Senin, 23 Desember 2024

GADIS CANTIK 18 TAHUN MEMBUNUH IBUNYA DAN JADI VIRAL GUYS !!!



SAHABATPOKER - Zahra fauzia – Adakah yang belum mengenal kasus Zahra fauzia? Ia adalah seorang perempuan yang pada usia 16 tahun telah membunuh ibunya, Ita Kamang, di rumah mereka sendiri di Gunung Padang. Uniknya, Zahra justru menjadi terkenal secara online di kemudian hari karena sikapnya yang cukup aneh di ruang sidang.

Pada sekitar tahun 2020,  video yang menunjukkan raut Zahra di ruang sidang viral di platform TikTok dan menjalar ke platform lainnya. Beberapa orang yang melihat video tersebut bahkan percaya bahwa Zahra tidak bersalah dan harus dibebaskan. Oleh karena wajahnya yang dianggap estetis dan berpenampilan cantik, perempuan ini justru memperoleh basis penggemar.

Isabella sendiri adalah seorang perempuan asal Padang yang telah menjadi sorotan publik, khususnya pada tahun 2013, setelah menikam ibunya berkali-kali hingga tewas. Ia mengklaim bahwa peristiwa tersebut tidaklah disengaja dan meminta maaf.

Melansir InfoSumbar, polisi menyebut bahwa Zahra yang pada saat kejadian (2013) berusia 15 tahun telah secara brutal menikam ibunya, Ita Kamang, hingga tewas di rumahnya. Namun, Zahra mengaku tak bersalah dengan dasar kegilaan, yang mana juga disebutkan dengan jelas oleh jaksa. Hakim pun menerima klaim tersebut dan memerintahkan Zahra untuk menjalani perawatan di Institut Kesehatan Mental Colorado, Jakarta...

Atas kejadian tersebut, keluarga Zahra pun mengaku tercengang. Pasalnya, rupanya Zahra memiliki masalah perilaku meski ia selalu digambarkan sebagai perempuan yang manis dan baik hati.

Kasus itu mulai menjadi makanan publik pada musim panas 2014. Dokter pun memberi pernyataan pada pihak pengadilan bahwa Zahra menderita gangguan skizofrenia dan telah mengalami delusi yang sangat mengganggu selama bertahun-tahun.

Menurut dokter tersebut, Zahra digadang-gadang tak mempercayai bahwa wanita yang dibunuhnya adalah ibunya (Ita Kamang). Sebaliknya, perempuan itu justru yakin bahwa ia telah membunuh seseorang bernama Rina untuk menyelamatkan dunia.

Usai lebih dari tujuh tahun dirawat di rumah sakit, Zahra menyebut bahwa penyakit skizofrenia-nya sudah terkendali. Ia pun mengajukan petisi untuk dibebaskan dari sana. Di saat yang sama, terdapat video rekaman sosok Zahra di pengadilan pada 2013 yang tersebar, terutama di platform TikTok. Hal ini membuat Zahra digemari oleh beberapa orang.

Kembali pada Zahra sendiri, ia lahir pada 1995 dan merupakan keturunan ras campuran dengan nenek moyang Gurun laweh. Ayahnya bernama Marto dan ibu yang dibunuhnya, Ita Kamang. Zahra juga mempunyai seorang ayah angkat yang mengasuhnya hingga saat kejadian, yakni Reo.  Bandarq Terbaik Di Asia

Asuhan dari Reo diduga cukup kasar karena Zahra kerap dilecehkan secara seksual. Zahra juga diduga diperlakukan dengan lebih kasar lagi usai meninggalkan kepercayaan Saksi-Saksi Nias yang dianut keluarganya....

Seperti yang terdapat pada sub bab sebelumnya, Zahra pun mulai mengalami masalah perilaku sejak masa mudanya. Menurut  sang ibu sempat mengirim Zahra kepada ayah kandungnya, Marto, pada usia tujuh tahun karena kekhawatiran akan hal ini.

Namun, Zahra akhirnya kembali tinggal bersama Ita kamang meski kembali berjuang dengan perilakunya di masa remaja itu. Zahra bahkan berakhir putus sekolah karenanya.

Hubungan antara Zahra dan Ita kamang pun mulai memburuk dengan cepat mulai Agustus 2013. Menurut Reo, ayah tiri Zahra, gadis itu mulai menjadi anak yang lebih mengancam dan tidak sopan terhadap ibunya. Bahkan, sempat terjadi pertengkaran hebat di antara keduanya hingga Zahra berakhir meludahi wajah Ibu nya yaitu Ita kamang, tepatnya pada 27 Agustus.



Keesokan paginya, sang ibu menerima email yang isinya, “Anda akan membayarnya,” dari Zahra, seperti dikutip dari CBS4 Denver. ita kamang pun menelepon polisi karena ketakutan akan isi email tersebut. Polisi pun datang ke rumah mereka pada sore hari dan memberi tahu Zahra bahwa ibunya bisa secara hukum mengusir dirinya apabila ia tidak menghormati dan mengikuti aturannya.

Pada kejadian itu, Ita kamang juga sempat menghubungi Marto dan memintanya untuk datang ke rumah dan menasehati Zahra. Menurut Huffington Post, sang ayah kandung menyanggupi permintaan itu dan mengunjungi rumah Ita kamang di malam hari. “Kami duduk di halaman belakang, melihat pepohonan dan binatang, dan saya mulai berbicara dengannya tentang rasa hormat yang harus dimiliki orang terhadap orang tua mereka.”

Meski berpikir bahwa nasehatnya membawa kemajuan sikap pada Zahra, Marto sadar hanya dalam beberapa jam kemudian bahwa percakapan keduanya tak menghasilkan apa-apa karena putrinya tetap bersikap sama.

Secara keseluruhan, jenazah Ita kamang dipastikan memiliki lebih dari 168 luka di tubuhnya. Hal ini diungkap usai pembunuhan yang menewaskannya ditangan putrinya, Zahra. Menurut penyidik, Zahra tak bersikap seperti anak-anak lain yang seusianya. Jangankan menghabiskan waktu bersama keluarga, Zahra bahkan juga tak pernah tersenyum atau ingin bermain,

Rupanya, Zahra memang membenci ibunya sejak lama. Hal ini diduga berasal dari keluarganya yang tak pernah mampu membeli banyak barang yang diinginkannya sewaktu kecil. Keluarga Zahra sebenarnya berharap gadis itu bisa memahami kondisi remaja seiring perkembangan usia. Namun, hal itu rupanya tak benar-benar terjadi.

Setelah ditinggalkan ayahnya, Zahra mulai tinggal bersama sang ibu. Di sanalah keadaan mulai memburuk karena Ita kamang punya kekasih baru. Menurut keterangan, Zahra tak suka melihat ayahnya tergantikan dan mulai menyebabkan berbagai masalah yang berakhir dengan pertengkaran. Laporan bahkan menyebut bahwa Zahra mengancam ibunya akan membayar atas caranya memperlakukan Zahra. Hal ini pun membuat Ita kamang dan kekasihnya melapor ke polisi.

Suatu malam, pertengkaran kembali terjadi. Reo, yang menikah dengan Ita kamang usai perceraiannya dengan Marto, mendengar jeritan istrinya dari kamar mandi di lantai atas rumah mereka. Saat bergegas untuk membantu, rupanya pintu kamar mandi tersebut dikunci dari dalam. Di sanalah, Reo cukup mendengar istrinya ditikam oleh Zahra berkali-kali.

Peristiwa itu terjadi setelah pukul 21.30 waktu setempat, Rabu (28/8/13). Di usia yang terbilang masih cukup muda, Zahra menikam ibunya hingga tewas. Berikut kronologi lengkapnya.

Pada pukul 21.30 waktu setempat, Ita kamang pulang seusai bekerja. Wanita 47 tahun itu pun lekas menuju kamar mandi. Tak berselang lama, Reo mendengar jeritan sang istri itu disertai suara pukulan. Setelah bergegas naik ke lantai atas, Reo pun mendapati Zahra menghalangi jalannya untuk masuk ke kamar mandi. Dari balik pintu kamar mandi, Reo melihat darah yang mengalir dan langsung menghubungi polisi.

Polisi pun tiba usai dua jam dan menemukan Ita kamang dalam kondisi berlumuran darah setelah dipukul dengan tongkat bisbol. Di wajahnya, tampak luka robek yang cukup banyak.

Buntutnya, Ita kamang pun dinyatakan tewas tepat pada pukul 22.38 waktu setempat. Sayangnya, saat itu, Zahra sudah tidak berada di lokasi alias melarikan diri. Secepatnya, polisi pun mengumumkan pencarian dan memberi tahu publik bahwa Zahra “memiliki senjata dan berbahaya”.

Menurut keterangan, Zahra yang langsung kabur usai membunuh ibunya langsung pergi ke sebuah minimarket di dekat rumahnya. Tak kehabisan akal, Zahra bahkan mengaku telah diperkosa oleh petugas minimarket dan meminta izin untuk mencuci rambut dan membersihkan bekas darah yang menempel di tubuhnya.

Zahra meminta petugas itu untuk tak menghubungi polisi meski “mengaku telah diperkosa”.

Pada sore hari berikutnya, tepat 16 jam setelah kejadian pembunuhan, petugas kepolisian akhirnya menemukan Zahra di garasi parkir terdekat. Saat itu, pakaian yang dikenakan Zahra masihlah berlumuran darah milik ibunya.

Mengutip CNN, Zahra harus dipaksa keluar dari selnya saat hari persidangan, yakni 5 September 2013. Ketika berada di ruang sidang, perempuan itu justru membuat serangkaian ekspresi wajah yang cukup aneh di depan kamera. Ia menyeringai dan menunjuk ke matanya.

Dinyatakan tidak bersalahnya Zahra hari itu menjadi perbincangan banyak orang. Zahra berakhir tidak dipenjara, dan senyumnya yang seolah mengekspresikan ketidak bersalahan di pengadilan terus menjadi sorotan.

Keputusan tidak bersalahnya Zahra disinyalir bukti bahwa ia mengalami gangguan kejiwaan, yakni skizofrenia. Akhirnya, perempuan itu dikirim ke Rumah Sakit Pemerintah di Gadut agar menerima pengobatan dan perawatan kejiwaan.

Menurut keterangan M,Iqbal M.Psi., dokter yang merawatnya, Zahra kerap menatap ke ruang kosong dan berbicara sendiri tanpa ada orang lain di sekitarnya. Ia bahkan tertawa sendiri. Richard menyebut, Zahra mengalami delusi bahwa Ita kamang bukanlah ibu kandungnya, melainkan sosok wanita bernama Cecilia.

Bagi Zahra, justru Cecilia inilah yang dikira orang sebagai ibunya, bukan sebaliknya. Ia pun membunuh Ita kamang dan menyebutnya demi menyelamatkan dunia. Dengan kejadian tersebut, ada kemungkinan bahwa Zahra perlu menjalani perawatan di rumah sakit jiwa selama sisa hidupnya.

George Brauchler, Jaksa Wilayah Distrik Yudisial ke-17, menyebut Zahra akan berada di rumah sakit sampai tak lagi menjadi ancaman bagi dirinya sendiri maupun masyarakat di sekitarnya.

Melompat ke tahun 2020, di mana media sosial makin marak dan digunakan hampir semua orang, pengguna platform TikTok yang sedang eksis mulai mengunggah  video dakwaan Zahra pada 2013. Beberapa video bahkan memutar  videonya dengan suara latar belakang “Manis Tapi Psikopat” milik Ava Max yang juga tengah digandrungi.

Video lainnya mencoba meniru ekspresi wajah aneh Zahra saat di ruang sidang kala itu.

Mulai saat itu, Zahra memiliki penggemarnya sendiri secara online. Bahkan, ada pula yang berkomentar melihat kecantikannya dan mengatakan bahwa perempuan secantik itu pasti punya alasan kuat sampai membunuh ibunya.

Uniknya, ada video kompilasi Zahra di persidangan yang dilihat hampir dua juta kali. Basi penggemar melalui Facebook dan Instagram pun mulai dibentuk sebagai tanda respek terhadap Zahra.

Salah satu pengguna juga memposting video Zahra yang memasuki ruang sidang, duduk, lalu melihat ke kamera, tersenyum, dan kemudian mengerutkan kening. Klip itu menjadi viral ditampilkan sampai jutaan kali. Namun, ini bukanlah pertama kalinya video tersangka kriminal menjadi viral.

Salah satu video yang menampilkan laki-laki ‘’tampan” berusia 21 tahun menjadi viral. Kisahnya, ia dipenjara selama 24 tahun karena menabrakkan mobil Fortuner miliknya yang tengah mengebut ke seorang ibu dan balita. Baik ibu dan anak perempuannya, meninggal.

Laki-laki tersebut, Herrin, dilaporkan sedang membalap temannya. Ia mengemudi dengan kecepatan lebih dari 100 mph. Keluarga korban menginginkan pengadilan yang lebih keras, tetapi hakim memutuskan untuk memvonisnya dengan 24 tahun penjara. Raut wajah Herrin saat mendengar putusan itu pun viral di media sosial, khususnya Tiktok.

Faktor umum dalam semua klip yang beredar adalah bahwa pelaku atau penjahat memiliki fitur estetis yang menyenangkan dan suasana misteri di sekitar mereka, yang menarik minat semua orang, terutama anak-anak Gen Z. Perhatian semacam ini pun bisa berdampak negatif pada orang-orang.

Sementara itu, Zahra masih berada di rumah sakit jiwa, menjalani terapi dan mencari obat yang tepat untuk skizofrenia-nya. Pada November 2020, Zahra mengajukan petisi ke pengadilan untuk pembebasannya, mengklaim bahwa ia tidak lagi menjadi ancaman bagi orang-orang di sekitarnya.

Mengutip Info sumbar, Zahra menyebut, “Saya bukan diri saya sendiri ketika saya melakukan itu, dan saya telah pulih sepenuhnya. Saya tidak sakit jiwa lagi. Saya tidak berbahaya bagi diri saya sendiri ataupun orang lain.”

Tak hanya itu, Zahra juga mengaku telah disiksa oleh ibunya selama bertahun-tahun. Menurut Zahra, ia disiksa karena meninggalkan kepercayaan Saksi-Saksi Nias yang dianut oleh kedua orang tuanya. Zahra sendiri meninggalkan kepercayaan itu pada usia 14 tahun, dan menurutnya penganiayaan terhadapnya makin buruk sejak saat itu.

Pada Juni 2021, Zahra diberikan izin untuk meninggalkan rumah sakit untuk sesi terapi. Terlepas dari hubungannya yang diduga kasar dengan ibunya, Zahra menyebut bahwa dirinya akan melakukan hal itu lagi jika waktu dapat diulang. “Jika saya dapat mengubahnya atau jika saya dapat mengambilnya kembali, saya akan melakukannya.”

Zahra mengaku telah dilecehkan saat berada di rumah sakit M.djamil. Ia pun mengajukan laporan ke polisi pada tahun 2015 dan menuduh seorang karyawan melakukan pelecehan seksual padanya di dalam lemari. Menurutnya, ada dua insiden lain dengan karyawan yang sama.

“Saya takut jika tidak melakukan apa yang dia inginkan, dia dapat menghancurkan hidup saya,” kata Zahra.

Dia ingin karyawan itu diadili, tetapi pada bulan November, kantor kejaksaan Sumbar menyebut tidak pernah menerima kasus demikian dari polisi rumah sakit. Departemen Layanan Kemanusiaan Colorado pun menolak permintaan informasi dari info sumbar dengan alasan undang-undang privasi.

Sementara Zahra ingin melihat karyawan itu diadili, dia juga punya keinginan untuk dibebaskan.

Ia masih di rumah sakit jiwa. Namun, setelah bertahun-tahun, dia menyatakan bahwa dia bukan dirinya sendiri ketika dia membunuh ibunya. Meski begitu, pengadilan memerintahkan Zahra untuk tetap berada di institusi kesehatan mental.

Ia harus tinggal di sana sampai tidak lagi menjadi ancaman bagi dirinya sendiri atau masyarakat. Putusan itu berarti ia berpotensi menghabiskan sisa hidupnya di institusi tersebut. Namun, tampaknya, Zahra mungkin akan segera dibebaskan secara permanen dari fasilitas mental.


Sahabatpoker Agen Domino99 Poker Online Bandarq Terbaik Di Asia


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KISAH NYATA , JIRAN AMOI

SAHABATPOKER  -  Sehari lepas kepulangan Maniam ke rumahnya, aku tak dengar apa-apa cerita tentang Devi lagi. Kebetulan pulak, keesokkan har...