Rabu, 31 Desember 2025

KISAH KEHIDUPAN, FREYA JAYAWARDANA JKT48

 


Sahabat Poker - Kisah ini hanya fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahakan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.

Warning!!!

INI ADALAH CERITA FIKSI MENGENAI TOKOH FIKSI

KESAMAAN NAMA, TEMPAT DAN WAKTU ADALAH KEBETULAN

SEPENUHNYA MERUPAKAN IMAJINASI PENULIS TANPA DENGAN SENGAJA MENYAMAKAN DENGAN KEHIDUPAN TOKOH YANG SEBENARNYA DAN TIDAK MENCERMINKAN PERILAKU PADA TOKOH YANG SEBENARNYA

SEMUA TOKOH ADALAH TOKOH FIKSI. KESAMAAN DENGAN TOKOH ASLI ADALAH KEBETULAN BELAKA

MENGANDUNG MATERI DEWASA YANG TIDAK COCOK UNTUK SEMUA KALANGAN.

LANJUT MEMBACA BERARTI MELEPASKAN PENULIS DARI SEMUA TANGGUNG JAWAB ATAS HAL YANG DITIMBULKAN KEMUDIAN.

HANYA UNTUK PEMBACA YANG BISA MEMBEDAKAN BEDA DARI FIKSI DAN IMAJINASI DENGAN KEHIDUPAN NYATA. MOHON MENERUSKAN MEMBACA DENGAN BIJAK.

DILARANG KERAS MENYEBARLUASKAN KARYA FIKSI INI TANPA SEIJIN PENULIS. PENULIS TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS HAL YANG TERJADI AKIBAT KARYA FIKSI YANG DISEBARLUASKAN TANPA IJIN.

Kaki jenjang Freya turun dari mobil pribadinya menapakkan jalan mulus yang ada di depan sebuah komplek besar itu. Tembok tinggi yang berwarna Orange berdiri mengelilingi sebuah komplek besar yang ada di belakangnya menutupi mata para pejalan kaki yang lewat di depan komplek besar itu.

Sebuah pintu besar yang berhiaskan ornamen tradisional berdiri di depan Freya sebelum seseorang membuka pintu itu sebelumnya Freya sempat mengetuknya atau membukanya dari luar.

Rok pendek yang dikenakan Freya bergerak tertiup angin saat gadis cantik itu melangkahkan kakinya untuk masuk melewati pintu yang dibuka lebar itu.

Beberapa orang terlihat lalu lalang dengan sedikit tergesa saat hari mulai beranjak sore itu dengan cepat berubah menjadi gelap karena awan mendung sudah menggantung dari tadi. Sesekali terdengar suara guruh yang menderu dari kejauhan saat angin dingin membuat pohon pohon yang ada di lapangan tempat Freya berdiri setelah ia melangkah masuk itu berbunyi gemerisik saat daun daunnya ditiup angin.

Mata Freya mencari cari di pada orang orang yang lalu lalang di sekitarnya sambil sesekali terlihat membungkuk pada gadis itu. Freya hanya bisa membalas dengan senyuman tipis sebelum gadis itu melangkah menyeberang halaman yang luas itu menjual bangunan besar yang ada di seberang tempat ia berdiri tadi.

“Mama?” Tangan Freya menghentikan seorang wanita muda yang melewatinya.

Gadis muda itu membungkuk sebelum menjawab : Ada di balairung Ndoro!” Langkah tergesa gadis itu hanya bisa ditatap oleh reya saat gadis itu melanjutkan langkahnya membelok dan menyusuri lorong lorong yang ada di bangunan utama itu.

Sosok pria yang berusia lanjut terlihat keluar dari sebuah ruangan yang besar. Freya tersenyum dan menunduk hormat saat ia mengenali pria yang baru keluar dari ruangan yang ia tuju itu.

“Wah sudah datang kamu Nak!” Pria itu mengulurkan tangannya untuk dicium dengan hormat oleh Freya. Tangan pria itu merangkul pinggang Freya sebelum gadis itu sempat menjauh darinya dan melangkah masuk ke ruangan yang ada di samping mereka.

“Mama kamu lagi di dalam sama Pakde Delvin!” Kita ngobrol disini dulu aja!”Pakde mau denger cerita soal kamu setelah lama gak ketemu!

Freya menuruti kemauan pria itu dan duduk di samping pria yang sekarang merangkul pundaknya sambil merasakan kehangatan tubuh pria yang nafasnya sedikit terengah saat Freya pertama kali melihatnya keluar dari ruangan yang ia tuju itu.

“Wah Besok ulang tahun ya kamu! Udah makin dewasa ya keponakan pakde sekarang!” pria itu membelai dagu Freya sambil menatapnya dalam dalam. Wajahnya terlihat bersinar menatap gadis yang ada di sebelahnya itu.

Freya hanya bisa tersenyum dan mengangguk tanpa bisa berkata apapun karena tubuhnya terus bergerak tidak nyaman merasakan belaian tangan pria yang memeluknya sambil duduk di atas kursi itu.

“Kamu sudah siap buat ritual malam nanti kan?” tangan pria itu membelai pinggang Freya yang kali ini menggeliat resah saat nafas pria itu terdengar jelas di telinganya.

“Kalau kamu gak siap! Kasian Mama kamu kayaknya sudah kewalahan gantiin kamu yang baru bisa datang buat jalanin ritual yang mustinya dilakukan kamu dulu!”

“Mau ketemu Mama dulu Pakde Delvin!” Freya mencoba melepaskan diri dari pelukan pria itu sambil menggeliat bangun dari duduknya.

Pria yang bernama Delvin itu membiarkan Freya bangkit dan membuka kunci yang ada di pintu yang tadi baru saja ia tutup itu.

Delvin menarik nafas panjang saat ia sempat melihat paha Freya ketika rok yang dikenakan gadis itu tersingkap waktu Freya berusaha bangkit dan menjauh darinya.

Bayangan paha Freya yang mulus itu membuat wajah Delvin terlihat tidak sabar ketika ia melangkah menjauh dari ruangan yang disebut balairung tadi.

Suasana sepi di sekitar ruangan itu kembali terasa setelah Freya masuk ke dalamnya. Beberapa orang yang sejak tadi lalu lalang tadi lebih memilih mengambil jalan lain agar mereka tidak perlu melewati ruangan itu.

Bagian dalam ruangan itu terasa suram dan remang remang. Hanya ada beberapa lampu kuning yang tergantung di langit langit ruangan itu. Suara penyejuk udara terdengar bersuara lirih menyejukan ruangan yang didalamnya berisi sebuah ranjang besar yang ada di tengah tengah ruangan.

Sebuah kamar mandi dengan shower terlihat ada di salah satu pojok ruangan itu. Kamar mandi yang tidak tertutup dan hanya dikelilingi tembok yang berdiri setinggi dada orang dewasa itu berada dalam kegelapan di salah satu sudut ruangan itu.

Telinga Freya mendengar suara erangan dan desahan dari balik kelambu yang menutupi ranjang besar dan mewah yang ada di tengah ruangan itu. Matanya berusaha mengalihkan pandangannya dari gerakan gerakan yang terlihat kabur tertutup kelambu yang menutupi ranjang itu.

Telinga gadis itu mengenali suara rintihan serta erangan wanita yang ada di atas ranjang itu bersama seorang pria lain yang dipanggil Freya dengan sebutan Pakde Delvin itu.

Suara ranjang yang bergoyang ketika Delvin membalik tubuh seorang wanita yang ada di pelukannya terdengar oleh Freya, Mata gadis itu melihat kelambu yang menutupi ranjang itu tersibak oleh tarikan tangan wanita yang suaranya ia kenali itu.

Freya terus berdiri tak bergerak sedikitpun di balik bayangan berharap tidak ada seorangpun yang melihat kehadirannya di ruangan yang agak remang remang itu.

Tapi Kedua orang yang ada di atas ranjang it tidak punya waktu untuk mengenali sosok Freya yang berdiri gugup di salah satu pojok karena mereka sudah bergerak lagi dengan cepat dan liar tanpa peduli pada keadaan sekitar mereka.

Wanita yang bernama Paramita, dan bisa disebut Mama Mita oleh Freya itu menggeliat liar di bawah tindihan pria bernama Delvin yang sedang menghentak keras pinggulnya di antara kedua kaki Mita.

“Mas! Mass! Nyah! Masss! Ahk! Mashk! Masshk! Nnggghhhk!” Mita mengejang di bawah Delvin yang menindihnya sambil menghujamkan pinggulnya ke selangkangan Mita. Kaki Mitapun yang panjang dan jenjang sudah terangkat dan saling mengait di atas pantat Delvin ketika Mita menikmati orgasmenya yang kesekian kalinya hari itu.

Mata Delvin menatap pojok gelap yang tidak jauh dari ranjang itu. Matanya menangkap sosok Freya yang berdiri gugup melihat dirinya sedang berada di atas tubuh ibunya.

Mata gadis itu terus berusaha mengalihkan pandangannya dari persetubuhan antar Delvin dan ibunya itu tapi telinganya tidak bisa menolak suara suara mesum penuh gairah yang terdengar dari mulut ibunya itu.

“Aduh! Aduuh! Aku hampir! Aku hampirr! Gak bisa nahan terus! Aku hampir! Aduduh AsduhAduuuhhh! Mas! Mas! Gak bisa Mas! Gak bisa Mas! Aku gak bisa mas!” MIta terus mengerang binal penuh nafsu tanpa sadar semua perkataan dan gerakan tubuhnya yang memeluk dan mencakari punggung Delvin itu sedang dilihat oleh mata Freya anak sulungnya.

“Tahan dulu! Tahan dulu! Aku masih belom selesai sama kamu!” Delvin tak peduli pada permohonan Mita yang ingin agar dirinya segera mengakhiri persetubuhan itu. Mata pria itu menatap tajam Freya yang sudah sadar kalau pria itu sudah mengetahui keberadaan dirinya di ruangan itu.

“Udahin dulu mas! Tadi udah lama sekali sama mas Delvin!” Mita merintih sambil menggelengkan kepalanya Wanita itu menggeliat saat Delvin tidak juga mengurangi kecepatan hentakan serta sodokan penisnya ke dalam tubuh wanita itu.

“Udahlah MIta! Gak malu kamu sama anak kamu itu? Kerjaannya dari tadi ngeluh melulu! Ini semua kan sudah jadi kewajiban kamu yang sudah kamu sepakati dengan kami semua! Dan selama ini kami semua sudah menjalankan perjanjian yang harus kami kerjakan buat kamu dan anak kamu itu!” Jadi sampai saatnya perjanjian itu selesai!

Ya kamu gak usah banyak protes dan banyak nawar!” Delvin terengah sambil mengatupkan mulutnya. Ia terlihat sudah tidak sabar untuk menuntaskan persetubuhan itu karena gejolak ejakulasi yang ada di selangkangannya terus mendesak keluar dari penis pria itu.

Mita mendongak dan terpekik saat ia melihat Freya yang saat itu sudah keluar dari bayang bayang kegelapan tempat ia berdiri tadi. Wajah gadis itu berubah menjadi serba salah saat ia melihat ibunya begitu terkejut melihat kehadirannya.

“Freya! Keluar Nak! Jangan berdiri disitu Nak! Jangan disini Nak! Keluar Freya! Keluar Freya! Jangan lihat! Jangan lihat!” Tuuh Mita meronta. Ia memutar tubuhnya membelakangi Delvin dan berusaha turun dari ranjang, Tapi tangan Delvin lebih cepat menangkap pinggangnya dan menahannya tidak bisa menjauh dari pria itu.

Mata Mita melotot saat penis Delvin yang tadi keluar dari vaginanya terasa mengisi lagi vaginanya dalam posisi doggie yang membuat Freya bisa melihat buah dada Ibunya yang membulat besar itu menggantung di dada ibunya itu sebelum tangan Delvin meremas dan memainkan puting susu ibunya itu.

“Udah! Freya udah cukup umur buat belajar! Jadi Kamu gak usah keluar Nak! Toh sebentar lagi ini akan jadi tugas kamu!” Delvin mendesis sambil terus bergerak maju mundur di belakang Mita yang sedang bertumpu pada lutut dan kedua tangannya. Tubuh wanita itu menggeliat berusaha menggapai Freya yang terus menatap persetubuhannya dengan Delvin tu.

“Jangan Mas! Jangan MAS! AKU GAK MAU DIA NONTON GINI! AKU MOHON JANGAN GINI mas! Aku gak bisa kalo musti gini Akuwhhhnnnnn! Owwwhhhnnn! Awwwwwhhhnnn! Awwwwhhhnnn!” Potes Mita terputus saat tubuhnya tidak bisa bertahan lagi. “ Freya Janangannnhhhgghh! Jangfaaannghhhhhhh! Liiiiiihhhaaaddddddddggghhhh! Hhhhhgghhhhhh! Aaaawwwwgggghhhhhhhh!” BandarQ



“Keluarin manahk?! DImanahk! Mithah!! Kluarin Managgghh!” Delvin mengerang ketika ia tak kuasa lagi menahan orgasmenya.

Mita menggelengkan kepala “Jangan sekarang Mas! plis mas! Plis Mas Ada Freya! Jangan!”

“Kluarin manahk! Jawab ! Jawab! Jawab!” Delvin tak peduli pada protes Mita dan terus menggeram bertanya pada Mita. Ia hampir kehilangan kendali pada penisnya yang hampir meledak.

“Dalem mas. Dalem Mas…” Mita mengigit bibirnya menjawab lirih

“Yanghk Kerash! Yang kerashhhk! Yag kerash Ngggghhhkk!” Delvin melotot sambil terus menghujamkan penisnya ke dalam vagina Mita.

“KELUARIN DI DALEM MAS! KLUARIN DI DALEM!” Mita berteriak dengan putus asa menuruti perintah Delvin. Matanya yang menatap Freya dengan putus asa melebar ketika tubuhnya merasakan Delvin mengejang menyemburkan Sperma ke dalam vagina Mita.

Wajah Mita memerah saat ia berusaha menahan rasa kecewa dan malunya saat ia menyadari ia telah menyerah dalam kenikmatan dan membiarkan Freya menonton tubuhnya dibuahi oleh Delvin yang saat itu bersimpuh terengah membiarkan Mita berguling terletang di atas ranjang.

Tanpa merasa terganggu pada kehadiran Freya Delvin bangkit dari duduknya dan melangkah ke atas tubuh Mita yang hanya bisa pasrah menerima kedatangan Delvin ke atas tubuhnya itu.

Mata freya menatap tanpa berkedip saat ia melihat penis Delvin yang menggantung lemas di selangkangan Delvin diturunkan ke mulut Mita yang langsung menerima kejantanan pria itu dengan mengulum dan menjilatinya di dalam mulut ibu Freya itu.

“Kamu pelajari baik baik Nak!” Delvin menatap Freya dengan tatapan tajam saat ia mendesah nikmat membiarkan lidah dan mulut MIta bergerak gerak di seluruh bagian penisya, sebelum pria itu merasa puas dan menarik keluar penisnya dan mulut Mita yang masih terbaring tak bergerak di atas ranjang.

Delvin meraih sarung yang tergeletak di atas lantai dan memakainya sebelum menuju pintu ruangan itu. Tangan pria itu membelai pipi Freya dengan lembut saat pria itu melewati Freya yang masih berdiri tak bergerak.

Mata Mita terilhat sayu kelelahan Nafasnya tersengal saat Freya melangkah ragu mendekati ibunya yang terus terbaring tak bergerak di atas ranjang itu. Kaki Mita yang terbuka lebar membuat Freya bisa melihat selangkangan ibunya yang ditumbuhi bulu kemaluan itu berlumuran cairan putih yang saat itu masih meleleh keluar dari belahan vaginanya.

Mulut Mita yang masih menyisakan bekas cairan yang ia bersihkan dari penis Delvin tersenyum tipis saat wanita itu mengulurkan tangannya untuk memeluk Freya yang langsung membenamkan wajahnya di dada ibunya itu.

“Maafkan Mama kamu musti lihat semuanya itu ya Freya!” Mita berkata lirih sambil memeluk leher Freya lebih erat saat tangannya membelai rambut pendek di kepala anak sulungnya itu.

“Maafin Freya yang selama ini sudah egois dan bikin Mama jadi kayak gini!” Freya membalas dengan suara yang lebih lirih ketika hatinya dipenuhi rasa penyesalan karena telah membuat ibunya harus mengalami apa yang telah ia lihat tadi dengan kedua matanya sendiri.

“Sssshhhh Mama gak pernah mikir gitu Freya! Semuanya Mama lakukan supaya kamu gak bisa raih mim…” Perkataan Mita terputus saat pintu ruangan itu terbuka lagi dan tertutup segera diikuti oleh langkah tergesa dari balik kegelapan.

Dua sosok pemuda terlihat tidak sabar mendekati ranjang tempat Mita sedang memeluk Freya itu.

“Udah selesai ya Bude!” Aku sama Tarmin sampe ngantuk nunggu di pendopo tadi!”

“Eh ada Kak Freya!” pemuda yang disebut Tarmin itu menurunkan sarung yang ia kenakan mengikuti apa yang dilakukan pemuda satunya.

Tubuh telanjang dua pemuda itu langsung menaiki ranjang dan mendekati tubuh Mita yang langsung mendorong Freya untuk menjauh darinya.

“Sabar dulu Nak! Pelan pelan! Bulik baru selesai sama ayah kalian! Kasih bude waktu buat istirahat dulu!” Mita berkata dengan nada panik saat merasakan tangan tangan pemuda itu mulai menggerayangi paha dan perutnya diikuti dengan remasan di kedua buah dadanya.

“Kamu keluar saja Freya! Nanti Mama cari kamu! Jangan disini! Keluar Freya!”

“Idih belepotan nih punya Bulik! Pasti gara gara Ayah!” Pemuda yang pertama mengernyit melihat sperma Delvin yang berlumuran di vagina Mita. Ia mengangkat wajahnya. ” Min! Sarmin!” Kamu duluan aja! Biar aku yang maenin Bulik!”

Pemuda yang berama Sarmin mendengus sebelum berpindah duduk di antara kedua kaki Mita yang terus menggeliat mencoba menolak perbuatan kedua eponakannya itu. Tangan Sarmin menahan lutut Mita dan menekannya agar wanita itu berhenti bergerak.

“Pelan Sarmin! Bulik masih cape! Pelan Pelan Nak!” Minta merintih saat melihat penis Sarmin sudah mengacung mengarah ke vaginanya.

Freya yang bergegas menjauh dari ranjang itu mendengar erangan mita sebelum gadis itu keluar dan menutup pintu ruangan itu di belakangnya.

“Awwhhhnnnnnn! AwwwwhhhhnnnOwwwwhhhnnnnnnn! minta mengerang ketika mulut Tarmin dengan penuh nafsu mengulum dan menyedot puting susunya diikuti oleh masuknya penis Sarmin ke dalam vaginanya.

Freya menutup pintu yang ada di depasnnya perlahan. Pikirannya melayang entah kemana saat gadis itu merasa menyesal telah meninggalkan ibunya sendiri menghadapi kedua sepupu Frey yang tampak sudah begitu bernafsu pada ibunya itu. Tangan gadis itu sedikit gemetar saat ia memutar kunci untuk mengunci pintu tadi.

“Loh klo kamu malah keluar Nak? Gak di dalem temenin mama kamu sama Tarmin dan Sarmin? Suara pria tua yang tiba tiba sudah ada di belakang Freya mengagetkan gadis itu.

“Tad, Tadi disuruh Mama keluar Eyang!” Suara Freya terbata saat tubuh pria tua itu begitu dekat dengan dirinya. Suara pintu yang tadi dikunci oleh Freya terdengar diputar lagi dan pintu di belakang Freya kembali terbuka.

“Udah gak usah keluar! Di dalem aja sama Eyang!” Tangan pria tua itu meremas pundak Freya sambil membawanya kembali masuk ke dalam ruangan itu. Suara desahan dan erangan Mitas kembali terdengar di telinga Freya saat gadis itu menuruti perintah pria tua itu untuk kembali masuk ke dalam ruangan itu.

Tangan pria itu kembali merangkul pinggang Freya setelah ia mengunci pintu tadi dari dalam sebelum membawa Freya masuk mendekati ranjang tempat Mita dan kedua koponakan yang sedang mencumbu wanita itu berada di atasnya.

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Beritadewasa.spk adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

✓ Update Cerita Sex Setiap Hari

✓ Cerita Sex Berbagai Kategori

✓ 100% Kualitas Cerita Premium

✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik

✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

Selasa, 30 Desember 2025

KISAH NYATA, THE WILD WOLVES

Cerita ini hanya fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahakan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.

Sahabat Poker - Hujan badai yang sangat deras sudah 10 menit berselang. Dari balik jendela, Frans menatap motor-motor yang menepi ke pinggiran-pinggiran rumah di gang sempit.

“Di mana dia?”, tanyanya dalam benaknya.

Frans bersender dengan nyaman di tralis jendela apartemennya. Bir yang dingin, ia teguk sedikit sembari memberikan sensasi yang menenangkan sekedar untuk melupakan kekhawatirannya. Frans menoleh, melihat ke ruang utama apartemennya di mana keempat temannya sedang asyik bersenda-gurau.

Ardan, di tengah gelak tawanya, tetap dengan mahirnya memainkan tombol joystick di genggamannya. Dari satu kombinasi ke kombinasi tombol yang lain ia mainkan dengan sangat mahir membentuk suatu kombo yang membuat lawannya berkutik tak berdaya.

Danu, sang lawan, walaupun masih memainkan tombol di joysticknya, sudah terlihat tak begitu tertarik dengan apa yang karakternya lakukan dan lebih banyak tertawa melihat sang jagoan menjadi bulan-bulanan Ardan. Bagas dan Elang pun ikut menertawakan Danu yang kalah telak dibantai oleh Ardan.

“Ah, gimana sih lu Nu? Bisa main kagak?!”, ledek Elang.

“Iya nih, makanya lu kalo main, pilih karakternya yang gampang-gampang aja. Milihnya cewek seksi sih lu, mikirnya pake titit.”, tambah Bagas.

Lili, karakter yang dipilih oleh Danu, memang terlihat sangat seksi. Costume default dari Lili memang sudah seksi dengan model school girl Jepang berwarna putih. Balutan ornamen renda-renda menambah kesan dress Eropa , di mana gadis petarung ini berasal.

Namun, kostum yang sekarang Lili gunakan berbeda, di mana seragam school girlnya semakin mini dan ketat. Kemeja sekolahnya dimodelkan sebagai korset pink dengan bagian dadanya membentuk 2 cup berwarna putih yang hanya menutup setengah bawah bagian dari payudaranya yang montok.

Rok pendeknya semakin pendek, hanya sebatas pantatnya saja, dibalut dengan pink yang sama dengan korset yang ia kenakan. Kakinya terlihat jenjang dan sangat indah. Keputihan dan kemontokan pahanya, ditambah dengan kesemokan pantatnya, membuat Danu tidak fokus bermain untuk mengalahkan Ardan.

Ia memang lebih sibuk membuat gerakan tendangan tinggi yang sebenarnya tidak efektif untuk melawan Ardan, namun lebih menunjukkan kemolekan kaki Lili yang sepenuhnya karena rok pendeknya terangkat lebih tinggi.

Ardan, menyadari hal itu dan dengan sigap menyesuaikan alur mainnya dengan memberikan serangan-serangan bawah yang lebih efektif untuk mengurangi darah Lili. Apalagi serangan rendah adalah spesialisasi karakter yang Ardan pilih.

Karakter yang Ardan gunakan tidaklah kalah seksi. Christie Monteiro namanya, si capoera cantik dari Brazil. Christie memiliki perawakan khas gadis Brazil yang terkenal dengan kemolekan tubuhnya. Ia memiliki lekuk tubuh yang sangat indah dan payudara dan pantat yang besar yang membuat semua wanita pasti iri melihatnya.

Kulit gelap eksotisnya pun tak kalah beradu dengan keputihan dan kebersihan kulit khas Eropa milik Lili. Christie hanya dibalut dengan atasan sport bra silang membentuk huruf X yang hanya menutup bagian tengah dari payudaranya, sedangkan bagian bawah dan atasnya terlihat bulat tidak tertutup.

Jika ini adalah suatu pertarungan di dunia nyata, sudah pasti bra Christie akan terlepas dan menunjukkan puting payudaranya yang terlihat gelap namun pastinya manis. Sayangnya ini hanyalah sebuah permainan video game.

Dengan teknik Capoeranya, sebenarnya Christie adalah karakter yang sangat susah dimainkan, namun karena Ardan memang pemain yang sudah jago, sangat mudah bagi Ardan untuk memenangkan pertarungan ini.

“Dari tadi kerjaannya angkat kaki nunjukkin paha ama pantat doang, mana menang lawan gw.”, timpal Ardan.

“Lah elu daritadi mukulin memek karakter gw terus”, bela Danu yang sudah mulai kehabisan kata.

“Ya iyalah lu ngangkang mulu sih. Gw kalo liat cewek pake baju seksi nan montok kayak begitu ngangkang, bawaannya pengen jebolin memek terus, cok. Apalagi pake titit gw hahahaha. “, canda Ardan.

Keempat orang yang lain pun tertawa terbahak-bahak, termasuk Frans. Frans pun lalu menimpali, “Alah lu Dan, cewek di video game aja ga bisa urus, apalagi cewek beneran. Pantes lu jomblo.”

Makin riuh lah tawa dari kelima pemuda itu. Danu pun hanya santai tertawa mendapati dirinya menjadi bahan tawaan. Tawa dan bir menemani hangout mereka malam itu.

“Ada apaan nih seru amat gw denger dari luar? Nimbrung dong”, ujar Ray yang kembali memasuki ruangan apartemen.

Frans yang sesaat terlupa akan hujan badai di luar karena canda tawa dengan temannya, kembali melihat keluar. Pikiraannya kembali ke wanita itu, Naomi. Naomi adalah pacar dari Ray, namun Frans diam-diam memiliki perasaan kepadanya.

Frans sendiri sebenarnya sudah memiliki seorang pacar, Nadila. Namun itu tidak menghentikannya untuk menyimpan rasa dan berfantasi tentang Naomi. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan: apakah itu cinta atau apakah itu hanya nafsu belaka, tapi perasaan Frans untuk Naomi sungguhlah kuat.

Bahkan pernah saat ia bercinta dengan Nadila, ia berfantasi bahwa yang bermain dengannya saat itu bukanlah Nadila, melainkan Naomi. Frans merasakan suatu hawa nafsu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya ketika ia membayangkan Naomi, ia bermain lebih beringas daripada biasanya.

Ia ciumi Nadila dengan penuh gairah. Penisnya yang sudah berdiri tegak, menyodok keluar masuk liang vagina Nadila dengan sangat cepat, membuat Nadila awalnya merintih kesakitan namun berangsur menikmati permainan dari Frans.

Nadila terlihat sangat menikmatinya terdengar dari erangan dan desahan keras Nadila malam itu.Nafas Nadila menjadi tidak karuan. Nadila membalas ciuman Frans dengan sama liarnya, tanpa tahu bahwa bukan ialah yang ada di benak Frans malam itu.

Frans memejamkan matanya menggerayangi tubuh Naomi yang ada dibenaknya. Frans memeluknya dengan erat saat ia sudah merasakan gejolak di penisnya yang terasa semakin keras dan sedikit terhentak, menandakan ia akan mengeluarkan air maninya. BandarQ

Nadila pun merasakan pelukan erat Frans dan ikut memeluk Frans dengan erat. membayangkan Frans orgasme saat mencumbui tubuhnya membuat Nadila merasakan getaran di seluruh tubuhnya seperti suatu gelombang yang sudah tak tahan ingin ia lepaskan. Nadila tak tahu jika yang Frans peluk saat itu bukanlah dia, namun bayang-bayang Naomi.

Nadila mencapai orgasme terlebih dahulu, ia peluk erat Frans semakin erat, kedua kakinya semakin erat dia himpitkan ke badan Frans yang sedang mempenetrasinya. Gelombang di dalam diri Nadila sudah tak bisa ditahan lagi.

Dengan tiap gerakan penis Frans memasuki liang vaginanya, setiap itu pula gelombang itu terlepas dari tubuhnya. Setiap hempasan gelombang tersebut memberikan sensasi ekstatik ke tubuh Nadila membuat Nadila mengerang tidak karuan mengekspresikan kenikmatan yang kini ia rasakan.

Frans merasakan hangatnya liang vagina yang menghimpit penisnya. Dalam benaknya, yang ia bayangkan adalah orgasme dari Naomi. Ia merasakan hangatnya liang vagina Naomi dan begitu beruntungnya ketika penisnya lah yang ada di dalam vagina itu.

Frans semakin mendekati orgasmenya. Ia ingin sekali menteriakkan nama Naomi namun ia pun masih tersadar bahwa bukan lah Naomi yang sedang ia gagahi. Ia cium Nadila seakan ia mencium Naomi supaya mulutnya terjaga tetap diam.

Penisnya bergejolak hebat di antara kedua liang vagina yang menghimpitnya, gejolak yang mendorong cairan kenikmatan yang hangatnya menambah kehangatan dinding vagina yang dimasukinya. Di dalam hatinya, Frans meneriakkan nama Naomi.

Jika bukan karena bibir Nadila yang manahan bibirnya, mungkin Frans sudah meneriakkan namanya keras-keras seperti saat ia masturbasi ke foto-foto seksi Naomi di Instagram.

“Naomi! Naomi! Naomi!”

“Frans! Frans! Woy Frans! Bengong aja lu!”, sahut Ray membuat Frans kaget.

“Bengong aja, kesambet lu nanti. Repot nih kalo hujan-hujan tuan rumah kesambet hahaha.”, gurau Ray.

“Hahaha, sorry Ray. Liatin hujan di luar. Si Naomi gimana? Hujan badai begini. Katanya dia mau nyusul lu ke sini?”, ujar Frans.

“Iya, dia otw kok. Tadi baru turun MRT dan udah naik ojek ke sini.”, Ujar Ray.

“Hah, hujan badai gini naik ojek? Basah kuyup lah”, balas Frans.

“Mau gimana lagi? Daripada kelamaan nunggu malem-malem sendirian di luar stasiun terus digodain mas-mas. Dia mau terobos aja. Yah mobil gw juga baru kelar dikerjain temen lu kan malem banget nanti. Masih lama banget ya?”, Ungkap Ray sambil membuka sekaleng bir dingin yang langsung ia teguk.

“Yah, iya soalnya emang kemarin nungguin onderdilnya dulu sampe di bengkelnya. Gw juga gak tau kalau lo butuh mobilnya besok.”, kata Frans.

“Iya mendadak banget besok gw harus anterin si Naomi ke Bandung. Dia mendadak harus perform soalnya.”, jawab Ray. “Yaudah deh, gw udah berterima kasih banget ama temen lu bro mau kerjain cepet kayak gini. Kalo ga dibenerin tuh karborator, udah pasti ga bisa jalan mobil gw, apalagi buat ke luar kota.”, ujar Ray.

“Santai, temen gw mah cincai bro. Btw, lo ga tawarin jemput aja si Naomi? Kan kita pada ada motor di sini? Lo jemput kek basah-basahan juga hahaha. Parah lu biarin cewek lu kayak gitu.”, canda Frans yang sedikit gusar juga di dalam hatinya.

Bagaimana mungkin laki-laki seberuntung Ray sebegitu cueknya kepada Naomi untuk berbasahan sendirian menerjang hujan badai menaiki ojek. Jika Naomi adalah pacarnya, dia pasti sudah akan menyusul Naomi di stasiun MRT.

“Gw udah tawarin bro, Naominya yang ga mau. Padahal gw juga udah mau minjem motor salah satu dari lu terus nyusul ke stasiun.”, jelas Ray.

“Oh, yaudah, kalo dia butuh mandi di sini, boleh aja. Gw ada beberapa handuk bersih sama Naomi bisa minjem bajunya Nadila juga. Nadila pasti ngerti lah. Lagian kan Naomi deket juga sama Nadila.”, usul Frans.

“Waduuuuh, udah nyaman banget kayaknya Nadila di sini. Udah pindah bareng bro? Biar bisa ngewe tiap malem ya? Hahahaha”, ledek Danu.

“Ya iyalah, emang elu mblo? Gw mah pulang ada yang ngangetin titit gw. Daripada lo, pake tangan sendiri terus”, balas Frans meledek.

Frans dan kawan-kawan memang sudah sangat akrab dan terbuka satu sama lain. Persahabatan mereka dimulai sedari SMP, hingga saat ini pun, ketika mereka menginjak bangku perkuliahan, mereka masih sangat dekat satu sama lain.

Sudah hal yang lumrah dan bukan rahasia lagi jika keenam pemuda ini tahu perempuan mana saja yang masing-masing dari mereka sudah pernah gagahi. Mereka pun tidak canggung sama sekali bertukar candaan-candaan yang berbau mesum dan nakal walaupun dengan menjadikan kekasih mereka sendiri sebagai objeknya.

“Hahahahaha parah lu, overkill damage! Kasian amat lu Dan Dan, udah main game kalah, dibully lagi lo ama temen lo sendiri.”, timpal Ardan yang sudah telak memenangi game melawan Danu.

“Bodo amat, gw coli juga pake foto cewek-cewek lo pada. Kemarin gw coli pake fotonya Nadila yang baru di IG pake tanktop item sama kemeja tipis. Enak banget cok. Gw kalo jadi lo, Frans, gw bakal minta quickie deh di kampus.

Gampang tuh kayaknya kalo mau quickie. Tinggal lepas kemeja sama angkat tanktop sama bra, turunin celana, kenyot toket sama genjot.”, ledek Danu.

“Anjing lu mblo, congor lu ama moral udah ancur hahaha.”, Frans dengan santai menanggapi candaan sahabatnya itu.

Ia tau baju mana yang Danu maksud. Memang Nadila terlihat sangat seksi mengenakan setelan tersebut. Memang favorit Nadila untuk mengenakan tanktop ketat ditutupi kemeja yang ia biarkan terbuka seperti jaket.

Alhasil, bentuk payudara Nadila yang bulat, besar dan kenyal pun terlihat sangat jelas, membuat semua pria yang melihatnya bernafsu ingin menggerayanginya.

Frans pun sebenarnya pernah meminta quickie dengan Nadila di kampus saat ia mengenakan baju tersebut, dan benar kata Danu, baju tersebut termasuk praktis untuk digunakan saat quickie.

Di ruangan yang sepi di pojok kampus yang jarang dilewati orang, Nadila dan Frans yang sudah sangat nafsu melihat tubuh Nadila yang montok dibalik tanktop seksinya tersebut, melakukan aksinya di jeda antara kelas.

“Wah kalah lu ama Frans, Ray. Masa dia lebih perhatian sama cewek lu? Ati-ati ketikung. Cewek lu seksi bohay begitu, kalah perhatian dikit, bisa-bisa melipir tuh sama yang lebih perhatian.”, canda Elang.

Frans dalam hati hanya bisa memendam bahwa memang dia memiliki perhatian yang lebih ke Naomi karena perasaan dalam dirinya. Dalam dirinya dia bertanya, apakah aku suatu hari akan menikung sahabatku sendiri? Pertanyaan yang membuat dirinya berkecamuk.

Nada dering di handphone Ray membuyarkan suasana. Di layar handphone Ray terpampang nama “Sayang”, sebutan dari Ray untuk Naomi dan disimpan sebagai nama kontaknya.

“Eh gw angkat dulu ya, si Naomi nih. Kayaknya dia udah di bawah.”, izin Ray.

“Sekalian lu bawa kartu akses juga bro, nih.”, usul Frans yang disanggupi Ray dengan mengambil kartu akses apartemen yang sudah disodorkan tangan Frans.

10 menit berselang, pintu dibuka oleh Ray yang memasuki ruangan apartemen disusul oleh Naomi yang sudah basah kuyup akibat menerjang badai di luar.

Semua lelaki di ruangan tersebut langsung terperangah melihat Naomi. Bagaimana tidak, Naomi basah kuyup sampai-sampai kaos putih yang dikenakannya menceplak di tubuhnya. Dan, karena kaosnya putih, tentunya jika basah akan menjadi sedikit transparan menunjukkan warna yang seharusnya tertutupi oleh kaos tersebut.

Kaos yang Naomi kenakan memang tidak terlalu ketat, namun masih cukup minim sehingga ketika basah, sulit untuk Naomi menarik kaos tersebut agar tidak menunjukkan warna dan lekuk tubuhnya.

Lengan kaosnya hanya sependek ketiaknya sehingga menunjukkan sepanjang lengannya yang putih bersih dan juga ketiaknya yang mulus tanpa ada noda bekas cukur.

Naomi menggenakan celana olahraga pendek setengah paha yang merupakan pilihan baju yang cukup berani untuk seorang wanita yang menaiki MRT dan ojek sendirian di malam hari. Dari balik kaosnya, keenam pemuda tersebut dapat melihat warna perut Naomi yang seputih lengan dan mukanya.

Terlihat pula pusarnya yang terceplak akibat basahnya kaos yang ia kenakan. Yang paling mencengangkan adalah branya yang terlihat menyembul dari ceplakan kaos. Bra berwarna merah darah yang sangat seksi terlihat jelas seperti tidak ada kaos yang menghalanginya.

Frans dan kawan-kawan dapat melihat begitu rendahnya batas bra yang menutupi payudara Naomi. Pasti tidak terlalu jauh di bawah garis tersebut terdapat puting payudara Naomi yang indah.

Kelima sahabat Ray terbengong-bengong memandangi tubuh indah Naomi di depannya. Alangkah beruntungnya mereka dapat melihat Naomi dalam kondisi seperti ini. Ray, yang menyadari hal ini langsung memecah kesunyian.

“Frans, Naomi bisa pake kamar mandi lo buat mandi? Basah kuyup nih dia kehujanan.”, kata Ray memecahkan kesunyian.

“Eh, hmm, iya Ray. Naomi, lo mandi aja. Lo nanti juga bisa pake bajunya Nadila. Dia ada beberapa baju kok di sini. Gw juga ada handuk bersih.”, saut Frans sedikit gugup, belum siap menanggapi Ray yang tiba-tiba mengajaknya bicara selagi menikmati pemandangan body seksi Naomi. Ia harap penisnya tidak terlalu ereksi sampai-sampai terlihat dari balik celananya.

“Wah bener Frans? Ngerepotin ga? Nadila ga apa-apa bajunya gw pake?”, tanya Naomi yang sedikit tidak enak atas tawaran baik Frans.

“Ga apa-apalah. Nadila juga paling ngerti. Lo juga kok bisa sih sampe basah kuyup gini? Lo ga ada jaket atau jas hujan apa? Lo naik ojol tadi? Si Bapak ga sediain?”, tanya Frans.

“Ga nih, tadi gw kelupaan ga bawa jaket. Sialnya malah hujan. Tadi si bapak ojolnya ga bawa extra. Nawarin gw sih buat pake jas hujan yang lagi dia pake, tapi gw tolak, soalnya kasian si bapak kalo harus lanjut narik tapi bajunya basah. Kalo gw kan langsung masuk ke dalem.”, jawab Naomi.

Frans dan kawan-kawan pun kagum atas jawaban Naomi yang menunjukkan sifat kepeduliannya walaupun di saat dia masih kesusahan. Di satu sisi, mereka pun bersyukur, jika bukan karena itu, tidak mungkin mereka bisa melihat Naomi dengan keadaan seperti ini.

Ray pun langsung menuntun Naomi ke kamar mandi lalu kembali ke ruangan tengah bersama teman-temannya. Tanpa basa-basi Danu langsung nyeletuk, “Cok, seksi tenan betina mu. Koe langsung ngewe ama dia malem nanti, yakin aku.”

“Halah, otak mu ngeres mulu Nu, tapi kok ya cuman kamu yang belum pernah ngerasain badan cewek.”, balas Ray.

“Anjir, tapi bener sih bro. Seksi bener lah. Ngiri gw ama lu.”, ujar Ardan yang sebenarnya sudah memiliki banyak pengalaman meniduri perempuan yang berbeda-beda.

“Manteb bener, lo ga apa-apa kan kita puji-puji Naomi kayak gini? Jujur sih seksi banget gw liat Naomi keliatan behanya gitu.”, ungkap Elang.

“Si Naomi seksinya kayak begitu, tapi adeknya juga kagak kalah loh, si Sinka. Lo bayangin deh si Naomi basah-basahan keliatan beha kayak tadi terus ada adeknya juga kayak begitu. Ga kuat broooo.”, tambah Danu.

“Gw sangkain lo bakal ikut mandi sama doi. Kok lo langsung balik sini sih? kalo gw sih udah crot . Kagak kuat!”, ledek Bagas.

“Baru kali ini keliatan bener lekuk body seksinya dia. Beda lah sama di ig walaupun pernah keliatan pake bikini juga, kalo liat langsung tuh ga ada tandingannya”, puji Frans menimpali yang lain dalam mengagumi Naomi.

Di saat Naomi mandi, mereka berenam pun lanjut menikmati bir yang mereka minum sambil mengucapkan kalimat-kalimat dan candaan-candaan seksual yang mengobjekkan Naomi. Mereka semua terlihat sangat horny setelah melihat kesemokan Naomi yang basah kuyup sehabis kehujanan.

Ray menyadari hal ini tapi karena dia sudah mengerti sahabat-sahabatnya, ia pun dengan santai menanggapi. Namanya juga lelaki, pasti ada saja nafsu yang tidak bisa dibendung. Terkadang dia pasti memiliki fikiran yang kotor juga mengenai perempuan lain, termasuk pacar-pacar dari keempat sahabatnya yang lain.

Nafsu mereka ditambah dengan pengaruh alkohol yang mereka minum membuat obrolan mereka pun berlanjut lebih vulgar.

“Gila men, gw bayangin cewek lu rasanya pengen gw langsung tidurin basah-basah gitu di atas sofa ini, terus gw robek bajunya dan langsung gw entot.” ,Ujar Bagas menunjukkan fantasi liarnya tanpa memikirkan perasaan Ray.

“Kalo gw jadi lu ya, gw langsung masuk tuh sekarang juga ke kamar mandi. Langsung gw garap si Naomi”, ujar Ardan kembali .

“Pas lu lagi entot di sofa, gw langsung buka celana terus sodorin titit gw buat diemut dia sih”, sambung Elang ke ucapan Bagas sebelumnya.

“wah gabung dong, masa berdua aja lu nikmatinnya.”, Danu ikut menimpali.

“Lubang cuman dua goblok, lu ngantri. Bener-bener buta cewek lu ya”, Ucap Ardan yang masih belum puas meledeki Danu.

“Lobang pantat lah hahaha, gimana sih? Kan muat tuh bertiga.”, Balas Danu tidak mau kalah.

“Anjir lah hahaha. Udah nafsu banget lu ya pada ampe Naomi digangbang semua lubang kayak begitu. Main lobang pantat juga lagi. Ini cowoknya lagi diem-diem aja.”, “Sambung Elang yang sedikit memerhatikan apakah Ray masih ok dengan candaan teman-temannya.

“Si Ray mah nonton aja, kan dia udah sering”, ledek Danu.

“Anjir udah ngegangbang cewek orang, pacarnya suruh nonton doang lagi. Parah lu.”, balas Bagas.

“Sorry bro, emang kagak diayak kalo ngomong si Danu”, lanjut Elang.

“Hahaha santai, gw kan udah kenal lu semua dari lama. Gw tau kali gimana kalian bercanda.”, Timpal Ray menenangkan. “gw juga bangga punya cewek seksi yang bikin cowok-cowok kayak kalian ngiri dan tergila-gila.”, lanjut Ray.

Frans mulai mendapatkan ide di otaknya. Dia pun menanyakan kepada Ray, “Lu emang gimana kalo misalnya liat si Naomi digangbang di depan lo?”

“Hahaha gila sih kalo kejadian. Walaupun kalo emang kejadian nih, gw sih santai aja. Dia mau ngentot ama banyak cowok, gw juga bisa ngentot ama banyak cewek. Gw mah gak akan tumbang gara-gara satu cewek. Gw masih bisa dapetin banyak yang lain.”, ujar Ray dengan gengsinya ingin menunjukkan kejantanannya. Ray kembali menegak birnya sampai habis.

Sambil membuka kaleng berikutnya, Ray melanjutkan, “Apalagi kalau gw pergokin, gw pake juga lah rame-rame. Masa gw nonton doang. Habis itu gw tinggalin aja cari cewek yang lain.”


Bersambung…

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Beritadewasa.spk adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

✓ Update Cerita Sex Setiap Hari

✓ Cerita Sex Berbagai Kategori

✓ 100% Kualitas Cerita Premium

✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik

✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

Senin, 29 Desember 2025

KISAH KEHIDUPAN , MIMPI BURUK (PERAMPOK)

Sahabat Poker - Rafasya adalah seorang gadis cantik yang sangat terkenal di kota Bandung, ia tercatat sebagai mahasiswi angkatan 95 di jurusan ekonomi universitas parahyangan Bandung.

Ia benar-benar cantik dan sexy, kulitnya yang putih mulus dan dandanannya yang selalu trendy dan gaul membuat semua lelaki terpana melihatnya. Belum lagi bajunya yang seringkali ketat menampakkan jelas bentuk tubuhnya yang semampai.

Banyak sekali sebenarnya lelaki yang naksir kepadanya, hanya saja jarang yang berani maju mendekatinya. Maklum saja selain ia cantik, pintar ia tergolong mahasiswi jetset. Rafasya juga anak pemilik sebuah toko departemen store yang cukup terkenal di bilangan otista Bandung, sehingga tak aneh ia juga kaya raya.

Bayangkan, kurang apa lagi Rafasya, cantik, pintar, kaya raya lagi. ck..ck..ck..ck.. Tapi Rafasya dengan kehidupan makmurnya itu, tidak pernah menyangka akan mengalami sesuatu kejadian yang akan menimpa dirinya. Begini ceritanya:

Suatu hari, orang tua Rafasya pergi ke luar negeri, memang sesuatu yang tidak aneh untuk keluarganya bepergian keluar negeri. Sehingga saat itu, ia hanya sendirian di rumahnya yang besar. Ia hanya ditemani oleh 2 orang pembantunya.

Ketiga saudaranya kebetulan juga sedang pergi. Hari telah malam, Rafasya pun bergegas mempersiapkan dirinya untuk pergi tidur, ia pun mencuci mukanya, dan mengenakan baju tidur terusan (daster) yang terbuat dari sutra berwarna merah muda.

Rafasya sungguh terlihat sexy dengan pakain tidurnya itu. Tubuhnya terlihat indah dibalik kain sutra tipis itu, kedua payudaranya nampak menonjol jelas, karena ia sudah tidak menggunakan BH. Rambutnya yang panjang sebahu itu diikat dengan jepitan rambut seperti orang akan mandi sehingga leher belakang Rafasya yang putih terlihat jelas dan menggairahkan.

Ketika Rafasya sudah masuk kamar dan bersiap akan tidur, ia mendengar bel berbunyi, tetapi ia tidak mempedulikannya

“Hmm, siapa ya malam-malam? Ah mungkin si Dede pulang, biar saja pembantu yang membukakan..” pikir Rafasya dalam hati.

Tidak lama kemudian Rafasya terkejut mendengar suara ribut-ribut di ruang tengah seperti ada orang yang sedang berkelahi. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi.

Alangkah kagetnya Rafasya saat ia membuka pintu kamarnya, ia melihat segerombolan lelaki tak dikenal sedang mengobrak-abrik ruangan tengah rumahnya sembari berteriak-teriak, mereka semua terlihat membawa samurai panjang yang terhunus.

Melihat itu Rafasya mencoba masuk kembali kedalam kamarnya, tetapi terlambat seorang rampok segera menangkap Rafasya dan membekapnya dari belakang

“Mau kemana Kamu!!Jangan macam-macam ya!!Nanti saya bunuh kamuu..!!”

Bentak rampok itu. Rafasya mencoba meronta dan berteriak minta tolong

“Toloong..tooloong..garoong..garoo..”

PLAAKK!! Tiba-tiba belum selesai ia berteriak, sebuah tamparan keras mendarat dipipinya yang mulus.

“DIAM KAMU!! Atau saya gorok leher kamuu!!”

Mendengar itu Rafasya terdiam ketakutan. Rampok itu segera mengikat tangan Rafasya dengan seutas tali dan didudukannya Rafasya dilantai dekat kamarnya.

Para rampok itu segera sibuk menjarah segala yang berharga di rumah tersebut, mereka masuk kedalam kamar orang tuanya dan menjarah Handphone, jam tangan, perhiasan, dan sejumlah uang. Setelah beberapa saat, seorang rampok berteriak,

“Mana harta yang laen? koq Cuma segini, masak rumah sebesar ini duitnya Cuma secuil?? Hei Non, mana uang yang laen?”

Nampaknya mereka tidak puas dengan hasil jarahannya.

“..Tidak tahu pak..tidak ada uang lagi..Cuma segitu..” jawabnya.

“Yang benar saja kamu!!bohong ya!!jawab yang benar, mana uang kamu!!”

Bentak seorang rampok tidak puas akan jawaban natalina.

“Benar paak..tidak ada..orang tua saya lagi pergi..cuman ada segitu..”

Rampok itu menghampiri Rafasya dan berjongkok didekatnya.

” Jadi ga ada uang lagi?cuman ada segini?” Tanya rampok itu.

Rafasya hanya mengangguk pelan.

“Teman-teman, denger!katanya cuman ada segini uangnya..dikit banget..percuma nih kita cape-cape cuman dapat secuil..”

Temannya menyahutinya dengan jawaban-jawaban kasar, penuh makian.

“Tapi ngga’ papa, supaya ga rugi, gimana kalo kita ganti dengan anak gadisnya ini? Kayaknya boleh juga nih..”kata rampok tersebut sembari memandangi Rafasya yang ketakutan.

Semua teman-temannya yang berjumlah 7 orang berteriak setuju. Mendengar itu, rampok tadi tersenyum dan berkata kepada natalina,

” Ya udah kalo gitu non, terpaksa non ganti rugi ke kita pake tubuh Non..”

ujarnya sambil tersenyum dan membelai wajah Rafasya yang cantik. Dipandanginya sebentar Rafasya yang gemetaran ketakutan.

” Tapi kamu emang cantik..gua terangsang juga nih. Ngeliat body lu..”

Rampok itu mulai menggerayangi dada Rafasya yang hanya dilapisi kain sutra halus tipis itu.

Rafasya mencoba melawan dan meronta

“Jangan pak..jangan..ampunn..jangan..aduuh..jangaan paak..ampuunn..jangan perkosa saya..ampuun..!!” tangis Rafasya.

Mereka hanya tertawa mendengar tangisan Rafasya dan membuat mereka semakin bernafsu. Rampok yang tadi terus menggerayangi payudara Rafasya yang montok dan empuk itu dengan kedua tangannya.

Dengan penuh nafsu, ia meremas-remas susu Rafasya selama 3 menit, lalu ia mencoba menyingkapkan bawahan daster Rafasya yang memang mini itu, sehingga terlihat paha mulus Rafasya

Rampok itu mengelus perlahan paha indah tersebut. kemudian ia membopong Rafasya dan membawanya ke kamar Rafasya, lalu direbahkannya gadis malang itu di ranjang Rampok yang lain pun turut serta masuk ke kamar, nampaknya mereka akan berpesta pora dengan tubuh seorang gadis cantik.

Seorang rampok yang berdiri di pinggir ranjang mulai membuka bajunya, terlihat tubuhnya yang berkulit hitam legam penuh dengan tato. Nampaknya ia adalah ketua gerombolan perampok ini. Kemudian ia perlahan naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya diatas tubuh Rafasya yang tergolek tidak berdaya.

Rampok itu mulai memeluk dan menciumi wajah Rafasya Tercium olehnya wangi tubuh Rafasya yang segar dan sungguh membuat nafsu bergejolak. Rampok tersebut semakin cepat mencumbu Rafasya sembari tangannya terus menggerayangi dada dan selangkangan Rafasya.

Tidak lama kemudian, rampok itu tidak sabar lagi, dirobeknya daster sutra itu. BREEKK.. ia sungguh-sungguh terpesona dengan pemandangan di depan matanya, Rafasya yang sudah tidak mengenakan BH, terlihat sepasang payudara indah milik seorang gadis keturunan yang cantik menjulang tinggi lengkap dengan pentilnya yang berwarna coklat muda. BandarQ

Rafasya hanya mengenakan CD G-string putih, sehingga sepertinya celana dalam itu hanya menutupi vaginanya dan pantatnya dibiarkan bebas terbuka, sungguh membuat semua rampok itu menelan air liur ingin mencoba tubuh Rafasya.

Kembali rampok itu beraksi, kali ini kedua payudara itu yang dikerjain habis-habisan. Diremas-remas, dipijat-pijat, bahkan ia sampai mencubit kedua puting mungil itu. Rafasya hanya bisa pasrah menahan deritanya.

Rampok itu melanjutkan aksinya dengan menciumi dan menjilat payudara Rafasya mulai dari lembah sampai ke puncaknya.

Sampai di puncak, ia menghisap dan mengulum pentil itu dengan penuh semangat sampai terkadang saking gemasnya ia gigit pentil Rafasya. Rafasya hanya bisa melenguh dan mendesah menahan sakit dan nikmat tersebut .

Puas dengan gunung kembar itu, rampok tersebut mulai berpindah sasaran kali ini ia segera melucuti celana dalam Rafasya. Ia pun kembali terpana melihat vagina Rafasya yang masih suci dan indah hanya ditutupi bulu-bulu halus, karena Rafasya tergolong apik ia sering mencukur bulunya agar terlihat rapi.

Tidak tahan lagi rampok tersebut segera ‘menyerang’ vagina itu dengan lidahnya Dibentangkannya kaki Rafasya lebar-lebar, ia pun segera menukik menyerang selangkangan Rafasya yang sudah ‘wide open’ itu. Lidah tersebut bergerak lincah ke segala arah menjelajahi vagina Rafasya. Permainan itu berlangsung kira-kira 5 menit, lalu rampok itu maju ke babak berikutnya.

Kali ini giliran Rafasya yang beraksi. Sang rampok menbuka celana dalamnya sendiri. Terlihat batang penisnya yang hitam sudah benar-benar berdiri menunggu giliran, dikocok-kocoknya sebentar batang itu.

Lalu diarahkannya ke wajah Rafasya. Digesek-gesekkannya batang penis itu di wajah cantik Rafasya. Rafasya tidak bisa menolak, ia hanya pasrah membiarkan batang itu bergesekan dengan wajahnya. Setelah itu sang rampok memaksa Rafasya untuk membuka mulutnya.

” HEH! Buka mulutlu!ayo isap!!AYOO!!”

Rafasya dengan perlahan membuka mulutnya, segera saja rudal rampok itu masuk kedalam mulutnya dan bergerak maju mundur di dalam mulut Rafasya.

“Hei ayo goyangin lidah lu, jilat dan isap penis gua!”

Mendengar itu Rafasya mematuhinya, ia mulai menjilat batang penis itu dengan perlahan. Rampok itu semakin cepat menggoyangkan pinggulnya di hadapan wajah Rafasya, setelah puas, ia langsung mencoba menyerang bibir Rafasya yang satu lagi yang berada di selangkangan.

Diarahkannya rudal itu ke lobang kenikmatan. Agak sedikit susah karena lubang tersebut masih virgin, Tetapi akhirnya berhasil diterobos juga, penis hitam dan besar itu akhirnya berhasil keluar masuk di vagina Rafasya.

Pertama-tama gerakannya perlahan tetapi lama kelamaan semakin cepat dan brutal, ia tidak mempunyai rasa kasihan kepada Rafasya yang berteriak kesakitan karena dimasuki oleh penis yang begitu besar.

” Ah..Ah..ah..euh..eanaak..ayo neng..teruss..enaak..Wuuh..!” gumam sang rampok sembari memompa vagina Rafasya.

Sementara kedua tangan rampok bersandar di payudara Rafasya. Sembari sesekali dipilin-pilinnya pentil Rafasya seperti sedang mencari gelombang radio saja. Sungguh pemandangan yang mengundang hawa nafsu, seorang gadis cantik berkulit putih bersih dan telanjang bulat berada di posisi bawah ditindih seorang preman yang bertato.

Mendapat perlakuan itu Rafasya hanya bisa menggeliat menahan geli dan rangsangan yang begitu hebat.Tetapi ia mencoba bertahan untuk tidak orgasme, walau dipompa sedemikian rupa oleh penis sang rampok.

20 menit kemudian, sang rampok tidak tahan lagi, akhirnya ia memuntahkan air maninya didalam vagina Rafasya.

“Euuh..euuhh..sstt..aah..gua ngecrot .aah..enaak..”

Gumam sang rampok sembari penisnya memuntahkan lahar putihnya itu. Tubuh sang rampok terlihat berkelejotan saat berejakulasi..

Nampak benar-benar nikmat sekali orgasme sang rampok Rampok itu masih terdiam di atas tubuh Rafasya dan membiarkan penisnya tetap berada di dalam vagina Rafasya untuk beberapa saat, Ia membiarkan sisa-sisa spermanya untuk keluar sampai tetes sperma terakhir.

Lalu ia mulai menarik keluar penisnya dari vagina Rafasya, tampak penisnya yang sudah mengecil itu masih basah karena semprotan air maninya sendiri dan cairan vagina Rafasya.

Lalu ia memberikan kesempatan kepada teman-temannya yang lain. Rekan rampok yang lain bergerak maju, kali ini ia menyerang Rafasya dari belakang. Diserangnya anus Rafasya dengan gencar. Posisi Rafasya sekarang seperti anjing yang sedang kawin..

Rampok itu dengan kasar memasukkan penisnya ke lubang anus Rafasya. Rafasya hanya bisa mengerang kesakitan. Tubuhnya bergerak-gerak akibat hentakan sang rampok sampai-sampai payudaranya pun terbanting-banting akibat goyangan sang rampok..

Rampok tersebut memegangi kedua belah pantat Rafasya agar tetap terarah sesekali ia tampar pantat Rafasya seperti layaknya memecut pantat kuda. Goyangan sang rampok semakin cepat, lalu tangan kirinya menjambak rambut Rafasya ke arah belakang.

Lalu ditariknya tubuh Rafasya sampai punggung Rafasya telah menempel di dada sang rampok. Sang rampok segera menggerayangi payudara Rafasya dari belakang sambil ia menciumi leher Rafasya yang sexy. Kumis sang rampok yang tebal mencucuki leher Rafasya, sehingga ia merasa geli.

Rafasya hanya bisa memejamkan mata menahan derita itu sambil sesekali merintih, dan mendesah sehingga desahannya semakin merangsang semua rampok yang ada dikamar tersebut.

“Euuh..aahh..periih..aduuhh..ampuunn..paak..”rintih Rafasya.

“AaaAhh..dikit lagi neengg..ayoo..sstt.aahh..Oohh..”

Teriak sang rampok sembari goyangannya dipercepat, rupanya ia akan segera klimaks, tak lama kemudian ia akhirnya menyemburkan air maninya didalam lubang anus Rafasya. Air maninya sangat banyak sampai menetes keluar menyelusuri anus dan paha Rafasya.

Rampok itu tersenyum puas akhirnya ia bisa merasakan tubuh seorang gadis cantik yang sangat sexy bahkan anusnya lah yang pertama kali menembusnya.

Setelah itu kembali giliran rampok yang lain, kali ini ia memaksa Rafasya untuk berlutut dan melayani penisnya dengan mulutnya. Penis rampok yang berikut ini sungguh besar dan sudah berdiri tegang. Rafasya tak ada pilihan lain untuk melayani kemauan rampok itu. Dengan ganas rampok itu menggoyang-goyangkan penisnya dimulut Rafasya.

“Ayoo.sedoott.. yang kencaang.. ayoo!!”

Bentaknya sembari memegangi kepala Rafasya dan mengarahkannya maju mundur. Hentakannya sangat cepat sampai-sampai buah zakarnya memukul-mukul dagu Rafasya.

Tak sampai 10 menit ia pun tidak tahan lagi, sentuhan lidah dan bibir Rafasya membuat penisnya mabuk berat. Ia pun segera memuntahkan air maninya yang banyak di dalam mulut Rafasya,

“Aaahh..enaak..aahh..aahh..Ouhh..Oouhh..sstt..”

Erangnya sambil menahan kepala natalina agar tidak lepas saat ia berejakulasi dan seluruh air maninya tumpah ruah di dalam mulut Rafasya.

Rafasya terpaksa menelain air mani itu sampai habis. Setelah itu para rampok yang lain tidak sabar lagi, mereka maju bersamaan rupanya Rafasya akan diperkosa rame-rame.

Seorang mengambil posisi untuk menyerang dari belakang, tubuh natalina ditaruh diatasnya dengan posisi memunggungi rampok tersebut.

Lalu yang lain menyerang vagina Rafasya, sementara seorang mengambil posisi di dada Rafasya, ia meletakkan penisnya dan bergerak maju mundur diantara payudara Rafasya yang didempetkan sehingga menjepit penisnya, seorang lagi mengangkangi kepala Rafasya dan memasukkan rudalnya ke mulut Rafasya, sementara seorang rampok yang lain mengambil tangan kanan Rafasya dan membuatnya mengocok penis nya.

Rasanya sungguh nikmat dikocok oleh tangan mungil Rafasya. Mereka terus mengerjai Rafasya dengan mantap di posisinya masing-masing mereka terus bergiliran berotasi mencicipi anus, vagina, payudara, mulut dan tangan Rafasya.

Beberapa saat kemudian Rafasya tidak tahan lagi, ia pun akhirnya hancur juga pertahanannya, akhirnya Rafasya ejakulasi dengan deras, cairan natalina keluar sangat banyak karena ia sedari tadi menahan rangsangan yang ia terima.

Peristiwa itu disambut para perampok dengan teriakan-teriakan tertawa membahana, bahkan tanpa rasa jijik seorang dari mereka menjilat cairan vagina Rafasya.

“Sluurrpp..sluurrpp..hmm..nikmaat..rasanya air mani pertama gadis perawan..hahaha..”

Rafasya dikeroyok selama 1/2 jam tidak lama kemudian satu persatu nyaris bersamaan para perampok itu orgasme di tempat proyeknya masing-masing. Tubuh Rafasya yang sexy itu sudah penuh oleh sperma.

Para perampok tertawa puas, Rafasya berpikir mimpi buruknya telah berakhir, ternyata ia salah, 3 orang rampok yang pertama rupanya belum puas, mereka merangsek maju lagi dan memperkosa Rafasya untu kedua kalinya.

Bahkan salah seorang dari mereka mengambil obeng yang mereka pakai untuk membuka pintu dan memasukkan gagang obeng besar itu ke vagina Rafasya. Dikocok-kocoknya vagina Rafasya dengan gagang obeng itu, Rafasya menggeliat kesakitan dan kenikmatan. Ia memang merasakan perih di lubangnya tapi juga merasakan kenikmatan tiada tara.

Rafasya menggeliat dan membanting tubuhnya ke kiri dan kekanan membuat rampok itu semakin cepat mengocok vagina Rafasya dengan obeng.

Akhirnya Rafasya kembali ejakulasi untuk kedua kalinya. Sang rampok begitu senang melihat cairan mengalir deras dari vagina Rafasya, lalu kembali ia menggarap tubuh Rafasya sampai puas. Kedua rekan yang lain dengan sabar menanti giliran.

Akhirnya Rafasya digilir oleh masing-masing rampok itu 2x. Setelah puas menggarap Rafasya, para rampok itu segera beranjak pergi sambil membawa barang jarahannya meninggalkan Rafasya yang masih bugil terkulai lemas di ranjangnya yang penuh dengan bercak sperma dan darahnya.

Dia hanya bisa menangis sesegukan meratapi nasibnya.. Oh..mimpi buruk apa aku..isaknya..Kasihan sekali Rafasya.. What a nightmare on otista street..

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Beritadewasa.spk adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

✓ Update Cerita Sex Setiap Hari

✓ Cerita Sex Berbagai Kategori

✓ 100% Kualitas Cerita Premium

✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik

✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

Minggu, 28 Desember 2025

KISAH NYATA , KARYAWAN INDOMARET ( PINGSAN )

Sahabat Poker - Hanifah yang masih berumur 21 tahun tidak menyadari bahaya nya bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba ada (Indomaret) yang beroperasi 24 jam di Bandung. Tapi karena semangat dan keinginan untuk mandiri membuat dirinya tidak mempedulikan nasehat orang tuanya yang merasa kuatir melihat putriya sering mendapat giliran jaga di malam hari hingga pagi hari.

Hanifah lebih suka bekerja pada shift di jam tersebut, Karena dari saat tengah malam sampai pagi biasanya jarang sekali ada pembeli, sehingga Hanifah bisa belajar untuk materi kuliahnya siang nanti. Sampai akhirnya pada suatu malam terjadilah pemerkosaan itu.

Hanifah mendapati dirinya ditodong oleh sepucuk pistol tepat di depan matanya. Yang berambut Gondrong (sebut saja Budi) , dan yang satu lagi tubuhnya Kurus (sebut saja si Rudi ). Mereka berdua, menerobos masuk membuat Hanifah yang sedang berkonsentrasi pada bukunya terkejut.

“Keluarin uangnya cepet !” perintah si Budi, sementara si Rudi memutuskan semua kabel video dan telepon yang ada di toko itu. Tangan Hanifah gemetar berusaha membuka laci kasir yang ada di depannya, saking takutnya kunci itu sampai terjatuh beberapa kali.

Setelah beberapa saat Hanifah berhasil membuka laci itu dan memerikan semua uang yang ada di dalamnya, sebanyak 100 ribu kepada si Budi, Hanifah tidak diperkenankan menyimpan uang lebih dari 100 ribu di laci tersebut.

Karena itu setiap kelebihannya langsung dimasukan ke lemari besi. Setelah si Budi merampas uang itu, Hanifah langsung mundur ke belakang, ia sangat ketakutan kakinya lemas, hampir jatuh.

“Masa cuma segini?!” bentak si Budi.

“Buka lemari besinya! Sekarang!” Mereka berdua menggiring Hanifah masuk ke kantor manajernya dan mendorongnya hingga jatuh berlutut di hadapan lemari besi. Hanifah mulai menangis, ia tidak tahu nomor kombinasi lemari besi itu, ia hanya menyelipkan uang masuk ke dalam lemari besi melalui celah pintunya.

“Cepat!!!” bentak si Rudi,

Hanifah merasakan pistol menempel di belakang kepalanya. Hanifah berusaha untuk menjelaskan kalau ia tidak mengetahui nomor lemari besi itu. Untunglah, melihat mata Hanifah yang ketakutan, mereka berdua percaya.

“Brengsek!!!! Nggak sebanding sama resikonya! Ayo…Iket dia, biar dia nggak bisa panggil polisi!!!” Hanifah di dudukkan di kursi manajernya dengan tangan diikat ke belakang. Kemudian kedua kaki Hanifah juga diikat ke kaki kursi yang ia duduki. si Rudi kemudian mengambil plester dan menempelkannya ke mulut Hanifah.

“Beres! Ayo cabut!”

“Tunggu! Tunggu dulu rud! Liat dia, dia boleh juga ya?!”.

“Cepetan! Ntar ada yang tau! Kita cuma dapet 100 ribu, cepetan!”.

“Aku pengen liat bentar aja!”.

Mata Hanifah terbelalak ketika si Budi mendekat dan menarik t-shirt merah muda yang ia kenakan. Dengan satu tarikan keras, t-shirt itu robek membuat BH-nya terlihat. Payudara Hanifah yang berukuran sedang, bergoyang-goyang karena Hanifah meronta-ronta dalam ikatannya.

“Wow, oke banget!” si Budi berseru kagum.

“Oke, sekarang kita pergi!” ajak si Rudi, tidak begitu tertarik pada Hanifah karena sibuk mengawasi keadaan depan toko.

Tapi si Budi tidak peduli, ia sekarang meraba-raba puting susu Hanifah lewat BH-nya, setelah itu ia memasukkan jarinya ke belahan payudara Hanifah. Dan tiba-tiba, dengan satu tarikan BH Hanifah ditariknya, tubuh Hanifah ikut tertarik ke depan, tapi akhirnya tali BH Hanifah terputus dan sekarang payudara Hanifah bergoyang bebas tanpa ditutupi selembar benangpun.

“Jangan!” teriak Hanifah. Tapi yang tedengar cuma suara gumaman. Terasa oleh Hanifah mulut si Budi menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Hanifah menjerit ketika si Budi mengigit puting susunya.

“diam! Jangan berisik!” si Budi menampar Hanifah, hingga berkunang-kunang. Hanifah hanya bisa menangis.


“Aku bilang diam!”, Sambil berkata itu si Budi menampar buah dada Hanifah, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Hanifah.

Kemudian si Budi bergeser dan menampar uang sebelah kanan. Hanifah terus menjerit-jerit dengan mulut diplester, sementara si Budi terus memukuli buah dada Hanifah sampai akhirnya bulatan buah dada Hanifah berwarna merah.

“Ayo, cepetan !”, si Rudi menarik tangan si Budi.

“Kita musti cepet minggat dari sini!” Hanifah bersyukur ketika melihat si Budi diseret keluar ruangan oleh si Rudi.

Payudaranya terasa sangat sakit, tapi Hanifah bersyukur ia masih hidup. Melihat sekelilingnya, Hanifah berusaha menemukan sesuatu untuk membebaskan dirinya. Di meja ada gunting, tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali.

“Hey, Brooo! Tokonya kosong!”.

“Masa, cepetan ambil permen!”.

“Goblok Banget lo, cepetan ambil bir tolol!”.

Tubuh Hanifah menegang, mendengar suara beberapa anak-anak di bagian depan toko. Dari suaranya ia mengetahui bahwa itu adalah anak-anak berandal yang ada di lingkungan itu. Mereka baru berusia sekitar 12 sampai 15 tahun. Hanifah mengeluarkan suara minta tolong.

“ssssstt! Lo denger nggak?!”.

“Cepetan kembaliin semua!”.

“Ayooo….lari, lari! Kita ketauan!”.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya ke dalam kantor manajer. Ia terperangah melihat Hanifah, terikat di kursi, dengan t-shirt robek membuat buah dadanya mengacung ke arahnya.

“Buset!” berandal itu tampak terkejut sekali, tapi sesaat kemudian ia menyeringai.

“Hei, liat nih! Ada kejutan!”

Hanifah berusaha menjelaskan pada mereka, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menjelaskan bahwa dirinya baru saja dirampok. Ia berusaha minta tolong agar mereka memanggil polisi.

Ia berusaha memohon agar mereka melepaskan dirinya dan menutupi dadanya. Tapi yang keluar hanya suara gumanan karena mulutnya masih tertutup plester. Satu demi satu berandalan itu masuk ke dalam kantor. Satu, kemudian dua, lalu tiga. Empat. Lima!

Lima wajah-wajah dengan senyum menyeringai sekarang mengamati tubuh Hanifah, yang terus meronta-ronta berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan mereka. Berandalan, yang berumur sekitar 15 tahun itu terkagum-kagum dengan penemuan mereka.

“Gila! Cewek nih!”.

“Dia telanjang!”.

“Tu liat susunya! susu!”.

“Mana, mana Aku pengen liat!”.

“Aku pengen pegang!”.

“Pasti alus tuh!”.

“Bawahnya kayak apa yaaa?!”.

Mereka semua berkomentar bersamaan, kegirangan menemukan Hanifah yang sudah terikat erat. Kelima berandal itu maju dan merubung Hanifah, tangan-tangan meraih tubuh Hanifah.

Hanifah tidak tahu lagi, milik siapa tanga-tangan tersebut, semuanya berebutan mengelus pinggangnya, meremas buah dadanya, menjambak rambutnya, seseorang menjepit dan menarik-narik puting susunya. Kemudian, salah satu dari mereka menjilati pipinya dan memasukan ujung lidahnya ke lubang telinga Hanifah.

“Ayooo, kita lepasin dia dari kursi!” Mereka kemudian melepaskan ikatan pada kaki Hanifah, tapi dengan tangan masih terikat di belakang, sambil terus meraba dan meremas tubuh Hanifah.

Melihat ruangan kantor itu terlalu kecil mereka menyeret Hanifah keluar menuju bagian depan toko. Hanifah meronta-ronta ketika merasa ada yang berusaha melepaskan kancing jeansnya.

Mereka menarik-narik celana jeans Hanifah sampai akhirnya turun sampai ke lutut. Hanifah terus meronta-ronta, dan akhirnya mereka berenam jatuh tersungkur ke lantai.

Sebelum Hanifah sempat membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara lecutan, dan sesaat kemudian Hanifah merasakan sakit yang amat sangat di pantatnya. Hanifah melihat salah seorang berandal tadi memegang sebuah ikat pinggang kulit dan bersiap-siap mengayunkannya lagi ke pantatnya!

“Hei….Bangun! Bangun!” ia berteriak. Hanifah berusaha berguling melindungi pantatnya yang terasa sakit sekali. Tapi berandal tadi tidak peduli, ia kembali mengayunkan ikat pinggang tadi yang sekarang menghajar perut Hanifah.

“Bangun! naik ke sini!” berandal tadi menyapu barang-barang yang ada di atas meja layan hingga berjatuhan ke lantai. Hanifah berusaha bangun tapi tidak berhasil. Lagi, sebuah pukulan menghajar buah dadanya. Hanifah berguling dan berusaha berdiri dan berhasil berlutut dan berdiri.

Berandal tadi memberikan ikat pinggang tadi kepada temannya. “Kalo dia gerak, pukul aja!” Langsung saja Hanifah mendapat pukulan di pantatnya. Berandal-berandal yang lain tertawa dan bersorak. Mereka lalu mendorong dan menarik tubuhnya, membuat ia bergerak-gerak sehingga mereka punya alasan lagi buat memukulnya.

Berandal yang pertama tadi kembali dengan membawa segulung plester besar. Ia mendorong Hanifah hingga berbaring telentang di atas meja. Pertama ia melepaskan tangan Hanifah kemudian langsung mengikatnya dengan plester di sudut-sudut meja, tangan Hanifah sekarang terikat erat dengan plester sampai ke kaki meja.

Selanjutnya ia melepaskan sepatu, jeans dan celana dalam Hanifah dan mengikatkan kaki-kaki Hanifah ke kaki-kaki meja lainnya. Sekarang Hanifah berbaring telentang, telanjang bulat dengan tangan dan kaki terbuka lebar menyerupai huruf X.

“Waktu Pesta!” berandal tadi lalu menurunkan celana dan celana dalamnya. Mata Hanifah terbelalak melihat penisnya menggantung, setengah keras sepanjang 20 senti. Berandal tadi memegang pinggul Hanifah dan menariknya hingga mendekati pinggir meja. Kemudian ia menggosok-gosok penisnya hingga berdiri mengacung tegang. BandarQ

“Waktunya masuk!” ia bersorak sementara teman-teman lainnya bersorak dan tertawa. Dengan satu dorongan keras, penisnya masuk ke vagina Hanifah. Hanifah melolong kesakitan. Air mata meleleh turun, sementara berandal tadi mulai bergerak keluar masuk.

Temannya naik ke atas meja, menduduki dada Hanifah, membuat Hanifah sulit bernafas. Kemudian ia melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Plester di mulut Hanifah ditariknya hingga lepas. Hanifah berusaha berteriak, tapi mulutnya langsung dimasuki oleh penis berandal yang ada di atasnya.

Langsung saja, penis tadi mengeras dan membesar bersamaan dengan keluar masuknya penis tadi di mulut Hanifah. Pandangan Hanifah langsung berkunang-kunang dan merasa akan pingsan, ketika tiba-tiba saja mulutnya dipenuhi cairan kental, yang terasa asin dan pahit sekali.

Semprotan demi semprotan masuk ke mulut Hanifah, tanpa bisa dimuntahkan lagi oleh Hanifah. Ia terus menelan cairan tadi agar bisa terus bernafas. Tiba-tiba saja Berandal yang duduk di atas dada Hanifah turun, lalu berandal memasukkan penisnya ke vagina Hanifah dan mendorong Hanifah di pinggir meja lalu menggenjot memek Hanifah Dengan tempo makin cepat.

Ia juga memukuli perut Hanifah, membuat Hanifah mengejang dan vaginanya berkontraksi menjepit penisnya. Ia kemudian memegang buah dada Hanifah sambil terus bergerak makin cepat, ia mengerang-erang mendekati klimaks.

Tangannya langsung meremas dan menarik buah dada Hanifah ketika tubuhnya bergetar dan sperma tiba-tiba menyemprot keluar, terus-menerus mengalir masuk di vagina Hanifah. Sedangkan berandal yang lainnya berdiri di samping meja dan melakukan masturbasi,

Dan ketika pimpinan mereka mencapai puncaknya mereka juga mengalami ejakulasi bersamaan. Sperma mereka menyemprot keluar dan jatuh di muka, rambut dan dada Hanifah.

Beberapa saat berlalu dan Hanifah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika tahu-tahu ia kembali sendirian di toko tadi, masih terikat erat di atas meja. Ia tersadar ketika menyadari dirinya terlihat jelas, jika ada orang lewat di depan tokonya.

Hanifah meronta-ronta membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Ia menangis dan meronta berusaha melepaskan diri dari plester yang mengikatnya. Setelah beberapa lama mencoba Hanifah berhasil melepaskan tangan kanannya. Kemudian ia melepaskan tangan kirinya, kaki kanannya. Tinggal satu lagi nih.

“Wah, wah, waaaaah!!!” terdengar suara laki-laki yang berdiri di pintu depan. Hanifah sangat terkejut dan berusaha menutupi buah dada dan vaginanya dengan kedua tangannya.

“Tolong saya!” ratap Hanifah.

“Tolong saya Pak! Toko saya dirampok, saya diikat dan diperkosa Pak! Tolong saya Pak, cepat panggilkan polisi!”

“Nama lu Hanifah kan?” tanya laki-laki tadi.

“Ba…bagaimana bapak tahu nama saya?” Hanifah bingung dan takut.

“Aku Tomy. Orang yang dulunya kerja di toko ini sebelum kau rebut!”.

“Tapi saya tidak merebut pekerjaan bapak. Saya tahunya dari iklan di koran. Saya betul-betul tidak tahu pak! Tolonglah saya pak!”.

“Gara-gara kamu ngelamar ke sini Aku jadi dipecat! Aku nggak heran kamu diterima kalo liat bodi mu”.

Hanifah kembali merasa ketakutan saat melihat Tomy, seseorang yang belum pernah dilihat dan dikenalnya tapi sudah membencinya. Hanifah kembali berusaha melepaskan ikatan di kaki kirinya, membuat Raoy naik pitam.

Ia menyambar tangan Hanifah dan menekuknya ke belakang dan kembali diikatnya dengan plester, dan plester itu terus dilitkan sampai mengikat ke bahu, hingga Hanifah betul-betul terikat erat. Ikatan itu membuat Hanifah kesakitan, ia menggeliat dan buah dadanya semakin membusung keluar.

“Lepaskannnn!! Sakittt!! adhh!! Saya tidak memecat kamu!!!! Tapi kenapa saya diikat ?!!”

“Sebenarnya Aku tadinya mau ngerampok nih toko, cuma kayaknya Aku udah keduluan. Jadi baiknya Aku rusak aja deh nih toko”.

Ia kemudian melepaskan ikatan kaki Hanifah sehingga sekarang Hanifah duduk di pinggir meja dengan tangan terikat di belakang. Dan diikatnya lagi dengan plester.

Dan Tomy mulai menghancurkan isi toko itu, etalase dipecahnya, rak-rak ditendang jatuh. Lalu Tomy juga menghancurkan kotak pendingin es krim yang ada di kanan Hanifah. Es krim beterbangan dilempar oleh Tomy. Beberapa di antaranya mengenai tubuh Hanifah, kemudian meleleh mengalir turun, melewati punggungnya masuk ke belahan pantatnya.

Di depan, Es tadi mengalir melalui belahan buah dadanya, turun ke perut dan mengalir ke vagina Hanifah. Rasa dingin langsung menempel di buah dada Hanifah, membuat putingnya mengeras san mengacung. Ketika Tomy selesai, tubuh Hanifah bergetar kedinginan dan lengket karena es krim yang meleleh.

“Kamu keliatannya kedinginan!” ejek si Tomy sambil menyentil puting susu Hanifah yang mengeras kaku.

“Aku harus ngasihh kamu sesuatu yang anget.”

Tomy kemudian mendekati wajan untuk mengoreng hot dog yang ada di tengah ruangan. Hanifah melihat Tomy mendekat membawa beberapa buah sosis yang berasap.

“Jaaaangaann!” Hanifah berteriak ketika Tomy membuka bibir vaginanya dan memasukan satu sosis ke dalam vaginanya yang terasa dingin karena es tadi. Kemudian ia memasukan sosis yang kedua, dan ketiga.

Sosis yang keempat putus ketika akan dimasukan. Vagina Hanifah sekarang diisi oleh tiga buah sosis yang masih berasap. Hanifah menangis karena kesakitan akibat uap panas dari sosis tersebut.

“Keliatannya nikmat Nih….Ha..Ha…!” Tomy tertawa.

“Tapi Aku lebih suka bermain dengan mustard!” Kemudian Ia mengambil botol mustard dan menekan botol itu.

Cairan mustard langsung keluar menyemprot ke vagina Hanifah. Hanifah menangis terus, melihat dirinya disiksa dengan cara yang tak terbayangkan olehnya.

Sambil tertawa Tomy melanjutkan usahanya dengan menghancurkan isi toko itu. Hanifah berusaha melepaskan diri, tapi tak berhasil. Nafasnya sangat tersengal-sengal, ia tidak kuat menahan semua ini. Tubuh Hanifah bergerak lunglai jatuh.

“Hei!! Kamu kalo kerja jangan tidur!” bentak Tomy sambil menampar pipi Hanifah.

Kamu tau nggak, daerah sini nggak aman jadi perlu ada alarm.”

Hanifahpun meronta ketakutan melihat Tomy yang memegang dua buah jepitan buaya. Jepitan itu bergigi tajam dan jepitannya sangat keras sekali. Tomy segera mendekatkan satu jepitan ke puting susu kanan Hanifah, menekannya hingga terbuka dan melepaskannya hingga menutup kembali menjepit puting susu Hanifah.

Hanifah menjerit dan melolong kesakitan, gigi jepitan tadi menancap ke puting susunya. Kemudian Tomy juga menjepit puting susu yang ada di sebelah kiri. Air mata Hanifah bercucuran di pipi.

Kemudian Tomy mengikatkan kawat halus di kedua jepitan tadi, lalu mengulurnya dan kemudian mengikatnya ke pegangan pintu masuk. Ketika pintu itu didorong Tomy hingga membuka keluar, Hanifah merasa jepitan tadi tertarik oleh kawat, dan membuat buah dadanya tertarik dan ia menjerit kesakitan.

“Nah…..,Hmmm… udah jadi. sekarang pintu depan ini bisa buka ke dalem ama keluar, tapi bisa juga disetel cuma bisa dibuka dengan cara ditarik bukan didorong.

Jadi Aku sekarang pergi dulu, terus nanti Aku pasang biar pintu itu cuma bisa dibuka kalo ditarik. Nanti kalo ada orang dateng, pas dia dorong pintu kan nggak bisa, pasti dia coba buat narik tuh pintu, nah, pas narik itu alarmnya akan bunyi!”

“Jaaaaaangan! saya mohoon! Jangan! jangan! jangan! ampun!

Tomypun tidak peduli, ia keluar dan tidak lupa memasang kunci pada pintu itu hingga sekarang pintu tadi hanya bisa dibuka dengan ditarik. Hanifahpun menangis ketakutan, Dan puting susunya sudah hampir rata, dijepit.

Ia terlihat meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan. Tubuh Hanifah berkeringat setelah berusaha melepaskan diri tanpa hasil. Beberapa saat kemudian terlihat sebuah bayangan di depan pintu, Hanifah melihat ternyata bayangan itu milik gelandangan yang sering lewat dan meminta-minta.

Gelandangan itu melihat tubuh Hanifah, telanjang dengan buah dada mengacung. Segera saja Gelandang itu mendorong pintu masuk. Pintu itu tidak terbuka. Si Gelandangan langsung meraih pegangan pintu dan mulai menariknya.

Hanifah langsung menjerit “Jangan! jangan! jangan buka! jangaann!”, tapi gelandangan tadi tetap menarik pintu, yang kemudian menarik kawat dan menarik jepitan yang ada di puting susunya.

Gigi-gigi yang sudah menancap di daging puting susunya tertarik, merobek puting susunya. Hanifah menjerit keras sekali sebelum jatuh di atas meja. Pingsan. Tapi Hanifah tersadar dan menjerit. Sekarang ia berdiri di depan meja kasir. Tangannya terikat ke atas di rangka besi meja kasir.

Dan kakinya juga terikat terbuka lebar pada kaki-kaki meja kasir. Ia merasa kesakitan. Puting susunya sekarang berwarna ungu, dan menjadi sangat sensitif. Udara dingin saja membuat puting susunya mengacung tegang.

Memar-memar menghiasi seluruh tubuhnya, mulai pinggang, dada dan pinggulnya. Hanifah merasakan sepasang tangan berusaha membuka belahan pantatnya dari belakang.

Sesuatu yang dingin dan keras berusaha masuk ke liang anusnya. Hanifah menoleh ke belakang, dan ia melihat gelandangan tadi berlutut di belakangnya sedang memegang sebuah botol bir.

“Ja…Jangan, ampun! Lepaskan saya pak! Saya sudah diperkosa dan dipukuli! Saya tidak tahan lagi.”

“Habisnya pantat Mbak kan belom diituin.” gelandangan itu berkata tidak jelas.

“Jangaaaaan!” Hanifah meronta, ketika penis si gelandangan tadi mulai berusaha masuk ke anusnya.

Setelah beberapa kali usaha, gelandangan tadi menyadari penisnya tidak bisa masuk ke dalam anusnya Hanifah. Lalu ia langsung berlutut lagi, mengambil sebuah botol bir dari rak dan mulai mendorong dan memutar-mutarnya masuk ke liang anus Hanifah.

Hanifah menjerit-jerit dan meronta-ronta ketika leher botol bir tadi mulai masuk dengan keadaan masih mempunyai tutup botol yang berpinggiran tajam. Liang anus Hanifah tersayat-sayat ketika gelandangan tadi memutar-mutar botol dengan harapan liang anus Hanifah bisa membesar.

Setelah beberapa Lama tiba-tiba gelandangan tadi mencabut botol tersebut. Tutup botol bir itu sudah dilapisi darah dari dalam anus Hanifah, tapi ia tidak peduli. Gelandang itu kembali berusaha memasukan penisnya ke dalam anus

Hanifah yang sekarang sudah membesar karena dimasuki botol bir. Gelandangan tadi mulai bergerak kesenangan, rasanya sudah lama sekali ia tidak meniduri perempuan, ia bergerak cepat dan keras sehingga Hanifah merasa dirinya akan terlepar ke depan setiap gelandangan tadi bergerak maju.

Hanifah terus menangis melihat dirinya disodomi oleh gelandangan yang mungkin membawa penyakit kelamin, tapi gelandangan tadi terus bergerak makin makin cepat, tangannya meremas buah dada Hanifah, membuat Hanifah menjerit karena puting susunya yang terluka ikut diremas dan dipilih-pilin.

Akhirnya dengan satu erangan, gelandang tadi orgasme, dan Hanifah merakan cairan hangat mengalir dalam anusnya, sampai gelandangan tadi jatuh terduduk lemas di belakang Hanifah.

“Makasih yaaa Mbak! Saya puas sekaliiiii! Makasih.” gelandangan tadi melepaskan ikatan Hanifah. Kemudian ia mendorong Hanifah duduk dan kembali mengikat tangan Hanifah ke belakang, kemudian mengikat kaki Hanifah erat-erat.

Kemudian tubuh Hanifah didorongnya ke bawah meja kasir hingga tidak terlihat dari luar. Sambi terus mengumam terima kasih Dan sigelandangan tadi berjalan sempoyongan sambil membawa beberapa botol bir keluar dari toko.

Hanifah terus saja menangis, merintih merasakan sperma gelandangan tadi mengalir keluar dari anusnya. Lama kemudian Hanifah jatuh pingsan karena kelelahan dan shock Berat. Dan tersadar ketika Ia ditemukan oleh rekan kerjanya yang masuk pukul 7 pagi.

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Beritadewasa.spk adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

✓ Update Cerita Sex Setiap Hari

✓ Cerita Sex Berbagai Kategori

✓ 100% Kualitas Cerita Premium

✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik

✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

Sabtu, 27 Desember 2025

KISAH NYATA, KELUARGA BESAR

Sahabat Poker -  Cerita ini hanya fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahakan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.

Kedatangan Mama mengejutkanku. Karena tidak ada kabar sebelumnya. Setelah mencium tangan dan cipika cipiki, aku langsung bertanya, “Kenapa gak nelepon dulu kalau Mama mau datang?”

“Memangnya gak seneng ya kalau sekali – sekali mama bikin kejutan sama anak mama?”

“Bukan begitu. Aku kaget aja tau – tau Mama muncul. Naik apa tadi ke sini Mam?”

“Pake kereta api. Dari stasiun ke sini pake taksi.”

“Tapi Mama sehat – sehat aja kan?”

“Sehat. Itu mama bawain balado teri medan dan sambel goreng kentang udang kesukaanmu.”

“Hehehee… iya… terima kasih Mam. Tapi sebentar… Mama ke sini sama siapa?”

“Sendirian aja.”

“Kok gak sama Papa?”

“Ah… papamu lagi main gila sama janda muda. Mana mau dia diajak ke sini. “Ohya, mama pengen nginap di kota ini, biar sekalian bisa jalan – jalan. Tapi mama gak mungkin bisa tidur di sini kan?”

“Iya Mam. Peraturan ibu kos ketat sekali. Gak boleh ada orang luar ikut nginep di sini, meski orang tua sekali pun tidak boleh.”

“Ya udah. Cariin hotel aja yang tidak jauh dari rumah kos ini.”

“Memangnya Mama berani tidur sendirian di hotel?”

“Takutlah. Kan ada kamu yang bisa nemenin mama selama mama di kota ini.”

“Iya deh. Nanti aku temani. Tapi oleh – olehnya bawa ke hotel aja ya. Biar makan di sana aja.”

“Boleh. Mmm… tiap kamar di rumah kos ini dihuni sama dua orang ya?”

“Iya Mam. Teman sekamarku baru berangkat kuliah. Dia dapet kuliah sore sampai malam. Aku sih kuliah pagi tadi.”

“Di rumah kos ini ada ceweknya juga?”

“Gak ada Mam. Semuanya cowok. Ibu kos gak mau terima cewek, takut ada yang hamil gak jelas, katanya.”

“Hihihiii… gitu ya. Ayolah sekarang kita cari hotel dulu.”

“Iya, “aku mengangguk sambil mengganti pakaian di depan Mama. “Rencananya mau berapa hari di Jogja Mam?”

“Maunya sih semingguan. Ingin jalan – jalan ke candi Prambanan dan Borobudur, ingin ke keraton. ke pantai Parangtritis dan sebagainya. Makanya cari hotel yang murah aja, biar bisa jalan – jalan sama kamu. Ohya… hari Senin kan tanggal merah. Kamu libur kan?”

“Iya Mam. Jadi sekarang ini long weekend. Sabtu, Minggu dan Senin libur.”

“Syukurlah. Mama ingin diantar jalan – jalan, mumpung lagi di Jogja.”

“Iya Mam. Dari Selasa sampai Jumat, kuliahku pagi terus. Jadi Mama bisa istirahat dulu, siangnya aku pulang kuliah langsung ke hotel.”

Beberapa saat kemudian, sebuah taksi membawa kami ke sebuah hotel yang sudah kusebutkan kepada sopir taksi. Hotel melati tiga, tapi fasilitasnya bagus. Ada AC dan air panasnya, karena Mama terbiasa mandi pakai air panas. Kamarnya juga bersih dan serba baru, karena hotelnya juga baru dibuka beberapa bulan yang lalu.

Dan yang lebih penting lagi, hotel ini tidak terlalu jauh dari Malioboro. Jadi kalau Mama mau belanja ke Malioboro, bisa jalan kaki dari hotel juga.

Setelah berada di dalam kamar hotel, aku langsung membuka oleh – oleh dari Mama. Ternyata ada nasi timbelnya juga (nasi yang digulung dengan daun pisang).

“Ayo makan dulu Mam,” ajakku.

“Makanlah. Mama masih kenyang, tadi makan nasi goreng di dalam kereta api,” sahut Mama, “Nanti kita jalan – jalan ke Malioboro ya.”

“Iya Mam,” ucapku yang sudah mulai makan oleh – oleh Mama.

Mama mengeluarkan handuk, sabun, shampoo, odol dan sikat gigi dari dalam tas pakaiannya. “Mama mau mandi dulu ah, “katanya.

“Kalau sudah ada rencana mau tidur di hotel, ngapain bawa handuk dan sabun segala? Kan hotel – hotel selalu menyediakan peralatan mandi Mam,” kataku.

“Ah, mama mah suka risih pakai handuk hotel. Takut pernah dipakai oleh orang yang punya penyakit menular.”

“Kan selalu dicuci bersih sebelum diberikan pada tamu yang baru cek in seperti kita ini Mam.”

“Tetep aja risih. Siapa tau ada bakteri atau virus yang tidak mati di mesin cuci,” sahut Mama yang lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Aku pun melanjutkan makan sampai kenyang. Kemudian cuci tangan di washtafel.

“Booon… !” terdengar suara Mama memanggilku dari kamar mandi.

“Ya Mam?” aku menghampiri pintu kamar mandi.

“Tolong ambilin celana corduroy biru tua, baju kaus hitam dan celana dalam dari tas pakaian mama Bon… !”

“Iya Mam,” sahutku sambil bergegas membuka tas pakaian Mama. Untuk mengeluarkan celana corduroy berwarna biru tua, baju kaus berwarna hitam dan celana dalam putih. Kemudian aku melangkah ke pintu kamar mandi sambil menjinjing pakaian Mama itu.

“Ini Mam !” seruku di depan pintu kamar mandi.

“Buka aja pintunya, gak dikunci kok,” sahut Mama.

Kubuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalamnya.

Dan… aaah… Mama sedang telanjang bulat dengan badan masih berbusa sabun…!

Biasanya kalau melihat Mama telanjang, aku suka memalingkan muka, karena jengah. Tapi kali ini aku malah terpaku sambil mengamati keindahan tubuh Mama itu. Tubuh yang tinggi langsing, namun dengan toket dan bokong yang besar.

Kemudian Mama membilas busa sabun di tubuhnya dengan pancaran air shower yang mengepulkan uap, karena airnya panas. Sementara aku malah berdiri terus sambil memperhatikan keindahan tubuh Mama yang… gila… kenapa batinku jadi berdesir – desir aneh begini?

Setelah tubuh Mama bersih dari busa sabun, tampak jelas… kemaluan Mama yang berjembut tipis itu… sehingga bentuknya tetap jelas kelihatan.

Lalu… kenapa pula kontolku mendadak ngaceng begini? Apakah aku mendadak jadi anak yang bejat, yang membayangkan “sesuatu” terhadap ibu kandungku sendiri?

Tapi ketika Mama tampak menyadari kehadiranku yang masih memegang pakaian bersihnya ini, aku pun memalingkan muka sambil mengangsurkan pakaian Mama. Tapi Mama malah menghanduki badannya, sementara tanganku masih menggenggam pakaiannya.

Kemudian Mama mengambil pakaiannya dari tanganku.

Aku pun keluar dari kamar mandi. Tanpa kata – kata lagi.

Tapi batinku berkecamuk. Berkemelut yang sulit meredakannya.

Aku berusaha menenangkan diri dengan keluar dari kamar. Dan duduk di kursi depan kamar, sambil memandang pohon sawo yang tampak sudah berbuah tapi masih kecil – kecil itu. Namun batinku tetap dikuasai oleh sesuatu yang sangat merangsang di kamar mandi tadi.

Yang membuatku jadi resah. Berdiri lagi. Jalan – jalan ke depan hotel, balik lagi ke kamar dan merebahkan diri di atas satu – satunya ranjang dalam kamar ini. Sementara Mama sedang menyisir di depan cermin meja rias.

“Kamu ngantuk Bon?” tanya Mama tanpa beranjak dari depan meja rias sederhana itu.

“Iya Mam. Dibius sama nasi tadi.”

“Makanya kalau makan jangan sampai terlalu kenyang. Ya udah… ke Malioboronya nanti malam aja ya.”

“Iya Mam,” sahutku sambil pura – pura terpejam. Padahal aku sedang memperhatikan Mama secara diam – diam. Bahwa Mama melepaskan kembali celana corduroy biru tua dan baju kaus hitamnya. Bahkan behanya pun dilepaskan. Kemudian Mama mengeluarkan kimono berwarna orange dari dalam tas pakaiannya.

Dikenakannya kimono orange itu. Kemudian Mama naik ke atas bed, sambil memeluk bantal guling, membelakangiku.

“Peluk mama Bon. Dulu waktu masih kecil kamu kan seneng banget melukin mama,” kata Mama.

Memang benar kata Mama. Waktu masih kecil, aku senang sekali memeluk Mama sambil memainkan payudaranya yang montok itu. Tapi sejak lulus SMP, aku tak pernah diajak tidur bareng Mama lagi.

Dan kini aku sudah dewasa. Sudah menyelesaikan kuliah, bahkan sedang menyiapkan skripsi.

Maka jelaslah aku merasa jengah kalau harus memainkan payudara Mama lagi. Tapi aku tetap memeluk mama dari belakang, seperti yang Mama inginkan.

“Mam… Papa itu main perempuan mana lagi?” tanyaku sambil mendekap pinggang Mama.

“Sama janda muda yang sekantor dengannya.”

“Papa gak ada bosannya ya nyakitin Mama.”

“Biarin aja Bon,” sahut Mama sambil menggulingkan badannya jadi berhadapan denganku, “Mama malah akan membalas dendam sama Papa dengan cara mama sendiri.”

“Asal jangan pakai kekerasan aja Mam.”

“Nggak. Mama mau selingkuh aja. Tapi gak mau selingkuh sama orang luar.”

“Lalu mau selingkuh sama siapa Mam?”

“Sama kamu. Mau nggak kita kompak untuk membalas perbuatan Papa?”

“Maksudnya dengan cara gimana?”

Tiba – tiba Mama membisiki telingaku, “Masa sudah hampir sarjana gak ngerti maksud mama?”

“Hmm… samar – samar Mam. Mau selingkuh denganku maksudnya… mau begituan sama aku gitu?”

“Iya. Mama pengen dientot sama kamu.”

Laksana mendengar ledakan petir di siang bolong, aku ternganga sambil memperhatikan senyum dan tatapan mata Mama yang lain dari biasanya.

“Ayo jangan munafik kamu. Mau nggak berselingkuh sama mama?” tanya Mama sambil menarik ritsleting celana jeansku, lalu menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. Dan menggenggam kontolku yang memang sudah ngaceng sejak disuruh memeluk Mama tadi.

“Bona…! Sejak kapan kontolmu jadi gede dan panjang begini Bon?” seru Mama seperti kaget.

“Sejak aku dewasa aja Mam. Mama kan suka mandiin aku waktu masih kecil. Setelah aku di SMP, Mama gak pernah mandiin aku lagi.”

“Mmm… kontolmu mantap Bon…!” ucap Mama setengah berbisik, sambil meremas kontolku dengan lembut.

“Hehehee… Mama serius mau dientot sama aku?” tanyaku sambil menurunkan celana jeans sekaligus celana dalamku, sampai terlepas dari sepasasng kakiku.

“Iya. Mama ingin mengobati sakit hati dengan cara mama sendiri. Kamu mau kan?”

“Mau… tapi kalau Mama hamil nanti gimana?”

“Aaaah… itu sih pikirin nanti aja. Jangan dipikirin sekarang,” ucap Mama sambil menanggalkan kimononya, sehingga tinggal celana dalam saja yang masih melekat di badannya. Karena tadi, sebelum mengenakan kimono orange itu Mama sudah menanggalkan behanya.

“Ini beneran Mam?”

“Iyalah. Sejak berangkat dari rumah tadi, mama sudah merencanaklan ini semua. Lagian kontolmu juga udah ngaceng begitu, berarti kamu juga nafsu melihat mama telanjang di kamar mandi tadi kan?”

“Iya mam. Jujur aja, tadi waktu melihat Mama telanjang di kamar mandi, gak sari – sarinya kontolku jadi ngaceng.”

“Berarti kita sama – sama kepengen kan?” cetus Mama sambil mendekatkan wajahnya ke kontolku. Lalu menciumi moncongnya.

Aku bukan lagi lelaki yang masih ingusan dalam soal sex. Masa laluku yang sangat dirahasiakan itu, telah membuatku trampil dalam hal memuasi perempuan. Namun aku masih bersikap pasif dahulu, karena semuanya ini masih membuatku shock. Betapa tidak shock.

Mama adalah ibuku. Nyaris tak dapat dipercaya bahwa Mama ingin dientot olehku, sebagai wujud dari pembalasan terhadap perselingkuhan Papa.

Tapi seperti kata Mama barusan, aku tak boleh munafik. Bukankah aku sangat terangsang waktu melihat Mama telanjang bulat di kamar mandi tadi, sehingga kontolku jadi ngaceng?

Dan kini, Mama bukan cuma menciumi moncong kontolku. Mama juga menjilatinya, bahkan lalu mengulum kontolku dengan binalnya. Maka tanpa keraguan lagi kubalas peruatan Mama itu dengan mempermainkan pentil toketnya.

Tapi semuanya itu kulakukan sambil memejamkan mataku. Karena kalau bertemu pandang dengan Mama, ada perasaan bersalah di dalam hatiku. Itulah sebabnya aku memejamkan mataku sambil meremas toket Mama dan mengemut pentilnya sambil memejamkan mataku. Sambil membayangkan sedang meremas dan mengemut toket dosenku yang seksi itu.

Namun ketika aku masih memejamkan mata, tangan kananku ditarik oleh Mama, lalu diletakkan di permukaan sesuatu yang berambut tipis dan ada celahnya… yang aku yakin bahwa yang kusentuh ini adalah memek Mama…!

Setelah menyentuh sesuatu yang membangkitkan tanda tanya dan nafsu ini, kubuka mataku. Ternyata Mama sudah menanggalkan celana dalamnya. Dan yang sedang kujamah ini adalah memeknya…!

Sementara Mama pun sudah menelentang sambil tersenyum manis padaku.

“Ayo mau diapain memek mama ini Sayang?” tanyanya sambil mengelus – elus rambutku.

“Ma… mau dijilatin seperti dalam film bokep Mam. Boleh?” aku menatap Mama dengan perasaan masih ragu.

“Boleh,” sahut Mama, “jilatinlah sepuasmu. Anggap aja mama ini orang lain. Bukan ibumu. Ayo… jilatinlah memek mama. “Mama merenggangkan kedua belah paha putih mulusnya sambil tersenyum yang sangat lain dari biasanya.

Kubulatkan hatiku, lalu tengkurap di antara kedua belah paha Mama, dengan wajah berada di atas kemaluan Mama yang jembutnya sangat tipis dan halus itu. BandarQ

Nafsu birahi sudah semakin menguasai diriku. Sehingga tanpa keraguan lagi kungangakan mulut memek Mama, sehingga bagian yang berwarna pink itu tampak jelas di mataku. Hmmm… betapa menggiurkannya bagian yang berwarna pink itu.

Maka kujilati bagian yang berwarna pink itu dengan lahap. Membuat Mama mulai menggeliat sambil membelai rambutku yang berada di bawah perutnya.

Begitu lahapnya aku menjilati bagian yang berwarna pink di tempik Mama itu. Sehingga Mama semakin menggeliat – geliat sambil berdesah – desah.

“Booon… ooooohhhhh Boooon… kamu sudah pandai gini jilatin memek yaaaa… lanjutkan jilatin Booon… itilnya juga jilatin… ini nih itilnyaaaaa… “Mama menunjuk ke bagian yang nyempil sebesar kacang kedelai itu.

Kuikuti keinginan Mama. Kujilati itilnya yang sebesar kacang kedelai itu. Bahkan kusertai dengan isapan – isapan, membuat Mama mulai klepek – klepek.

Bahkan pada suatu saat Mama berkata terengah, “Cu… cukup Bona…! Ma… masukin aja kontolmu Sayaaaang… !”

Tanpa membantah, kuangsurkan moncong kontolku ke mulut memek Mama.

Mama pun membantu dengan memegangi leher kontolku. Mungkin agar arahnya tepat sasaran. “Iiiih… gedenya kontolmu ini Bon. Gak nyangka kontol anak kesayangan mama sudah sepanjang dan segede ini.”

“Umurku sekarang kan sudah duapuluhtiga tahun Mam.”

“Iya. Tapi kontol papamu aja gak segede dan sepanjang ini Sayang. Ayo dorong… !”

Tanpa mikir lagi kudesakkan kontolku sekuatnya. Dan… langsung melesak masuk ke dalam liang memek Mama.

Mama seperti menahan nafasnya. Lalu berkata, “Terasa sekali bedanya kontolmu dengan punya papamu. Kontolmu jauh lebih gede… pasti jauh lebih enak daripada punya papamu. Ayo entotin Bon.”

Tanpa membantah, aku mulai mengayum kontolku, bermaju mundur di delam liang memek Mama.

“Mam… uuuugggghhhh… Maaaam… ternyata memek Mama enak sekali Maaaaam…” ucapku tanpa memperlambat gerakan entotanku.

Mama memeluk leherku, lalu merapatkan pipinya ke pipiku sambil berkata terengah, “Kon… kontolmu juga… enak sekali Sayaaaang… gak nyangka… kita bakal beginian ya…”

“Iii… iyaaaa… yang penting Mama jangan sakit hati lagi sama Papa…”

Pergesekan kontolku dengan dinding liang memek Mama memang luar biasa nikmatnya. Membuat nafasku jadi berdengus – dengus, diiringi oleh rintihan dan rengekan manja mama yang terdengar sangat erotis di telingaku, “Booonaaaa… aaaaaaahhhh… Booon… aaaaaah… aaaaaaa… aaaaah… entot terus Booon…

Ini luar biasa enaknya Bonaaaa… aaaaa… aaaaah… entoooottt teruussss… entooottttttttt… jangan brenti – brenti… entoooooooottttttt… entoooooottttttt… entooooot Sayaaang… entoooooooootttttttt… aaaaaa… aaaaaah… sambil remes tetek mama Booon… iyaaaa… remes terussss…

Aku semakin bergairah untuk melanjutkan persetubuhan dengan Mama ini. Bahkan ketika mulut Mama ternganga – nganga, kupagut bibir yang sedang ternganga itu. Dan ternyata mama menyambut dengan lumatan binal.

Dekapan Mama di pinggangku pun berubah jadi remasan -remasan di bokongku. Maka aku pun semakin bersemangat untuk menjilati leher mama yang sudah mulai keringatan. Membuat Mama terpejam – pejam dan menahan – nahan nafas.

Tapi aku masih sempat berbisik di dekat telinga mama, “Nanti kalau aku mau ngecrot, lepasin di mana Mam?”

“Di… di dalam… me… memek mama aja… Sayang. Emangnya ka… kamu udah mau ngecrot?”

“Be… belum Mam. Cuma nanya aja.”

Persetubuhan ini semakin bergairah ketika Mama mulai menggoyang pinggulnya… meliuk – liuk dan menghempas – hempas ke kasur. Sehingga kontolku serasa dibesot – besot oleh dinding liang memek Mama yang terasa hangat dan licin ini.

Namun tiba – tiba Mama tampak seperti panik, “Bona… Bona! Mama mau lepas… mau lepas… barengin Bon… biar nikmat… mau lepas Bon… mau lepassss… ayo barengin… barengin…”

Aku jadi ikutan panik. Maka kupercepat entotanku dan berusaha ngecrot bareng seperti yang mama inginkan.

Dan akhirnya kutancapkan kontolku di dalam liang memek Mama, tanpa menggerakkannya lagi. Pada saat itu pula Mama tampak mengejang sambil meremas – remas rambutku, sambil menahan nafasnya dengan mata terpejam erat – erat.

Pada saat itu pula aku sedang melotot sambil merasakan berlompatannya air mani dari moncong kontolku. Crooooootttttt… crooooottttt… crottt… crooottt… crooooooooottttttttt… crot… crooootttt!

Aku terkapar di atas perut Mama. Lalu terkulai lunglai dengan tubuh bermandikan keringat. Seperti Mama juga, yang wajah dan lehernya dibanjiri keringat.

Ketika membuka matanya, Mama tersenyum sambil mencubit pipiku, “Kamu sangat memuaskan Sayaaang… emwuaaaah… emwuaaaaah… !“Mama menciumi sepasang pipiku. Lalu mendorong dadaku, mungkin agar kontolku dicabut dari dalam memeknya.

Aku lakukan itu. Mencabut kontolku yang sudah lemas ini dari liang memek Mama.

Namun setelah mencabut kontol, aku tengkurap lagi di antara sepasang paha Mama yang masih renggang jaraknya.

Dengan serius kuperhatikan bentuk memek Mama yang baru mengalami orgasme itu. Memang benar kata para pakar seks, bahwa memek yang baru mengalami orgasme akan membuka seperti bunga yang baru mekar. Bahkan labia minoranya pun tampak seperti jengger, mengembang dan menghitam. Tapi bagian dalamnya yang berwarna pink itu justru semakin indah dipandang mata.

“Mau diapain lagi memek mama Sayang?” tanya mama sambil duduk dan membelai rambutku.

“Seneng ngeliat memek Mama yang baru orgasme. Jadi seperti bunga mekar,” sahutku.

“Masa sih?! Sebentar… mama mau ke kamar mandi dulu. Pengen kencing.”

Mama turun dari bed dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Aku pun bergegas mengikuti Mama, lalu memperhatikan Mama yang sedang duduk di kloset. “Mau ngapain lagi Sayang?”

“Pengen merhatiin seperti apa bentuk memek yang sedang kencing Mam.”

“Hihihiii… kamu ada – ada aja. Iya deh… liatin nih, seperti apa memek mama kalau sedang kencing…” ucapku sambil berjongkok di dekat kloset, dengan pandangan terpusat ke memek Mama.

Mama tersenyum dan duduk di klosetnya agak mundur, agar aku bisa menyaksikan seperti apa bentuk memek yang sedang kencing itu. 

Ssssrrrr… air kencing terpancar dari liang kecil di bagian memek yang berwarna pink itu. Aku tercengang menyaksikannya. “Waktu aku lahir, keluarnya dari lubang yang berbeda dengan lubang kencing ya Mam,” kataku.

“Ya beda lah. Kamu dikeluarkan dari lubang yang dientot sama kamu tadi,” sahut Mama sambil menyemprotkan air shower untuk menceboki memeknya.

“Kapan – kapan kalau Mama kencing, aku pengen nyebokin Mama ah…” ucapku sambil berdiri kembali.

“Iya Sayang. Mmm… perutmu masih kenyang kan?”

“Iya, masih kenyang. Emangnya kenapa?”

“Mama sudah kangen sama gudeg Jogja.”

“Ya ayo kuanter. Dekat hotel ini ada warung gudeg yang murah tapi enak. Di Jogja sih jangan asal – asalan beli gudeg di tempat yang ramai sama turis. Salah – salah bisa ditekuk harganya. Mending kalau enak gudegnya. Yang jualan bukan orang Jogja kok.”

“Iya. Ntar mama mau bersih – bersih dulu. Badan mama penuh keringat nih. Lengket – lengket.”

Aku pun kencing dulu di kloset bekas Mama kencing tadi. Kemudian keluar dari kamar mandi. Mengenakan pakaian kembali. Dan duduk di satu – satunya sofa dalam kamar ini.

Sekilas bayangan masa laluku menggelayuti terawanganku. Tentang segala yang pernah terjadi ketika Papa dan Mama masih tinggal di Sleman. Karena pada saat itu Papa masih bekerja di Jogja.

Tapi setelah Papa dimutasikan ke Jabar, semuanya pindah ke Jabar. Hanya aku yang tetap tinggal di Jogja. Di rumah kos milik Bu Artini itu, karena rumah dinas Papa dihuni oleh keluarga lain setelah Papa dipindahkan ke Jabar.

Tentu saja aku takkan dapat melupakan semuanya itu. Berawal dari dalam rumah kami sendiri. Bahwa aku merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara. Ketiga kakakku perempuan semua. Sebut saja Mbak Weni yang tertua, Mbak Rina yang kedua, Mbak Lidya yang ketiga dan aku bernama Bona (disamarkan semua) yang keempat alias anak bungsu.

Beda usia kami hanya setahun – setahun. Lucu ya? Mbak Weni 21 tahun, Mbak Rina 20 tahun, Mbak Lidya 19 tahun dan aku 18 tahun.

Menurut penuturan Mama, sengaja Papa dan Mama “bikin anak” setahun sekali, lalu distop (masuk KB) setelah anaknya 4 orang. Jadi capeknya sekaligus pada waktu kami masih kecil – kecil. Setelah “target”nya terpenuhi (punya anak empat orang), Mama tidak perlu hamil lagi. Cukup dengan mengasuh kami berempat yang perbedaan usianya dekat – dekat ini.

Ketiga kakakku terasa sangat menyangiku sebagai satu – satunya saudara mereka yang cowok. Begitu juga Papa dan Mama selalu memanjakanku. Apa pun yang kuminta, selalu dikasih. Tapi tentu saja permintaanku bukan yang mahal – mahal. Paling juga minta dibeliin sepatu olahraga, minta dibeliin bat pingpong dan bola basket.

Aku dan kakak – kakakku pada kuliah semua, sesuai dengan indoktrinasi dari Papa, bahwa harta itu ada habisnya. Tapi ilmu takkan habis – habis sampai kapan pun.

Aku sendiri kuliah di fakultas pertanian. Karena sejak masih di SMA, aku ingin sekali jadi insinyur pertanian.

Baik Papa mau pun Mama tidak menghalang – halangi pilihanku. Karena semua fakultas itu baik, kata mereka. Begitu pula kakak – kakakku ikut mendukung saja pada pilihanku untuk kuliah di fakultas pertanian.

Di antara kakak – kakakku, Mbak Weni yang paling baik padaku. Dia sering nraktir makan baso, martabak manis, pizza dan sebagainya. Dia memang selalu banyak duit. Tapi aku tidak tahu darimana dia selalu punya duit banyak begitu. Mungkin dari pacarnya atau entah dari mana. Tapi setahuku Mbak Weni tidak punya pacar.

Tapi biarlah, itu urusan pribadinya yang tak perlu kucampuri. Yang jelas aku merasa Mbak Weni selalu mendukungku dalam hal apa pun. Misalnya pada waktu aku sedang mengikuti pertandingan olah raga, baik pertandingan bola basket mau pun tenis meja, Mbak Weni selalu berusaha membawa teman – temannya untuk menjadi suporterku.

Mbak Weni juga selalu membelaku kalau sedang berdebat dengan Mbak Rina mau pun Mbak Lidya.

Tapi sebenarnya aku tak pernah bertengkar dengan ketiga kakakku. Paling hanya berdebat sedikit, lalu ketawa – ketiwi lagi.

Hari demi hari pun berputar terus tanpa terasa.

Sampai pada suatu hari. Papa dan Mama terbang ke Palembang untuk menghadiri pesta pernikahan saudara sepupuku.

Mbak Rina pun dibawa, karena dia senang merias pengantin. Maklum Mbak Rina bercita – cita ingin memiliki salon yang besar dan punya cabang di beberapa kota.

Sementara itu

Mbak Lidya sedang study tour ke Jawa Timur, sehingga di rumah hanya ada aku, Mbak Weni dan pembantu yang tiap pagi datang, lalu pulang setelah sore.

Aku bahkan diingatkan oleh Papa, agar jangan meninggalkan rumah kalau tidak ada urusan yang penting. Supaya di rumah kami tetap ada cowoknya.

Namun pada saat inilah mulai terjadinya kisah yang takkan kulupakan di seumur hidupku. Awalnya Mbak Weni berkata padaku, “Bona… rumah ini jadi terasa sepi dan agak menakutkan. Nanti malam tidur di kamarku aja ya.”

“Iya Mbak,” sahutku yang selalu menurut kepada kakak sulungku itu. Karena dia juga selalu berbaik hati padaku.

Setelah mandi sore, aku diajak makan bersama Mbak Weni. Pada saat itu Mbak Atiek, pembantu kami, sudah pulang. Sehingga kami bebas mau ngomong apa saja.

Pada waktu makan sore itulah Mbak Weni menanyakan sesuatu yang tidak biasa ditanyakannya.

“Bona… kamu udah punya pacar belum?” tanyanya.

“Belum,” sahutku, “Mbak sendiri udah punya?”

“Dulu waktu masih di SMA sih punya. Sekarang sie gak punya. Pacaran itu buang – buang waktu doang. Teman dekat sih banyak. Tapi gak mau pacaran dulu. Nanti kalau udah sarjana, langsung nyari calon suami aja. Jangan cuma pacaran mulu.”

“Aku juga gitu Mbak. Otak mendingan dipake buat kuliah. Pacaran sih nanti aja kalau udah punya kerja. Pacaran kan butuh biaya juga. Buat traktir makan – makan lah, buat nonton bioskop lah.”

Mbak Weni mengangguk – angguk sambil tersenyum.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, seperti biasa kalau sudah mau tidur, kukenakan celana training dan baju kaus oblong. Lalu masuk ke dalam kamar Mbak Weni.

Kulihat Mbak Weni sedang asyik dengan hapenya. Entah sedang WA sama siapa. Yang jelas dia sering tersenyum sendiri sambil memandang layar hapenya.

Aku pun langsung naik ke atas bednya yang selalu harum parfum mahal. Ini salah satu yang kusukai pada kakak sulungku itu. Kamarnya selalu harum, apalagi tempat tidurnya ini.

Tak lama kemudian Mbak Weni pun mematikan hapenya, lalu men-charge-nya.

Pada saat itu Mbak Weni juga sudah mengenakan dasternya yang berwarna pink polos. Setelah mematikan lampu terang dan menyalakan lampu tidur berwarna biru, dia naik juga ke atas tempat tidurnya.

“Yong… kamu udah pernah ngerasain begituan sama cewek?” tanyanya.

“Haa? Belum lah.”

“Masa sih?!”

“Sumpah, aku belum pernah begituan. Emangnya kenapa?”

“Megang memek cewek sih pernah kan?”

“Belum juga Mbak. Jangankan megang memek. Megang toket juga belum pernah.”

“Kasian… udah jadi mahasiswa belum pernah ngapa – ngapain. Padahal kamu ini ganteng lho. Tapi kamu gak pernah memanfaatkan kegantenganmu ini ya?”


Bersambung…

Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia

Beritadewasa.spk adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

✓ Update Cerita Sex Setiap Hari

✓ Cerita Sex Berbagai Kategori

✓ 100% Kualitas Cerita Premium

✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik

✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

KISAH NYATA , JIRAN AMOI

SAHABATPOKER  -  Sehari lepas kepulangan Maniam ke rumahnya, aku tak dengar apa-apa cerita tentang Devi lagi. Kebetulan pulak, keesokkan har...