarpun dia anak pengusaha, tetap saja jarang ada cewek yang mau dengannya.

Jadi dia terbiasa lewat jalan pintas dengan jajan. Dan seleranya jadi terbentuk ke arah penampilan ‘khas’ cewek-cewek penjaja cinta: dandanan seksi tapi terkesan murahan. Perempuan-perempuan macam itulah yang fotonya Tia temukan di HP Bram.

“Tia… kamu… ini maksudnya…?”

Melihat Bram bengong saja, Tia mengingat-ingat lagi apa kata Citra mengenai bagaimana dia harus bersikap. Jadi dia segera maju mendekati Bram dan menarik dasi Bram. Bram melihat istrinya menatap tajam matanya, sambil mencium bau parfum yang lumayan keras.

“Kenapa? Gak seneng kalo aku kayak gini?”

Bram kewalahan, takut salah ngomong di depan istrinya yang entah kesambet apa sampai mendadak makeover jadi seperti WP langganannya. Dia cuma bisa menjawab pelan-pelan.

“Bukan… bukan gitu… tapi kamu… Aku… nggak…”

Tia tambah sewot. Maksudnya apa itu? Apa dia malah gak suka aku jadi seperti ini? Melihat muka Bram yang tambah panik, Tia memberanikan diri untuk agresif. Dipepetnya Bram ke tembok, sambil masih memegang pangkal dasi Bram—seperti siap mau mencekik.

Bram lebih besar dari Tia, tapi saat itu seperti tidak punya kekuatan untuk melawan Tia. Sementara tangan kanannya siap membuat Bram susah bernafas, tangan kiri Tia mencari-cari bagian tubuh Bram yang paling jujur.

Tuh, kan… pikir Tia. Dia merasakan kemaluan Bram mengeras di balik celana.

Tia meremas pelir Bram. “Masih mau bohong?” katanya sengit. “Aku udah tahu. Kamu paling suka ngelihat cewek dandan sampe kelihatan murahan kayak gini kan? Itu kan alasannya kamu masih terus aja jajan di luar biarpun kamu udah punya aku kan?”

Bram mau menjawab, sekaligus merasa agak nyeri di bijinya yang ada di cengkeraman Tia. Tia sudah kelihatan marah sekarang. Tapi Bram tidak bisa menyangkal bahwa dia terangsang melihat Tia berani tampil seperti itu. Cuma dia tidak berani bilang.

“Gak usah nyangkal,” desis Tia. “Aku udah tahu seperti apa kamu sebenarnya, Mas. Tapi aku gak senang kalau kamu gak terus terang aja. Aku kan istri Mas Bram? Apa susahnya sih ngasih tau aku apa yang kamu suka?”

“Habisnya…” Bram meringis. “…ya, kupikir dibilangin juga kamu ga bakal mau…”

“Jadi kamu ga nanya dulu, nyangka aku ga mau, makanya kamu milih ngentot sama lonte? Gitu? Apa ga pernah kepikiran kalau aku bisa aja mau ngikutin kemauan Mas?” Ngocoks.com

Bram menunduk, tidak berani bicara. Pada saat yang sama, dia tambah terangsang mendengar Tia berani ngomong jorok seperti itu. Tambah sempit saja celananya terasa. Tia juga merasakan itu.

“Tuh, yang di bawah situ udah ngaku,” sindir Tia. “Bilang aja kalo suka, Mas. Jujur aja.”

“Eh… i… iya… kamu… em… cantik?” Bram merasa salah ngomong, tapi tidak tahu yang benarnya seperti apa.

“Cih. Kaya’ gini yang dianggap cantik? Seleramu payah amat, Mas,” maki Tia, walaupun dalam hati kecilnya dia senang juga dipuji seperti itu. “Tapi daripada kamu gak mau berhenti jajan…”

Sudah waktunya, pikir Tia. Lanjut…

“…mending kukasih aja.”

Didorongnya Bram ke sofa ruang depan sampai Bram terduduk. Dengan tidak sabaran Tia langsung naik ke pangkuan Bram dan memaksa mencium bibir Bram. Bram awalnya kelabakan, tapi langsung menyerah pada desakan Tia. Hampir 10 menit bibir mereka bertempur, lidah mereka saling serang.

Buat Tia sendiri, perlu kekuatan tekad sangat besar untuk bisa berpenampilan dan bersikap seperti saat itu. Seumur hidup belum pernah dia seagresif itu, jadi dia deg-degan sendiri waktu akhirnya berani bicara keras di muka Bram.

Tapi itu baru permulaan. Dia sudah berniat mau habis-habisan malam itu, dan meyakinkan Bram untuk seterusnya bahwa dia tidak mau lagi Bram main-main di luar. Artinya, dia sendiri harus melakukan semuanya supaya Bram tidak lagi punya alasan.


Bersambung…

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

KISAH NYATA , JIRAN AMOI

SAHABATPOKER  -  Sehari lepas kepulangan Maniam ke rumahnya, aku tak dengar apa-apa cerita tentang Devi lagi. Kebetulan pulak, keesokkan har...